Lompat ke isi utama
ilustrasi keterlibatan difabel dalam event

Membangun Aksesibilitas Event melalui Keterlibatan Difabel

Solider.id, Malang- Rasanya prihatin bahkan merasa ikut was-was ketika seorang kawan pengguna dua kruk, sebut saja Fulan bukan nama sebenarnya, yang mengisahkan bagaimana ia hampir tak sanggup menaiki tangga-tangga gedung ketika ia menghadiri undangan seminar. Digambarkannya, tangga atau undakan itu setinggi sekira lebih tiga meter itu dengan derajat kemiringan 45 derajat  membuatnya hampir tak sanggup mencapai lokasi.

Namun undangan panitia yang memintanya menyuarakan hak-hak difabel itu membuatnya terus berjuang. Ia hanya berharap tak terjadi hal fatal seperti terpeleset atau jatuh.

Dalam acara seminar itu, Fulan bukanlah sebagai pemateri ataupun pembicara. Namun kehadirannya sebagai difabel nampaknya akan membuat rating event itu meningkat, indikatornya pihak panitia beberapa kali berpesan melalui saya agar jangan lupa hadir bersama rekan-rekan difabel untuk menyuarakan aspirasinya. Namun sayang di sisi lainnya dari berberapa undangan event selama ini penyelenggara belum mempertimbangkan kelayakan aksesibilitas.

Belakangan sekira enam bulan ini beberapa undangan dari  berbagai lembaga saya respon pasif. Undangan tersebut  kemudian saya share ke anggota untuk sekedar pemberitahuan. Tujuan lainnya untuk memberikan ruang kebebasan bagi anggota untuk berekspresi. Pasalnya bukan sebagai apa kita berperan dalam undangan tersebut melainkan sejauh mana anggota atau difabel terlibat dalam proses perencanaan acara. Juga apakah panitia dinilai memberikan aksesibilitas yang layak bagi difabel?

Ketika difabel terlibat dalam proses perencanaan acara, besar kemungkinan kegiatan benar-benar mengacu pada kepentingan difabel. Demikian pun ketika panitia memberikan aksesibilitas yang layak. Hal ini adalah indikator upaya penyelenggara dalam penghormatan dan pemenuhan hak difabel.

Semangat inklusi tidak serta merta membuat kita semangat dan siap menghadiri setiap undangan event, namun beberapa penilaian diatas penting kita lakukan terlebih dahulu. Lalu kita putuskan apakah layak hadir atau tidak. Muaranya adalah keselamatan difabel juga edukasi bagi penyelenggara event. Kasus yang dialami Fulan, pria difabel kinetik dengan polio ini tentu hanyalah satu kasus diantara kasus-kasus lainnya.

Tips Membuat Acara Ramah Difabel

Khususnya di Malang, riset menunjukkan tak satupun fasilitas yang memenuhi standar aksesibilitas. Sebagaimana diatur dalam Permen PU No. 30 Tahun 2006 yang belum lama digantikan Permen PUPR No. 14 Tahun 2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung.

Namun belajar dari beberapa pengalaman, setidaknya terdapat 3 langkah praktis membuat event yang ramah difabel dengan memanfaatkan sarana dan prasarana seadanya. Yaitu menjadikan difabel sebagai konsultan acara, melibatkan difabel secara aktif dalam kepanitiaan dan melatih para relawan.

Menjadikan difabel sebagai konsultan acara merupakan salah satu cara agar sebuah event dapat dikatakan ramah difabel. Pada prinsipnya hanya difabellah yang paling memahami hal yang ia butuhkan, maka keterlibatan mereka sangatlah penting. Sebagai contoh kasus debat walikota Malang belum lama yang dikritik Gerkatin karena penyelenggara tidak memenuhi kode etik juru bahasa isyarat (JBI). Mereka menggunakan SIBI padahal trend komunikasi tuli kota Malang adalah menggunakan Bisindo.

