Lompat ke isi utama
iluftrasi keluarga besar Sukiman

Sukiman dan Partini, Pasangan Difabel yang Buktikan Mampu Hantarkan Kesuksesan Anak

Solider.id, Semarang - Pembentukan karakter diri anak merupakan akumulasi dari pendidikan sejak dini yang diterapkan oleh orangtua. Dalam hal ini, orangtua, keluarga, maupun orang-orang terdekat perlu berhati-hati dalam bersikap dan bertutur kata di hadapan anak. Pendidikan awal yang dapat diajarkan kepada anak dari rumah antara lain tanggung jawab, kedisiplinan, menanamkan nilai-nilai moral dan agama. Pendidikan dini dapat dilakukan oleh setiap orangtua tanpa memandang siapakah orangnya, baik dari kalangan difabel atau bukan, berpendidikan tinggi atau tidak, miskin ataupun kaya. Anak sebaiknya diarahkan menjadi generasi penerus yang berakhlak mulia dan memiliki masa depan cerah.

Bagi orangtua yang keduanya adalah difabel, mendidik anak merupakan tantangan yang berkali lipat lebih sulit dibanding orangtua non-difabel. Selain harus memberikan teladan yang baik bagi anak, orangtua yang memiliki hambatan fisik atau mental dituntut menanamkan nilai-nilai moral yang mampu menguatkan mental anak agar tidak merasa malu dengan kondisi orangtuanya. Tidak jarang ditemukan dalam kehidupan keluarga yang merupakan pasangan difabel, anak merasa rendah diri mempunyai orangtua yang tidak sama dengan orangtua teman-temannya.

Sukiman (60), seorang difabel netra asal Surakarta mengakui bahwa mendidik anak dengan kondisinya yang berbeda bukanlah hal yang mudah. Namun, berkat tekad yang kuat, Bersama istrinya Partini (57), ia telah berhasil mengantarkan 4 anaknya mencapai pintu kesuksesan. Pasangan difabel netra ini memantapkan diri tinggal terpisah dari orangtua sejak mereka menikah. Mereka pun mengurus segala urusan rumah tangga dan merawat anak secara mandiri tanpa bantuan keluarga maupun pembantu.

“Saya dan istri merawat anak secara mandiri dari memandikan, memakaikan pakaian, sampai menunggui sekolah di taman kanak-kanak dan SD,” ungkap laki-laki yang telah pensiun sebagai pengajar di panti rehabilitasi bagi difabel netra ini.

Keempat putra-putrinya sejak kecil disekolahkan di sekolah yang berbasis agama islam. Menurutnya Pendidikan agama penting ditanamkan kepada anak supaya mereka dapat lebih menghormati orangtua dan berakhlak baik. Sukiman berupaya keras untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Meskipun ia menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, ia dapat membiayai Pendidikan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Putri pertama dan keduanya telah menyelesaikan Pendidikan di perguruan tinggi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Anak pertama lulus dari FKIP program PPKN dan kini berprofesi sebagai guru. Kemudian, putri keduanya lebih memilih mengambil jurusan ekonomi dan kini bekerja di Bursa Efek swasta di Surakarta. Selanjutnya, putra ketiganya pun telah lulus dari Universitas Tunas Pembangunan Surakarta jurusan olahraga yang kemudian mengikuti jejak kakaknya sebagai tenaga pendidik. Sedangkan putra bungsunya sedang dalam tahap menyelesaikan tugas akhir di Universitas Muhammadiyah Surakarta program studi geografi murni.

Keberhasilannya dalam membesarkan anak memang tidak berarti tanpa kesulitan. Sukiman menuturkan pertama kali memang sulit, tetapi selanjutnya hal itu bisa teratasi. Sewaktu merawat anak-anaknya yang masih bayi, ia dan istri membagi tugas.

“Ketika istri memandikan anak-anak, saya menyiapkan baju,” tuturnya.

Begitu pula saat menyuapi anak. Salah satu memegangi anak, dan ada yang bertugas memegangi dagu si anak sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Jika dia ataupun istrinya sedang menyelesaikan pekerjaan, maka harus ada salah satu yang siaga menjaga si kecil.

Gerak anak-anak memang sangat lincah, namun ia kurang setuju jika anak dari pasangan sesama difabel netra diberi “krincingan”, gelang untuk penanda keberadaan anak. Selain dapat membuat anak nantinya minder, hal ini juga menunjukkan ketidakmandirian orangtua. Perlu adanya interaksi aktif antara buah hati dan orangtua agar muncul ikatan batin antara keduanya.

“Saya sering berkomunikasi dengan anak, sehingga ketika sedang di luar rumah, anak saya kalau dipanggil langsung mendekat,” cerita Sukiman mengenang.

Tetapi, jika anak termasuk yang banyak gerak, orangtua harus terus memegangi dan mengikuti ke mana pun ia bergerak agar tidak kehilangan jejaknya.

Sukiman dan istri belajar merawat anak ketika masih di panti difabel netra.

“Dulu di asrama diajari PKK, kemandirian wanita, menolong diri, masak-memasak sehingga bisa menjadi bekal dalam berumah tangga,” ceritanya.

Hal ini tidak akan didapat ketika difabel netra sudah berada di masyarakat. Difabel netra merupakan kaum minoritas dalam masyarakat, tidak semua orang mampu mengajari kemandirian berumah tangga bagi mereka. Oleh karena itu, keterampilan semacam ini perlu dihidupkan lagi di Lembaga-lembaga non-formal seperti di panti rehabilitasi sosial. Apabila difabel netra belum pernah mengikuti rehabilitasi, mereka harus aktif bertanya kepada sesamanya atau orang lain yang lebih berpengalaman.

Sukiman menyatakan hal penting dalam memilih pasangan hidup sesama difabel netra adalah calon istri harus terampil, baik terampil merawat anak maupun terampil dalam kehidupan sehari-hari. Perlu juga ditanyakan apakah penyebab kedifabilitasannya, apakah dari lahir atau tidak. Meskipun tidak selalu pasangan suami  istri sesama difabel akan melahirkan anak difabel pula, lebih disarankan untuk mengantisipasinya.

Sukiman juga menyampaikan ketidaksetujuannya kalau anak dititipkan saudara atau kakek neneknya. Anak akan menjadi segan dan jauh dari orangtuanya sendiri. Akibatnya, kelak anak kurang bisa menghargai orangtuanya. Ia menuturkan berkat metode pengasuhan yang ia terapkan, keempat anak-anaknya tidak pernah merasa malu dengan orang tua mereka yang difabel. Bahkan, setiap mendapatkan undangan menghadiri wisuda, anak-anaknya selalu mengenalkannya kepada dosen-dosen.

Berdasar pengalaman yang telah ia lewati, Sukiman pun berharap pengalamannya dalam merawat anak bisa menjadi pengetahuan difabel netra lainnya. Pasangan difabel harus punya strategi ang jitu untuk mendidik anak-anaknya. Keberhasilan anak merupakan cerminan kesuksesan Pendidikan sejak dini yang ditanamkan oleh orangtua. (Agus Sri Giyanti)

The subscriber's email address.