Lompat ke isi utama
Meillisa Trisetya Arum sedang menggunakan bahasa isyarat

Meillisa Trisetya Arum: Belajar Bahasa Isyarat Itu Mudah

Solider.id, Tuban- Ia terlihat lincah ketika menggerakkan kedua tangannya di hadapan teman-teman Tuli. Gerakan tangannya membentuk sebuah pola tertentu. Teman-teman Tuli di hadapannya, seolah mengerti dan paham dari gerakan tangannya.

Ia terlihat lincah menggerakkan kedua tangannya menerjemahkan bahasa umum dari seorang pemateri di sebuah lokakarya. Ia menerjemahkannya ke bahasa isyarat atau sering disebut bahasa ibu, bahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi dengan Tuli.

Ia seorang perempuan yang dikenal sebagai figur yang hobi menggambar. Pada suatu kesempatan, perempuan bernama Meillisa Trisetya Arum menceritakan awal mula ketertarikannya menjadi penerjemah bahasa isyarat. Waktu itu, ia merasa tidak sengaja, ketika saat Mahasiswa Baru (Maba) satu kelas dengan Yohana X-FACTOR. Ia membawa salah satu pendamping dari Pusat Study Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya Malang.

“Dari perkenalan itulah mulai tertarik,” tutur perempuan yang juga hobi baca komik ini. “Saat perkulihan selesai mereka sering berkunjung ke PSLD, di sana banyak ketemu teman tuli dan itu membuat saya kepo,” lanjutnya. Dari sana tahap ke tahap mulai belajar bahasa isyarat dengan sering berkumpul teman tuli dan juga mengikuti beberapa kelas bahasa isyarat.

Perempuan yang akrab di sapa Arum ini merupakan mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas ilmu budaya Universitas Brawijaya Malang. Ia meresakan kalau sekarang sudah menemukan passionnya dengan menjadi Juru Bahasa Isyarat (JBI).

“Berawal dari keisengan yang tentunya membutuhkan proses dari mulai belajar abjad hingga yang lain,” kata Arum. Ia juga menjelaskan kalau di dalam menerjemahkan bahasa isyarat juga terdapat kode etik seperti, apabila teman dengar ingin bisa bahasa isyarat maka ia tidak boleh belajar dengan JBI. Tetapi harus belajar dengan komunitas tuli itu sendiri.

“Sebab JBI hanya bertugas sebagai perantara komunikasi bukan sebagai pengajar,” terangnya. Selain itu ketika sedang melaksanakan tugas, seorang JBI dihimbau untuk tidak memakai pakaian yang berwarna mencolok. Namun hendaklah memakai pakaian dengan warna kalem. “Sebab warna mencolok di sinyalir dapat memecah konsentrasi teman Tuli tersebut,” ujar dara kelahiran Malang, 25 Mei 1995 ini.

Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika ia dapat menjadi juru bahasa isyarat untuk Rachmita Harahap dan juga Surya Sahetapy. Pasalnya, keduanya merupakan figur aktivis difabel tuli yang menurutnya luar biasa.

Ia tak menyangka bisa menjadi JBI untuk mereka. Arum telah berhasil menunjukan bahwa belajar bahasa isyarat adalah bukan sesuatu yang sulit. Menurutnya asal seseorang sabar dan telaten. Selain itu, ia dapat mengenal lebih dekat berbagai macam difabel yang baginya orang-orang terpilih dan juga luar biasa.

Bagi pemula yang ingin belajar bahasa isyarat perlu mengenal terlebih dahulu abjad. Ia mengaku hanya belajar sehari untuk bisa mengahfal abjad dasar bahasa isyarat. Tetapi, hal itu tidak terlepas dari intensitas dalam belajar. Menurut Arum, di akar tuli Malang sendiri ada sesi di mana relawan dilatih untuk bisa bahasa isyarat sesuai target.

“Misal, satu minggu pertama belajar merangkai kata. Minggu berikutnya belajar menghafal dan lain-lain,” tulisanya dalam pesan WhatApps kepada Solider. “Intinya belajar bahasa isyarat itu harus sering di praktekan dengan begitu akan menjadi mudah. Namun kalau jarang dipraktekan justru jadi sebaliknya,” lanjutnya.

Arum juga berbagi sedikit tips dan trik belajar bahasa isyarat agar cepat bisa yaitu, mulai dari cara yang paling jitu. Seorang biasakan sesering mungkin berinteraksi dengan teman-teman tuli itu sendiri, karena dengan begitu menjadi lebih efektif dan efisien mengimplementasikan ilmunya.

Dari keterampilannya menggunakan bahasa isyarat tidak terlepas dari peran komunitas Akar Tuli yang mulai bergabung sejak 2017 lalu. Ketika waktu itu Akar Tuli sedang melakukan rekrutmen relawan. Baginya, menjadi relawan bagi Tuli mempunyai tanggungjawab untuk bisa menjadi jembatan komunikasi antara teman tuli dan teman dengar.

Sebab menurut Arum, komunikasi dan interaksi itu sangat penting untuk kehidupan sehari-hari, tak terkecuali untuk teman Tuli. Selain itu, ia juga bisa mensosialisasikan bahasa isyarat kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap Tuli. “Karena seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang,” tutupnya. [Fira Merenda Asa]

The subscriber's email address.