Lompat ke isi utama
beberapa gambar aksesibilitas pemilu bagi difabel

Gambaran Aksesibilitas Pemilu Bagi Difabel di Cimahi

Solider.id, Cimahi – Bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilihan Umum (Pemilu), menyediakan aksesibilitas yang memadai merupakan sebuah kewajiban. Bukan semata untuk kelancaran proses kegiatan, melainkan untuk memfasilitasi seluruh pengguna hak suara yang hadir.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat, pelayanan khusus dalam pengayaan aksesibilitas pun terus ditingkatkan. Seiring dengan adanya sosialisasi bersama lapisan masyarakat, khususnya difabel telah membuahkan inovasi baru.

Seperti yang diupayakan KPU Kota Cimahi, menurut Koordinatornya Septiana, “Yang baru tersedia adalah template atau alat bantu untuk difabel netra,” katanya. Ia juga menerangkan, template ini pun sudah disosialisasikan kepada difabel netra dan petugas TPS setiap sosialisasi pemilu berlangsung.  

Inovasi lain yang turut mewarnai langkah menuju aksesibilitas dalam menyelenggarakan pemiluhan umum adalah simulasi yang direkam dalam bentuk video. Digagas oleh Perhimpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kota Bandung, video berdurasi kurang dari 30 menit ini patut untuk mulai diterapkan.

Meski dalam pengakuannya, Ketua HWDI Kota Bandung, Ratna menyadari simulasi dalam bentuk video tersebut masih banyak yang perlu diperbaiki. Untuk membenahinya, akan ditambahkan teks atau tulisan dan suara atau narasi. Keduanya akan membantu mengedukasi difabel Tuli dan Netra serta difabel lainnya seperti Autis, Grahita maupun pendamping difabel lainnya.

Dalam simulasi tersebut, dilakukan dokumentasi dari mulai tempat yang akses tanpa tangga atau hambatan lain di lokasi TPS. Tidak tertinggal pula, selain gambaran yang akses untuk difabel Netra, ada juga gambaran aksesibilitas yang diperlukan oleh difabel Tuli dan Daksa pengguna kursi roda.

Lengkap dengan prosesinya dari mulai memasuki ruangan, mendaftarkan diri, melangsungkan pencoblosan di bilik suara, hingga papan intruksi. Peletakkan kotak  suara yang sudah dicoblos, dan pendampingan bagi yang membutuhkannya secara lengkap dipaparkan dalam bentuk video tersebut.

Secara singkat gambaran video aksesibilitasnya sudah mencakup jenis kedifabelan yang ada di masyarakat secara umum. Selain templet yang sudah siap dipergunakan pemilih difabel Netra, yang baru terfasilitasi pihak penyelenggara secara menyeluruh. Gambaran akses untuk difabel Tuli dan pengguna kursi roda pun dibahasnya.

Sederhananya, untuk memudahkan komunikasi antara petugas dengan pemilih difabel Tuli, ketersediaan papan atau media tulisan sangat diperlukan. Misal saja, untuk memanggil nomor urut peserta pemilih yang kebetulan adalah difabel Tuli. Selain dipanggil dalam bentuk audio, papan atau media tulisan akan sangat membantu.

Sementara untuk pemilih yang berkursi roda, aksesibilitas tempat dan ruang gerak menjadi sorotan secara universal. Misalnya saja, diberikan ruang khusus di jajaran kursi tunggu agar pengguna kursi roda terlihat duduk sejajar dengan peserta kursi duduk. Memberikan celah masuk yang cukup diantara bilik suara. Ini memberikan kemudahan untuk pengguna kursi roda bergerak masuk menuju bilik suara.

Sementara untuk kotak suara ini sudah dirasa cukup tinggi bagi difabel khususnya Daksa dan pengguna kursi roda. Tidak perlu di tempatkan diatas meja lagi, cukup di lantai untuk memenuhi akses kemudahan.

Hal tersebut digambarkan dalam proses simulasinya. Selain persayatan aksesibel yang telah dibakukan seperti ukuran tinggi meja atau letak alat peraga di bilik suara. Secara utuh simulasi ini cukup akses untuk seluruh masyarakat peserta pemilu ketika berada di TPS.

Gambaran inovasi akses pemilu ini patut diuji coba pada pemilihan umum yang tinggal menghitung hari. Masyarakat Kota Bandng khususnya, serta warga Jawa Barat umumnya akan melakukan pemilihan umum pada 27 Juni mendatang.

Dengan terfasilitasinya proses pemilu, akan memudahkan masyarakat difabel khususnya untuk melaksanakan hal berpolitiknya. Karena satu suara dari peserta pemilih mampu menentukan keberlangsungan pemimpinnya, baik ditingakt Kota, Provinsi maupun Pusat.

Minimalisir Golongan Putih (Golput) yang disebabkan oleh kesulitan untuk mengakses lokasi maupun prosesi dalam pemilihan umum. Ini menjadi salah satu penyebab hak suara masyarakat difabel sangat kecil atau bahkan tidak tersuarakan. (Srikandi Syamsi)  

The subscriber's email address.