Kostum dan latar belakang JBI pada acara tersebut pun bebas, harusnya berkostum hitam dengan latar belakang layar biru sesuai kode etik internasional yang berlaku. Kasus ini menunjukkan bahwa acara yang berkaitan dengan hak dan kesetaraan ini tidak melibatkan difabel sebagai konsultan.

Contoh lainnya adalah kelompok kerja difabel Lingkar Sosial. Hasil rapat di awal pembentukannya memutuskan tempat pertemuan kelompok ini tidak tetap. Diutamakan bergiliran di rumah anggota dengan hambatan mobilitas berat, bisa juga di sekretariat Lingkar Sosial, di pos kelompok kerja per kecamatan atau sesekali di taman-taman kota. Lokasi maupun suasana pertemuan sudah pasti menyenangkan karena diputuskan sendiri oleh kelompok difabel.

Langkah kedua adalah melibatkan secara aktif difabel dalam kepanitiaan. Seperti ada acara peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) tahun 2017 lalu, difabel secara aktif dan total terlibat sebagai panitia. Penyelenggara dari Lingkar Sosial Indonesia dan Yayasan Peduli Kasih KNDJH membentuk tim inklusi yang beranggotakan difabel dan para relawan non-difabel untuk merumuskan dan koordinasi acara.

Event yang melibatkan 350 peserta difabel dari berbagai ragam difabilitas dan usia ini, terbagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing dipimpin langsung difabel. Demikian pun para relawan mereka bekerja baik sesuai tugas dan fungsinya. Panitia merasa puas dan menilai acara HDI dalam bentuk jalan sehat dan wisata edukasi tersebut berjalan lancar.

"Beberapa kali kami membuat event sosial dan wisata bersama masyarakat, namun baru kali ini saya merasa rileks, mudah dan tidak terbebani. Semua berjalan baik karena tim bekerja secara solid," ungkap Ketua Yayasan Peduli Kasih KNDJH, Nur Miftakhul Jannah.

Langkah ketiga adalah melatih para relawan. Pada umumnya relawan dalam kegiatan difabel berasal dari masyarakat nondifabel dengan tingkat pemahaman difabilitas yang beragam. Maka untuk menyamakan persepsi dan pembekalan keterampilan dalam berinteraksi dengan difabel, para relawan penting untuk mendapatkan pelatihan.

Salah satu pengalaman yang baik, belum lama pada pelatihan android bagi difabel netra di Universitas Ma Chung. Sebelumnya pihak penyelenggara Lingkar Sosial Indonesia dan Adi Gunawan Institut memberikan pelatihan singkat tentang bagaimana etika dan teknis berinteraksi dengan difabel netra terhadap 20 relawan dari komunitas Harmoni Cinta dan mahasiswa Universitas Ma Chung. Relawan juga dipahamkan teknis pelaksanaan acara sehingga mereka tak ada keraguan dalam menjalankan tugasnya.

Pelibatan secara aktif difabel dalam event dan pelatihan relawan bukan saja sebagai upaya penghormatan dan pemenuhan hak difabel, melainkan penghormatan dan pengakuan keberadaan semua pihak. Sehingga pihak-pihak lainnya yang terlibat tak segan untuk bekerjasama lagi secara lebih baik.

Merespon suksesnya acara ini, Kepala Prodi Teknik Informatika Universitas Ma Cung, Oesman Hendra Kelana mengatakan pihaknya siap bekerjasama lebih lanjut. "Belajar dari pengalaman angkatan pertama ini kampus akan berupaya memberikan layanan yang lebih baik sebagai bentuk pengabdian masyarakat," ucapnya semangat.

Indikator suksesnya acara lainnya adalah respon dan harapan peserta pelatihan. "Pelatihan ini sangat bermanfaat dan harapannya akan ada pertemuan berikutnya yang lebih baik," harap Sutiaji dari Magetan. Harapan senada juga disampaikan anggota Pertuni Tulungagung, Pertiwi ingin ada pelatihan-pelatihan berikutnya dan temu alumni. (Ken)

The subscriber's email address.