Lompat ke isi utama
Salah satu produk sendal Bina Siwi

Sandal Produk Difabel Panti Bina Siwi Merambah Hotel Berbintang

Solider.id.Bantul. Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kota tujuan wisata. Hal tersebut berpengaruh terhadap pertumbuhan hotel di Yogya. Dari hotel bintang satu hingga bintang lima dapat dengan mudah dijumpai. Hal ini membuat Yogyakarta memiliki potensi luar biasa untuk mengembangkan produk difabel berbentuk usaha sandal spon atau sandal hotel.

Panti Asuhan Bina Siwi, yang berada di Pajangan, Bantul salah satu yang menjadi pemasok sandal spon atau yang biasa disebut sandal hotel tersebut. Sandal hotel diberi label “Slipper”, dikerjakan oleh para difabel penghuni panti dengan bimbingan para pengurus.

Sandal hotel, menjadi salah satu fasilitas yang diberikan bagi pengguna jasa penginapan atau hotel. Sandal tipis dari bahan spon yang ringan berbentuk selop itu simpel dan praktis, serta terkesan santai.

Meskipun terlihat sederhana atau simpel, namun kebanyakan tamu hotel lebih suka menggunakan sandal spon tersebut untuk beraktivitas santai di sekitar penginapan. Terlebih, sandal spon memang menjadi fasilitas sekali pakai untuk tamu hotel. Sehingga meskipun sederhana namun tetap eksklusif.

Ruang Pasar

Tiga hotel berbintang yaitu Pesona Hotel, Horison Ultima Riss, dan Ross In, sudah selama dua tahun terakhir mempercayakan sandal spon produksi para difabel Panti Bina Siwi. Sebuah pasar keberpihakan, jika boleh dibilang demikian telah dibuka oleh tiga hotel tersebut terhadap produk para difabel.

Menurut Supriyanto, salah seorang pendamping di Panti Asuhan Bina Siwi, setiap bulannya berkisar 1.000 sampai dengan 1.500 sandal yang dipasok ke tiga hotel tersebut.

Jumlah tersebut tentu masih sangat sedikit di bawah permintaan hotel, kata Supriyanto. “Memang hasil produksi anak-anak kami masih sangat minim. Mereka memang tidak bisa dibebani target. Di tengah keterbatasan, mereka mampu berkarya dengan bahagia, itu juga menjadi kebahagiaan bagi kami para pengurus panti,” ujarnya kepada Solider, Senin (21/5).

Sebenarnya masih ada hotel lain yang juga sesekali memesan sandal eksklusif tersebut dari Panti Asuhan Bina Siwi. Namun yang betul-betul rutin baru dilakukan oleh tiga hotel tersebut.

“Kami menyadari, itulah hukum alam yang diberlakukan, tukaJika pesanan semakin banyak, anak-anak kami pasti tidak bisa memenuhi. Jadi, yang kami syukuri ialah keterbukaan dari hotel-hotel yang telah mempercayai kami. Yang telah berpihak dan membuka pasar buat produk para difabel penghuni panti,” lanjut Supriyanto.

Perilaku inklusif

Bagi Supriyanto, keterbukaan ketiga hotel tersebut merupakan bentuk implementasi perilaku inklusif. “Semoga dapat diikuti oleh haotel-hotel lain. Peduli, mengapresiasi, dan membangun keberpihakan terhadap produksi para difabel,” harap Supri.

Inklusi yang sesungguhnya adalah bersikap memberikan peluang dan kesempatan. Tidak harus banyak berteori menurut Supriyanto. “Tetapi bertindak dan beraksi nyata dalam menerima karya atau produksi para difabel, itulah perilaku inklusif,” ujar Supriyanto mengakhiri perbincangan dengan Solider. [Harta Nining Wijaya]

The subscriber's email address.