Lompat ke isi utama
ilustrasi ragam kerja difabel

Ragam Kerja Difabel dan Kerentanan Ekonomi Difabel

Solider.id, Yogyakarta- Berbagai kajian menunjukkan kaitan antara difabel, ekonomi dan kemiskinan. Kaitan tersebut bahkan sudah bersifat kausalitas. Difabel berdampak pada kemiskinan begitu juga sebaliknya, kemiskinan bisa menyebabkan seseorang menjadi difabel.

Kompleksitas kemiskinan tersebut disebabkan oleh hambatan difabel hampir di setiap konteks budaya, salah satunya pekerjaan. Hal inilah yang membuat difabel sangat rentan menjadi miskin.

Mengurai kompleksitas kerentanan difabel terhadap kemiskinan tersebut, berbagai faktor kemudian dilihat keterkaitannya terhadap kerentanan difabel. Pada pendahuluan buku Hidup dalam Kerentanan: Narasi Kecil Keluarga Difabel, salah satu faktor kerentanan yang berkontribusi terhadap kemiskinan difabel adalah faktor kapasitas diversifikasi penghidupan.

Jika menggunakan faktor ini, difabel dengan penghasilan yang berasal hanya dari satu sumber saja, rentan mengalami guncangan ekonomi. Beberapa sumber, atau potensi untuk diversifikasi dapat meningkatkan perlindungan dari guncangan ekonomi.

Tulisan ini akan berusaha untuk melihat bagaimana diversifikasi sumber penghidupan berdampak pada kerentanan difabel secara ekonomi dilihat dari pendapatannya. Data dari temuan sementara penelitian Mata Pencaharian dan Partisipasi Difabel di Desa akan digunakan untuk melihat lebih dalam pengaruh diversifikasi sumber penghidupan.

Pada temuan sementara penelitian yang dilakukan di enam desa di Kulonprogo dan dua desa di Sleman. Dari 81 informan difabel yang bekerja yang ada di Kulonprogo, sekitar 52% memiliki satu pekerjaan saja, 41 % memiliki dua pekerjaan dan 7% sisanya memiliki lebih dari dua pekerjaan.

Sedangkan untuk dua desa di Sleman, dari 21 informan difabel yang bekerja, sekitar 43% memiliki satu pekerjaan, 52% memiliki dua pekerjaan dan 5% sisanya memiliki lebih dari dua pekerjaan. Karakteristik antara enam desa di kulonpogo dan dua desa di Sleman tentu berbeda.

Enam desa yang ada di Kulonprogo berada di kecamatan Lendah yang relatif jauh dari pusat perkotaan. Sedangkan dua desa yang berada di Sleman berada di kecamatan Berbah dan Mlati yang relatif dengan pusat kota Yogyakarta.

Ragam kerja yang dilakukan difabel

SM-nama inisial digunakan karena etika penelitian-(63) adalah seorang difabel netra yang sehari-hari tinggal di Jatirejo, Lendah, Kulonprogo. Ia tinggal bersama istri dan ketiga anaknya. Dua anaknya sudah menikah dan bekerja namun ada satu yang masih tinggal bersamanya. Meski punya anak yang sudah bekerja, ia masih tetap mencari nafkah.

“Saya masih tetap bekerja karena penghasilan anak sebagian besar digunakan untuk kebutuhan keluarganya,” ia bercerita.

SM mengaku mempunyai tiga pekerjaan sebagai sumber penghidupan sehari-hari, yaitu penjual sapu ijuk, membuat kerajinan dari bambu dan menjual burung hias. Pekerjaan terakhir, ia lakoni bekerjasama dengan anaknya.

“Kalau hanya bekerja satu pekerjaan rasanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, pekerjaan-pekerjaan yang saya lakukan itu kan tidak pasti pemasukannya, jadi memang harus ditopang olah kerjaan-kerjaan yang lain,” ungkapnya.

Dari ketiga pekerjaan tersebut, ia mengantongi sekitar enam ratus hingga delapan ratus ribu perbulannya. Jumlah yang ia rasa tidak cukup karena ia masih menanggung istri dan anak. Alhasil, adiknya masih sering membantu dirinya dalam kebutuhan sehari-hari.

Lain lagi dengan SBD (36) yang hanya punya satu pekerjaan. Sehari-hari ia bekerja membantu istrinya membuat desain batik yang kemudian akan dikirim ke pabrik batik untuk dibeli.

Sebelum membantu istrinya membuat desain batik, ia sempat bekerja serabutan sebagai tukang bengkel dan ikut proyek pembuatan jalan. Setelah itu, sebelah kiri tubuhnya menjadi susah untuk digerakkan dan ia akhirnya memilih bekerja membantu istrinya di rumah.

