Lompat ke isi utama
ilutrasi geraka literasi difabel netra

Gerakan Literasi Difabel Netra, Gerakan Kaum Muda Berdaya

Solider.id, Yogyakarta - Dalam artikelnya yang berjudul “Gerakan Literasi Sebagai Platform ‘Gaya Warga Berdaya’ Kaum Muda”, David Efendi, Ketua Serikat Taman Pustaka sekaligus warga Simpul Pustaka Bergerak Indonesia menulis tentang gerakan literasi yang sudah mulai dinahkodai dan diasuh oleh masyarakat, tidak melulu oleh pemerintah. Cak David, panggilan akrabnya, menulis bahwa penyebab gerakan literasi menjadi endemik pada beberapa tahun terakhir disebabkan karena jiwa anak muda yang memiliki independensi, otonomi, dan karakter berdaya di dalamnya.

“Gerakan literasi sebagai platform baru kaum muda berdaya telah merambah satu pemaknaan baru, bahwa gerakan literasi adalah segala sesuatu pergerakan menyangkut kehidupan manusia dan semesta raya di dalamnya. Jadi saya sangat setuju, gerakan literasi itu tak pernah hanya soal buku dan rak buku serta ajakan membaca dan menulis saja,” begitu ia tulis.

Menurutnya, setiap detik, setiap waktu orang-orang melihat kabar pustaka di seluruh penjuru Indonesia. Anak-anak muda, guru, murid, sukarelawan, mereka merayakan pengetahuan ke jalanan, membuka ruang-ruang diskursus pengetahuan. Ada ribuan yang terlibat menggerakkan literasi itu dari berbagai komunitas: pustaka bergerak, forum taman baca, serikat taman pustaka, rumah baca, dan sebagaianya.

Geliat pergerakan literasi juga dirasakan oleh difabel netra, dari skala kecil sampai skala besar. Meski perbandingan terhadap akses literasi yang didapat masyarakat awas masih besar, pergerakan literasi yang terus bertumbuh adalah hal yang patut disyukuri dan ditingkatkan.

Contoh gerakan literasi yang cukup masif berjalan adalah gerakan seribu buku untuk difabel netra yang digaungkan oleh Yayasan Mitra Netra sejak tahun 2006. Gerakan ini memang berpijak pada minimnya ketersediaan literasi bagi difabel netra di Indonesia. Apa yang dilakukan oleh Mitra Netra pantas disebut sebagai sebuah gerakan masyarakat karena mereka menggandeng masyarakat luas yang mau berpartisipasi sebagai relawan pengetik ulang buku-buku populer. Data buku yang sudah diketik ulang kemudian dihimpun serta diolah menjadi file berformat Braille yang kemudian dicetak ke buku Braille atau didistribusikan melalui perpustakaan daring pada laman Pustaka Digital Mitra Netra.

Medio 2015an ke atas ditandai dengan gerakan kerelawanan yang menjamur di mana-mana. Hal ini juga dimanfaatkan oleh Braille’iant Indonesia untuk ikut dalam arus gerakan literasi bagi difabel netra. Komunitas ini mengeluarkan sebuah gerakan Audio Book Massal yang pertama dilakukan pada tahun 2015. Bertepatan pada agenda Sumpah Pemuda kala itu, sebanyak 87 relawan dari seluruh Indonesia serta beberapa relawan dari luar negeri merekam cerita pendek dan disebarkan ke yayasan difabel netra yang ada di Yogykarta.

Taufik, salah satu siswa difabel netra di asrama Yaketunis Yogyakarta menuturkan manfaat langsung dari adanya gerakan literasi ini.

“Sebelumnya pilihan membaca buku atau cerita tidak terlalu banyak. Koleksi buku yang ada di perpustakaan yayasan juga itu-itu saja. Gerakan ini memberikan akses bagi saya untuk bisa menikmati bacaan-bacaan yang bervariasi,” ujarnya.

Gerakan dari Braille’iant ini sejalan dengan apa yang disebut Cak David dengan gerakan yang tumbuh dari bawah. Bagi Cak David, gerakan literasi tidak selamanya hanya mengandalkan dari negara saja karena pergerakannya pasti akan lambat.

Gerakan lain yang mulai tumbuh adalah mulai dilengkapinya bacaan-bacaan Braille di Rumah Baca Kauman di Banjarnegara. Rumah baca yang kerap disingkat menjadi RBK ini adalah sebuah inisiatif sosial yang diusahakan oleh Riza Azzumarridha Azra, pegiat isu sosial di Banjarnegara.

“Awal mula RBK memang ditujukan untuk pengembangan literasi non difabel. Kami awalnya belum terpikir untuk menyediakan akses yang setara bagi difabel terutama difabel netra,” ujar Riza.

Karena RBK juga sering digunakan sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara (FKDB), Riza mulai terpikirkan untuk menyediakan akses buku bacaan Braille.

“Para difabel netra yang sering datang ke RBK rata-rata belum memiliki HP android untuk bisa mengakses e-book yang ada di internet, makanya pilihan kami ya mengusahakan buku-buku Braille. Kami dibantu oleh Pertuni Banjarnegara yang menitipkan koleksi buku serta Alquran Braillenya di sini,” terangnya.

Riza mengaku masih memiliki rencana untuk terus melengkapi koleksi buku baik dalam versi Braille maupun dalam versi digital.

“Saya masih mencari donatur untuk komputer yang bisa diakses oleh teman-teman difabel netra yang berkunjung ke perpus ini. Di sini juga ruangannya tidak dibedakan, jadi berbaur dengan semuanya untuk mewujudkan lingkunga yang inklusi,” ujarnya sambil tersenyum.

Era digital saat ini juga semakin memudahkan difabel netra dalam merayakan kemudahan literasi. Portal-portal internet seperti Soundcloud sudah banyak yang berisi buku-buku yang dinarasikan. Selain itu, ada pula aplikasi listeno yang menyediakan buku yang bisa didengar. Rata-rata, yang ada di Soundcloud maupun Listeno bersifat universal design karena memang diciptakan tidak khusus hanya untuk kepentingan difabel netra namun juga untuk kepentingan alternatif media literasi.

Gerakan-gerakan literasi bagi difabel netra itu terus bertumbuh seiring dengan kemudahan digital dan kesadaran akan kesetaraan hak literasi bagi semua masyarakat Indonesia. Dan hal inii akhirnya sesuai dengan apa yang diyakini Cak David dalam penggalan tulisaanya seperti ini: “Dan ekspresi keberdayaan ini menjadi sebuah gaya—gaya warga progresif yang mengikuti jejak-jejak kaum pejuang literasi pendahulunya yang mengimani bahwa kerja literasi adalah bekerja untuk keabadian.” [Yuhda]          

The subscriber's email address.