Lompat ke isi utama
salah satu halte porteble di Yogyakarta

Hanya Dua Halte dari 192 Halte Trans Jogja yang Ramah Difabel

Solider.id.Yogyakarta. Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dalam hal ini Dinas Perhubungan memiliki 192 halte. Sebanyak halte tersebut tersebar di berbagai titik di DIY.

Terdiri dari 112 halte permanen (tetap), dan 80 halte portabel (tidak tetap, atau bisa digeser). Dari ratusan jumlah halte yang ada, hanya dua halte saja (1 %) yang ramah difabel. Namun demikian belum dapat dikatakan aksesibel.

Aksesibel di sini dimaknai dengan, para penggunan kursi roda dapat secara mandiri (tanpa bantuan orang lain) mengakses atau menggunakan halte yang ada.  

Menurut hasil pantauan Solider pada sepanjang bulan April hingga Mei 2018, kedua halte yang akses tersebut ialah: Halte Malioboro II di area Kantor Dinas Pariwisata DIY, dan Halte Ambar Ketawang, Gamping, Sleman.

Namun terdapat catatan pada kedua halte tersebut. Halte Malioboro II, ramp (bidang miring) sudah cukup landai tetapi  difabel masih butuh bantuan orang lain untuk naik maupun turun. Catatan lain, pintu masuk masih terlalu sempit. Adapun catatan pada Halte Ambar Ketawang, ramp tidak langsung ke ticketing (tempat penumpang membeli tiket bus), melainkan masuk serambi. Sehingga difabel harus membuhkan proses lagi untuk menuju ruang ticketing.

“Kemiringan yang distandarkan ialah 1:10, atau 1:12. Dengan standar kemiringan tersebut, maka aksesibilitas pasti aksesibel. Sehingga difabel dapat secara mandiri mengakses sarana  yang tersedia.” Melalaui telepon seluler, Sabtu (18/5) Asisten Komite Disabilitas DIY, Yudi Aditia menyampaikan.

Aditia juga menjelaskan bahwa pada November 2017, dirinya sebagai perwakilan Komite Disabilitas telah melakukan pemantauan atas halte Trans Jogja. Hasil pemantauan sudah disampaikan kepada dinas-dinas terkait. “Paparan hasil pantauan telah disampaikan kepada dinas-dinas terkait, yakni Kepala Dinas PU Kabupaten/Kota dan DIY, Kepala UPT Trans Jogja, Kepolisian. Tidak lupa kegiatan yang diagendakan oleh Komite Disabilitas DIY (12/2017), juga mengundang Komunitas Difabel.

“Benar bahwa hanya ada dua halte yang akses, tapi belum aksesibilitas. Yaitu di Halte Malioboro II dan Ambar Ketawang,” tutur Aditia.

Pada dasarnya, aksesibilitas halte tidak hanya dikhususkan bagi difabel. Melainkan juga dapat digunakan oleh para lansia, ibu hamil, anak-anak, demikian pula bagi ibu yang mendorong bayi mereka dengan kereta bayi (baby walker).

Space tidak ideal

Pada kesempatan terpisah Kepala UPT Trans Jogja Sumariyoto mengaku banyak laporan mengenai kondisi halte yang tidak ramah difabel. Namun kendala yang terjadi di lapangan adalah kurangnya ruang (space) untuk mewujudkan halte yang ramah difabel.

“Kami bukannya tidak mau menyediakan aksesibilitas bagi difabel, namun tidak mudah untuk mewujudkannya. Pemicu utama ialah ruang trotoar yang tidak ideal, yang sempit dan tiada lagi lahan yang dapat digunakan,” ujarnya.

"Ditambah space dari sebagian besar trotoar terkendala berbagai kepentingan. Di antaranya adanya tanaman, pot taman, tiang listrik dan telepon. Tidak semua trotoar ideal, dan tidak semua jalan difasilitasi trotoar," jelasnya Sumaryoto (18/5).

Alhasil, upaya memenuhi hak para warga difabel menemui kendala. Selain itu kata dia keberadaan pedagang serta parkir kendaraan di sekitar trotoar juga menjadi persoalan.

Dijelaskannya, untuk membangun fasilitas ramah difabel teruma pengguna kursi roda, dibutuhkan ramp di sisi pintu masuk dan keluar halte. Namun karena terbatasnya ruang, menyebabkan fasilitas tersebut tidak bisa dibangun.

Terjadi tumpang tinding kepentingan atas trotor di DIY. Dibutuhkan didiskusikan bersama antar stake holder, untuk mendapatkan sebuah solusi atas permasalahan yang ada.

“Saat ini memang sangat sulit, kecuali kami punya lahan sendiri," pungkas dia. [Harta Nining Wijaya].

 

The subscriber's email address.