Lompat ke isi utama
Screenshot podcast channel "Blind Storm milik Eka Pratiwi

Podcast, Media Siaran Suara On Demand yang Bersahabat dengan Difabel Netra

Solider.id – Semarang Pesatnya laju teknologi turut berpengaruh pada cepatnya penyebaran informasi. Segala bentuk informasi baik berbentuk tulisan, video, maupun audio bisa dibagikan dengan hitungan detik hanya dengan sentuhan jari. Begitu banyak tempat publikasi informasi yang ditawarkan oleh internet. Salah satunya adalah podcast.

Dikutip dari Apple.com, Podcast adalah episode program yang tersedia di Internet. Podcast biasanya merupakan rekaman asli audio atau video, tetapi bisa juga merupakan rekaman siaran televisi atau program radio, kuliah, pertunjukan, atau acara lain. Podcast mulai dikenal seiring lahirnya iPod buatan Apple yang diperkenalkan oleh Steve Jobs pada tahun 2001. Istilah podcast merupakan akronim dari iPod broadcasting atau yang dalam Bahasa Indonesianya berarti siaran melalui iPod.

Umumnya, siaran podcast berbentuk suara saja. Seiring berjalannya waktu, kini juga banyak podcast berbentuk video. Podcast termasuk siaran suara on demand. Dengan kata lain, orang bisa mengatur sesuai kebutuhan kapan mereka akan mendengarkan siaran favorit mereka. Berbeda dengan radio konvensional, podcast ini bisa didengarkan sewaktu-waktu bahkan juga bisaa didownload melalui smartphone atau PC.

Di negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Australia, podcast sudah sangat popular. Sedangkan di Indonesia, trend podcast sedang mulai berkembang. Para podcaster memanfaatkan podcast sebagai ajang kampanye, berbagi audio tutorial, menceritakan kegiatan sehari-hari (personal journal), dan masih banyak lagi. Trend podcasting ini pun turut menggelitik difabel netra di Indonesia untuk turut meramaikan dunia podcasting.

 “Saya pertama kali kenal podcast dari iPhone. Waktu saya buka-buka menu, di situ ada aplikasi podcast. Kemudian saya coba lihat-lihat isinya ada Talkshow, tutorial, cerita, dan masih banyak lagi,” ungkap Ari Triono menceritakan perkenalannya dengan dunia podcasting.

 Menurut guru TIK salah satu sekolah luar biasa di Kota Semarang ini, podcast cukup aksesibel bagi difabel netra. Podcast ini bisa dijadikan sarana penyebaran informasi. Pada tahun 2016, Ari termotivasi untuk membuat podcast yang bertujuan untuk mengubah perspektif masyarakat.

“Masyarakat masih banyak yang belum mengerti apa itu difabel. Akibat dari ketidaktahuan itu berimbas pada pandangan rendah masyarakat kepada difabel,” tutur difabel netra asal Ungaran, jawa Tengah ini.

 Masih banyak anggapan kalau difabel itu orang sakit. Hal itu dilihat dari adanya persyaratan calon pekerja yang diharuskan sehat jasmani dan rohani. Sayangnya, difabel dikategorikan sebagai golongan masyarakat yang tidak sehat yang kemudian menyebabkan difabel itu terdiskriminasi haknya untuk mendapatkan pekerjaan.

Berawal dari itu semua, laki-laki yang hobi mendengarkan BBC Learning English ini tergerak untuk mengangkat tema tentang difabel dalam podcast perdananya. Awal pembuatan podcast, ia masih terkendala mencari nara sumber dan di mana ia harus hosting podcastnya. Di tahun 2016, Ari baru mengenal 1 tempat hosting podcast yaitu Sound Cloud. Waktu itu, platform ini hanya menyediakan kapasitas yang terbatas, hanya 2 jam. Sisanya, apabila ingin ruang lebih dari itu, harus berbayar. Bersama dengan berjalannya waktu, ia kemudian bertemu dengan satu platform unlimited, Anchor.fm dan mengunggah podcastnya di sana. Dalam podcast channelnya yang bertajuk Blind Zone di Sound Cloud, ia lebih membahas tentang isu difabel secara global. Sedangkan channelnya yang diberi nama Mata Ari di Anchor, dia membagikan informasi tentang teknologi untuk difabel netra.

Ari mengatakan pembuatan podcast itu cukup sederhana. Alat yang diperlukan antara lain recorder, laptop atau computer, software audio editing seperti Audacity, Gold Wave atau Adobe Audition. Jika tidak mempunyai laptop bisa memakai smartphone dan menginstal aplikasi Anchor. Dengan menggunakan Anchor, difabel netra cukup menyiapkan materi lalu merekam suara dengan aplikasi tersebut. Tanpa perlu diedit, sudah ada template suara yang bisa ditambahkan lalu bisa langsung diupload.

Podcaster difabel netra berikutnya adalah Eka Pratiwi Taufanti. Hobi mendengarkan radio sukses mendorong Eka menjadi podcaster di Indonesia.

“Aku kenal podcast dari akhir sma. Dulu, aku suka dengerin radio. Terus waktu kuliah, dosen-dosen mulai sering ngebahas tentang podcast dan mendorong untuk dengerin podcast,” kisah Eka.