“Hanya satu pekerjaan seperti ini tentunya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari karena anak masih sekolah dan kebutuhan pendidikan tinggi. Tapi, untung istri kerja dan sebenarnya desain batik ini adalah pekerjaan utama istri, saya hanya bantu-bantu saja,” ujarnya.

Ia mengaku ingin punya tambahan pekerjaan yang lain karena kebutuhan sehari-hari yang terus bertambah apalagi anaknya sudah semakin besar. Selain itu, ia juga ingin membesarkan usaha batiknya dari yang hanya menjual desain batik menjadi produksi batik sendiri.

Cerita lain berasal dari SMD (39), seorang difabel daksa yang sehari-hari bekerja sebagai buruh di pabrik tahu. Tidak hanya menjadi buruh, ia juga bekerja di rumah membuat batu bata dari pasir.

“Alhamdulillah dua pekerjaan ini memberikan pemasukan yang cukup meskipun pas-pasan. Meski istri saya juga bekerja, namun pendapatannya hanya dua ratus ribu perbulan karena ia bekerja membantu membuatkan minum di kantor kecamatan,” ia bercerita.

Ia mengaku melakukan dua pekerjaan karena kebutuhan sehari-hari yang semakin banyak. “Harga-harga barang makanan semakin mahal sekarang. Apalagi, saya harus membiayai anak untuk sekolah, jadi memang hanya satu sumber pekerjaan saja tidak cukup jika mengandalkan penghasilan dari buruh saja,” ujarnya.

Meski sudah punya dua pekerjaan, ia masih punya angan-angan untuk menambah sumber penghasilannya lagi. “Saya pengen menyewakan gorong-gorong barang. Kan di jalan sebelah Lendah sana banyak truk dan kadang menurut saya prospek pekerjaan ini cukup besar,” tuturnya.

Pendapatan belum tentu cukup meski pekerjaan banyak

Jika dilihat dari temuan awal penelitian ini pada bagian ragam kerja dan jumlah pendapatan, lebih dari setengah informan bekerja di Kulonprogo memang hanya punya satu pekerjaan. Hal ini tentu berimbas pada jumlah pendapatan yang sering mereka sebut tidak cukup.

Di Sleman, lebih dari lima puluh persen informan mempunyai dua pekerjaan. Rata-rata informan yang hanya mempunyai satu pekerjaan memiliki penghasilan pada kisaran seratus ribu sampai delapan ratus ribu rupiah perbulan. Jumlah yang tidak terlalu cukup untuk kehidupan sebuah keluarga dengan anak.

Meski begitu, mempunyai lebih dari satu pekerjaan ternyata belum menjamin bisa mendongkrak pendapatan difabel. Contoh dari SM di Jatirejo menunjukkan bahwa dengan mempunyai tiga pekerjaan, pendapatan yang masuk kepadanya belum dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, yang akhirnya membuat adiknya harus ikut membantu untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Meski, ada juga contoh temuan informan yang pendapatan bulanannya semakin meningkat seiring dengan semakin beragamnya jumlah pekerjaan. Hal yang patut dicermati di sini adalah jumlah pekerjaan yang lebih dari satu ternyata bukan faktor yang menjamin pendapatan akan bertambah.

Kualitas pekerjaan tambahan kemudian menjadi faktor yang lebih berperan dalam peningkatan pendapatan. Pada beberapa contoh, ada informan yang mempunyai lebih dari satu pekerjaan. Namun dengan ragam pekerjaan informal dengan prospek pendapatan yang rendah, misal buruh tani dan serabutan mengambil buah kelapa. Sebaliknya, ada informan yang hanya punya satu pekerjaan namun dengan pendapatan yang ia rasa cukup karena sifatnya tetap.

Hal yang bisa menjadi perhatian pemerintah adalah pemberian kesempatan kerja pada bidang-bidang yang lebih potensial secara pendapatan bagi informan difabel di desa. Ada banyak informan yang sebenarnya ingin berganti pekerjaan atau menambah pekerjaan karena ingin menambah pendapatan perbulannya.

Keinginan itu sering tidak bisa mereka lakukan karena terbatasnya pilihan pekerjaan di desa terutama bagi difabel. Ini bisa menjadi fokus intervensi pemerintah dalam kebijakan penyediaan lapangan pekerjaan dan kesempatan berwirausaha yang terbuka dan bisa diakses oleh difabel. [Yuhda]

The subscriber's email address.