Lompat ke isi utama
Rina Prasarani, sosok inspiratif difabel

Rina Prasarani Buktikan Difabel Netra Bisa Bekerja di Sektor Formal

Solider.id-Semarang Hak setiap warga negara Indonesia  untuk dapat memperoleh pekerjaan yang layak telah diatur di UUD 1945. Namun, realitanya difabel  masih terdiskriminasi dalam hal kesempatan pekerjaan khususnya di sektor formal.
Meskipun undang-undang yang mengatur hak-hak difabel di Indonesia telah disyahkan, faktanya UU tersebut belum terimplementasi secara maksimal. Kalau pun ada lowongan pekerjaan bagi difabel, belum sepenuhnya menjangkau seluruh jenis difabel. Seperti difabel netra, mereka  masih banyak terabaikan dari sisi pemenuhan hak pekerjaannya.

Entah pemahaman seperti apa yang masih bersarang di benak kebanyakan masyarakat Indonesia sehingga orang dengan hambatan penglihatan masih harus menghadapi sempitnya kesempatan kerja. Beberapa kasus menunjukkan penolakan kerja yang dialami oleh difabel netra. Hal ini  lebih disebabkan karena hambatan penglihatannya saja, tanpa melakukan uji kemampuan. Dalam hal ini, Rina Prasarani, seorang difabel netra yang bekerja di salah satu hotal bintang lima Kawasan Kuningan Jakarta mencoba mendobrak stigma negatif tentang difabel netra yang masih melekat dalam pemikiran masyarakat.

“Setiap difabel netra memiliki karakternya sendiri, sebenarnya lingkunganlah yang harus menyesuaikan dengan difabel itu,” ungkap Rina prasarani melalui pesan suara kepada Solider.

Walaupun pada awalnya, Ina, panggilan akrabnya harus bertarung dengan segala hambatan yang dihadapinya di tempat kerjanya, kini Rina telah dianugrahi sebagai karyawan terbaik yang menginspirasi dari manajemen hotel tempat ia bekerja dan Leadership Awards dari manajemen Melia Hotel International lingkup Asia Pasifik.

Karir pekerjaannya dimulai pada tahun 2004, saat adanya program CSR (Corporate Social Responsibility) dari Hotel Grand Melia Jakarta yang ingin merekrut difabel netra untuk bekerja di hotel itu sebagai operator telepon. Perempuan yang juga alumni dari STEKPI (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan dan Perbankan) ini waktu itu masih menjadi pelajar di Yayasan Mitra Netra. Dari 3 kandidat yang direkomendasikan, Rina lah yang lolos seleksi. Perempuan yang juga aktivis difabel ini mengaku tidak mudah bekerja di hotel bintang lima. Selain harus naik turun bus dan angkutan umum setiap harinya, Rina juga harus berperang menaklukkan  tidak aksesibelnya fasilitas kerja kala itu. 

“Tidak ada fasilitas khusus untuk tunanetra. Komputer hotel tidak bisa sembarang diinstal software,” tuturnya.  

Tiga bulan pertama ia nyaris keluar. Pasalnya, Rina belum pernah bekerja sebelumnya sehingga ia tidak tahu apa yang harus ia kerjakan. Ia sempat merasa kurang produktif karena merepotkan pegawai lain. Setiap harinya, ia bekerja tandem dengan didampingi rekan kerjanya. Ia meminta dibantu di beri kode jika ada telepon masuk. Karena harus menggunakan sapaan yang berbeda, rekan kerjanya memberikan tanda satu ketukan untuk telepon dari pihak hotel dan dua ketukan bagi telepon yang masuk dari luar. Lama kelamaan, Rina bisa mengenali apakah itu telepon dari luar atau dalam. Hal itu terjadi kurang lebih selama 6 bulan. Kemudian, sewaktu ada perekrutan pegawai baru, di saat itulah ia bertemu dengan seseorang yang bisa menjadikan komputer itu dapat terinstal pembaca layar.

Seberapa besar tantangan yang muncul, Rina bertekad untuk menjinakkannya. Di samping termotivasi oleh anak, Rina juga ingin membuat orangtuanya tenang dan bangga meskipun ia memiliki hambatan penglihatan ia mampu bekerja selayaknya orang non-difabel.

Banyak hal yang  harus difahamkan terkait dengan difabilitas khususnya difabel netra. Tidak semua hal bisa menjadi seperti yang kita mau. Kondisi berbeda yang dimiliki dan lingkungan yang kurang mendukung harus diselaraskan sampai dapat muncul kepercayaan terhadap difabel tersebut bahwa mereka bisa bekerja secara professional.