Semasa kuliah, Eka lebih sering mendengarkan podcast tentang materi belajar. Kebiasaannya berubah semenjak akan berangkat ke Australia untuk mengikuti short course. Ia mulai Membiasakan diri mendengarkan podcast berbahasa Inggris aksen Australia. Tidak jauh berbeda dengan Ari, perempuan yang aktif di organisasi Pertuni Bangka Belitung ini juga memanfaatkan podcast sebagai media kampanye. Selain mengkampanyekan tentang isu difabel, Eka juga membuat podcast yang berisikan tentang sosialisasi kesehatan reproduksi bagi difabel netra, aktivitas sehari-harinya, serta pembelajaran Bahasa Inggris yang dikelolanya secara mandiri.

“Paska mengikuti program short course dari Australia Awards, aku ditantang jadi MC di acara post coursenya. Ternyata, mereka suka. Lalu, Bu Michelle, tim dari AAS suruh aku bikin podcast tentang difabel,” jelasnya.

Eka menuturkan kalau ia belum pernah mendengarkan orang kampanye lewat podcast di Indonesia sebelumnya. Berangkat dari itu, ia tergerak menjadi perintis podcaster netra di Indonesia.

Menurutnya, podcast lebih bersahabat dengan difabel netra. Podcaster lebih berfokus kepada pendengar sehingga mereka lebih mendeskripsikan  pembahasannya secara terperinci.

Terkait dengan audio pembelajaran Bahasa inggris yang ia buat, Eka menjelaskan kalau itu ditujukannya kepada difabel netra dan masyarakat umum.

“Aku tipe orang yang suka ngomong dan suka banget ngajar. Jadi aku berbagi suatu yang berkaitan dengan ngajar. Karena yang aku kuasai Bahasa Inggris, jadi aku berbagi tentang pembelajaran Bahasa Inggris,” katanya.

 Harapannya dengan podcast yang ia buat, temen-temen difabel netra jadi bisa Bahasa Inggris. Sekarang ini banyak konferensi yang menggunakan Bahasa Inggris seperti Global IT Challenge yang kemarin diselenggarakan di Indonesia. Di samping itu, tutorial yang ada diinternet juga banyak yang berbahasa Inggris, sehingga Eka berharap difabel netra bisa mengakses lebih banyak informasi. Di sisi lain, ia juga pernah mendengarkan keluhan difabel netra menghadapi kesulitan ketika mau les Bahasa inggris karena takut ditolak. Oleh karena itu, dia menyediakan podcast pembelajaran berbahasa Inggris gratis.

Perempuan yang hobi sekali mendengarkan podcast ini merekomendasikan Gold Wave sebagai software editing audio karena tidak terlalu rumit untuk digunakan oleh difabel netra.

Seorang difabel netra yang juga podcaster pemula, Ahmad Syarif turut memanfaatkan podcast untuk berbagi ilmu serta menyalurkan bakatnya mengedit audio. Pemilik Future Project channel ini membagikan pengetahuannya di bidang teknologi bagi difabel netra melalui podcast awal tahun 2018. Jika kedua podcaster sebelumnya hanya menggunakan fitur rekaman suara yang ada di handphone, Syarif lebih memilih menggunakan aplikasi tambahan yang disebut Womic yang berfungsi mengubah handphone menjadi microphone eksternal.

“Saya memilih menggunakan Womic karena suaranya lebih jernih dan jelas,” ungkap laki-laki yang juga seorang youtuber ini.

Selain menggunakan suaranya sendiri, difabel netra yang juga berprofesi sebagai pendidik di bidang teknologi ini juga mengikutsertakan pembaca layar untuk meramaikan podcastnya. Ia memilih menggunakan pembaca layer di laptop (JAWS atau NVDA) untuk membaca artikel yang Panjang atau sebagai variasi suara saja. Perekaman suara screen reader tersebut dilakukannya dengan memakai software Audacity atau Gold Wave.

Setali tiga uang dengan Ari dan Eka, sekretaris DPD Pertuni Sulawesi Selatan ini juga merekomendasikan bagi difabel netra yang ingin berkecimpung di dunia podcasting untuk menggunakan Anchor.fm sebagai media hosting podcast mereka. Platform ini termasuk platform yang all in one. Selain aksesibel dengan pembaca layar baik di komputer maupun smartphone, Anchor juga dapat menghubungkan podcast yang mereka buat ke platform yang lain seperti iTunes, Pocket cast, dan Spotify. Anchor akan mendistribusikan podcast yang dibuat ke platform-platform lain sesuai persetujuan penggunanya.

Teknologi menyediakan kemudahan berbagi informasi dalam bentuk apapun. Positif atau negatif dampak dari keberadaan teknologi tersebut tergantung kepada penggunanya. Jika memang dengan podcast kampanye kesetaraan hak difabel dicapai, mengapa pengguna tidak memanfaatkannya sebaik mungkin?

“Saatnya difabel jadi agent of change. Berperan dalam perubahan tidak harus dengan melakukan hal yang besar. Hal itu bisa diawali dengan hal kecil seperti memberikan informasi tentang difabel dan kebutuhannya. Dengan begitu, perubahan bisa terjadi, stereotip buruk tentang difabel bisa menghilang,” papar Ari Triono diakhir wawancara. (Agus Sri)

The subscriber's email address.