Lompat ke isi utama
Yovin bersama masyarakat

Yovin Dainty: Daur Ulang Sampah untuk Menjaga Lingkungan

Solider.id, Yogyakarta- Dengan posisi tengkurap di ranjang pada kesehariannya tidak membuatnya ketinggalan informasi. Tidak pula menghentikan niatnya terlibat dalam memberi warna dan perubahan pada dunia di sekelilingnya.

Ia memiliki inisiatif untuk memanfaatkan kertas yang kemudian ia warnai. Kertas-kertas bekas itu dikumpulkan dan dibuat origami itu menjadi caranya menyelamatkan lingkungan, mengurangi populasi sampah kertas. Ia tidak ingin barang yang sudah tidak terpakai, dibuang begitu saja dan berdampak buruk bagi lingkungan.

Menurutnya, banyak orang yang memproduksi sampah, tetapi tidak banyak yang mau mengurangi sampah. “Aku membuat origami dari kertas-kertas yang sudah selesai  saya warnai. Agar tidak mengotori dan menambah tumpukan sampah, maka aku buat origami dan aku simpan,” ungkapnya saat kunjungan Solider ke rumahnya jauh hari sebelumnya, Sabtu (17/2).

Tentang air bersih, ia memiliki cara pandang sendiri. Berkurangnya air bersih, diakibatkan oleh ulah manusia yang merusak alam dan tidak mencintai lingkungan. “Mengapa kita kekurangan air bersih? Karena kita mencemari sungai. Kalau sungai bersih, mendapatkan air bersih tentu tidak terlalu sulit,” terbata-bata ia menyampaikan pemikirannya.

Selayang Pandang

Ia anak kedua dari tiga bersaudara yang kesemuanya perempuan. Kedua orangtuanya sudah lebih dulu berpulang menghadap Sang Pencipta.  Ia dan kakaknya datang dari Jakarta ke Jogja untuk mendapatkan terapi dari Pusat Rehabilitas Yakkum (PRY). Ia tinggal di Siliran Kidul No. 25, Yogyakarta.

Ervina, ialah kakaknya. Satu-satunya keluarga yang dimiliknya dan mendampinginya. Apabila kakaknya harus bekerja, ia dipercayakan kepada seorang asisten bernama Ari.

Telepon genggam adalah satu-satunya teman setia dalam kesendiriannya.  Dengan telepon genggamnya, ia mengikuti perkembangan informasi dunia. Di samping itu waktunya digunakan untuk mewarnai sketsa gambar, membuat origami dari kertas-kertas.

Senin (21/5), merupakan hari ulang tahunnya ke 37. Ia merayakan bertambah usianya bersama anak-anak Panti Asuhan Bina Siwi, Pajangan Bantul. Ia seorang perempuan dengan Cerebral Palsy (CP). Ia bernama Yovin Dainty (37).

Hari itu, ia mengatakan telah menyelesaikan video pertamanya tentang budaya dan pentingnya mencintai budaya menurut sudut pandangnya. Sebuah video yang murni lahir dari idenya. Baginya,  budaya adalah jati diri bangsa. Untuk itu semestinya setiap individu mencintai budayanya masing-masing.

Selai video, ia juga menulis sebuah puisi berjudul Inilah Aku Apa Adanya sebagai ungkap syukur kepada Sang Pencipta atas hidup yang diterimanya. Berikut bait puisinya:

Walaupun tidak bisa berjalan, tetapi aku percaya, bahagia dari hati bukan dari fisik.

Aku selalu jujur kepada siapa pun tentang keadaanku.

Aku selalu bicara sesuai dengan hati.

Bagiku kejujuran dan ketulusan hati melebihi permata seluruh dunia ini.

Terima kasih Tuhan atas semua berkah kesehatan dan hidup yang penuh dengan cinta.

Ia senantiasa berbagi kebahagiaan di lingkungan panti. Menanam sayur-sayuran bersama anak-anak panti menjadi agenda pertamanya. Ada terung, sawi, kacang hijau, cabe dan beberapa sayuran lainnya. Di hari ulang tahunnya ini, ia sekaligus mengadakan buka bersama.

Petang itu, melantun lagu selamat ulang tahun yang dipopuerkan oleh Zamrud, dinyanyikan anak-anak panti, menambah kemeriahan acara ulang tahunnya.

Cerebral Palsy menghampiri

Kelayuan otak atau yang biasa disebut dengan Cerebral Palsy (CP) tipe berat dialaminya sebelum dua tahun usianya. Kondisi itu berakibat pada kekakuan otot kaki, punggung dan lehernya yang cenderung melengkung ke belakang.

Waktu itu, ia menghabiskan waktunya di tempat tidur. Segala aktivitas untuk berpindah tempat dilakukannya dengan bantuan orang lain. Alat bantu kursi roda menjadi bagian tubuhnya dalam bermobilitas.

Yovin juga mengaku tidak pernah merasa menjadi seorang yang lemah. Gadis berkulit putih, dengan kepala nyaris tanpa rambut itu justru sebaliknya. Ia sangat percaya diri dan tidak menutupi kekurangannya. Ia tidak bisa pergi kemanapun tanpa bantuan orang lain. Tubuhnya terperangkap di tempat tidur. Namun tidak dengan fungsi otaknya yang masih dapat berpikir di luar kebanyakan orang lain. Thinking out of the box, itulah Yovin.

Selamatkan lingkungan

Bicara tentang difabel, baginya bukanlah melulu orang yang tidak tahu apa-apa. Yovin menunjukkan bahwa dirinya bisa berkontribusi positif. “Salah, jika orang bilang hanya di ranjang itu pasti tidak bisa apa-apa. Jangan memandang kami sebelah mata” ungkapnya.

Yovin menghimbau agar setiap orang mau mendaur ulang bahan bekas. “Dari bahan bekas jika kita bisa mendaur ulang, maka bisa bernilai ekonomi,” terangnya. Bahan bekas tersebut dapat memberikan manfaat bagi manusia, bukan menjadi limbah yang menambah masalah. Apa saja yang ada di rumah, bisa dimanfaatkan. Seperti busa, misalnya atau kertas-kertas yang tidak terpakai.

Yovin tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Ketika itu, sang ibu memanggil guru untuk mengajarkannya membaca dan menulis. Ibunya juga sering kali membelikan buku-buku cerita rakyat. Dari sana ia belajar banyak tentang budaya, kehidupan, kebaikan, kejujuran, dan ilmu pengetahuan lainnya.

Hidup Yovin bahagia tanpa pernah meratapi kekurangannya. Ia bahkan merasa dirinya sempurna. Ia selalu mengingat jasa ibunya yang selalu menyemangati dan tak pernah menganggap kekurangannya menjadi suatu kendala besar bagi hidupnya.

Ia mengaku tidak menampik bahwa hidup sangatlah berat, tetapi kembali pada keyakinan setiap orang. Jika percaya pada diri sendiri bahwa bisa melampaui segala rintangan tersebut maka tak ada yang berat.

“Toh kupu-kupu pun harus berjuang keluar dari kepompongnya untuk menjadi indah,” tutup Yovin. [Harta Nining Wijaya]

The subscriber's email address.