Selang beberapa waktu, Rina dipindahkan dari bagian operator telepon ke Human Resource Development (HRD) untuk mengajar Bahasa Inggris. Berikutnya, ia sempat juga ditempatkan di bagian red glove line, guess service dan sempat pula kembali ke operator telepon.

 Sebagai hadiah dari kegigihan perempuan asal Bandung ini, ia mendapatkan penghargaan-penghargaan sebagai karyawan inspirasional serta diberi kesempatan berkunjung ke Palma de Mallorca Spanyol untuk bertemu pendiri hotel tempatnya bekerja. Rina mendapatkan sambutan khusus dari sang pemilik hotel dan diperkenalkan sebagai karyawan terbaik dengan segala pencapaiannya.

Berdasar pengalamannya bekerja selama kurang lebih 14 tahun di hotel berbintang lima, Rina memberikan semangat untuk difabel netra di Indonesia. Meskipun Indonesia telah mempunyai undang-undang tentang difabilitas, implementasinya belum terlaksana secara maksimal. Perempuan yang pernah menjabat sebagai Sekjen World Blind Union ini menyampaikan agar difabel netra tidak perlu ragu untuk melamar kerja di mana pun meskipun tidak tertera “terbuka untuk difabel”.

“Semakin banyak difabel netra yang mencoba, orang akan semakin peduli,” jelasnya.

Di sisi lain, difabel netra harus banyak belajar terbuka, menerima banyak masukan. Egoisme atau idealisme sebagai aktivis harus dikonversi dengan cara yang berbeda. Idealism tanpa adanya modifikasi itu akan mencerminkan bahwa difabel netra itu sombong. Alhasil, masyarakat akan berpikir difabel netra itu tidak mau berkembang.

Perempuan yang pernah belajar di Flinders University ini juga menyampaikan harapannya kepada masyarakat luas agar dapat menerima keberadaan difabel netra dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki. Menurutnya, masyarakatlah yang menentukan tingkat tinggi rendahnya kedifabilitasan seseorang. Sehebat apapun difabel netra jika lingkungan tidak mendukung, maka gerak difabel netra semakin sempit. Tetapi, apabila lingkungan mendukung, tanpa fasilitas pun difabel dapat berdaya.

Perempuan yang juga pernah masuk dalam kepengurusan DPP Pertuni (Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia) ini mengatakan bahwa ia belajar banyak dari pengalaman. Di Setiap kali menghadiri pertemuan internasional, ia mempelajari aksesibilitas yang disediakan bagi difabel di tiap-tiap negara. Di luar negeri sudah mulai proses perpindahan dari charity based ke rights based. Diharapkan Indonesia juga segera beralih seperti negara-negara lain.

Ia berpendapat bahwa difabel netra tidak harus selalu dikembangkan sebagai pemijat.

“Teman-teman di bawah binaan pijat tidak semua ingin menjadi tukang pijat. Ada yang ingin punya perusahaan sendiri  atau ahli komputer,  seharusnya bisa ditangani secara professional, paparnya.

Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah bagaimana caranya mengubah lngkungan dan tokoh Pendidikan supaya mereka bisa memberdayakan difabel netra.

Profesionalisme yang diterapkan Rina dalam bekerja, sukses mengikis stigma negatif masyarakat di lingkungan kerjanya terhadap difabel netra.

“Profesional bukan berarti tidak boleh salah. Jangan terpaku pada kesalahan. Rasa malu ataupun sedih itu boleh, tetapi kesalahan tidak untuk diulang,” ujarnya memotivasi.

Ia berpesan kepada perusahaan-perusahaan yang masih ragu mempekerjakan difabel netra bisa  mempertimbangkan benefit yang bisa mereka peroleh antara lain perusahaan mendapat rewards. Dengan kata lain, perusahaan tersebut akan mendapatkan penilaian plus karena bisa menerima pekerja difabel. Selanjutnya, karyawan yang non-difabel bisa belajar dengan pekerja yang memiliki keterbatasan penglihatan. Dengan demikian, karyawan non-difabel bisa lebih menghargai perbedaan yang ada di antara mereka.

Pada akhir wawancara, melalui Solider Rina memberikan semangat kepada difabel netra yang ada di Indonesia.

“Kita itu terlahir difabel bukan pilihan. Tapi kita bisa memilih jadi difabel happy atau yangmenggerutu terus. Jika memilih menjadi difabel happy, maka pikiran kita lebih jernih. Kerjakan segala hal dari hati, kerjakan dengan sungguh-sungguh. Tunanetra harus punya makna minimal untuk dirinya sendiri.” (Agus Sri)

The subscriber's email address.