Lompat ke isi utama
Ilustrasi dua orang sedang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat

Mengenal Terminologi Tuli dan Bahasa Isyarat Bukan Bahasa Universal

Oleh Raka Nurmujahid

“Semua akan mengerti karena sepak bola adalah bahasa universal”

Solider.id, Solo- Kutipan di atas merupakan ucapan Luis Milla, saat diperkenalkan secara resmi sebagai pelatih baru Timnas Indonesia. Kutipan Luis Milla, bagi saya merupakan sikap kekhawatiran publik terhadapnya, terutama dalam penguasaan bahasa. Maklum, beliau berasal dari Spanyol yang tentunya lekat dengan logat Spanyol.

Namun, jika Luis Milla menganggap sepak bola sebagai bahasa universal, bagaimana dengan bahasa isyarat? Bisakah disebut sebagai bahasa universal? Ini pertanyaan yang pernah diajukan oleh MITV UI di akun Youtube kepada Silva Tenrisara Pertiwi Isma atau yang akrab di sapa Silva-seorang juru bahasa isyarat dan dosen jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di Universitas Indonesia, Depok, Jakarta.

Silva berpendapat bahwa bahasa isyarat bukan bahasa universal. Bahasa isyarat baginya seperti bahasa lisan. Bahasa menunjukkan indentitas, kebangsaan dan uga menunjukkan dunia tempat suatu masyarakat hidup di dalamnya. Jadi, menurutnya tidak mungkin bahasa itu disamakan di seluruh dunia karena kita memiliki budaya yang berbeda. Sama dengan bahasa isyarat, bahasa isyarat tumbuh di komunitas Tuli yang berbeda-beda budayanya di dunia ini. “Sehingga tidak mungkin bahasa isyarat disamakan secara universal,” terangnya.

Menurut hemat saya, bahasa isyarat memang bukan bahasa universal. Selain karena berbagai alasan yang telah kukemukakan, juga ada berbagai perbedaan bahasa lisan terhadap bahasa isyarat.

Bahasa lisan tidak dapat disebut bahasa universal, mulai dari pengaturan tutur kata, cara pengucapan, cara bersuara yang berbeda-beda dan tidak sama. Misalnya di dunia terdapat banyak perbedaan bahasa lisan, sebut saja bahasa Inggris, bahasa Jawa, bahasa Prancis, bahasa Spanyol, bahasa Italia, dll. Semua beda strukturnya dan ciri khasnya sehingga bahasa lisan tidak dapat disebut bahasa universal.

Begitu juga bahasa isyarat, tidak bisa disebut bahasa universal karena adanya kebudayaan Tuli yang telah tumbuh yang berbeda-beda dengan budaya Tuli negara lain. Kata isyarat, struktur kalimat isyarat, penyebutan kata isyarat dan ciri khas semuanya berbeda-beda dan tidak sama.

Sebagai misal,  British Sign Language (BSL), American Sign Language (ASL), French Sign Language (FSL), Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), bahasa Isyarat Kolok di Singaraja dari Bali, Quebec Sign Language di Kanada, dan banyak sekali. Bahkan Kanada punya tiga bahasa isyarat berbeda-beda, yaitu ASL, Quebec Sign Language, dan Inuit Sign Language.

Jadi, bagi saya, bahasa isyarat bukan bahasa universal sama seperti bahasa lisan biasa digunakan oleh masyarakat dengar.

Pendapat dari Silva dan saya juga didukung oleh seorang vlogger dan tour guide Tuli berasal dari Amerika Serikat bernama Calvin Young. Dia seorang pembuat vlogger Youtube dengan nama Seek The World.  Calvin mengunggah video Youtube versi bahasa Inggris (melalui Close Captioning [CC]) dan ASL tentang hal tadi saya jelaskan dalam rangka perayaan Hari Tuli Internasional (HTI) 2017). Dia menjelaskan pendapatnya tentang bahasa isyarat yang merupakan bukan bahasa universal.

Terminologi Tuli

Membahas tentang terminologi Tuli. Arti terminologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ilmu mengenal batasan atau defnisi istilah. Ada delapan terminologi Tuli yang selama ini kita ketahui. Mulai dari Tunarungu, tuli (huruf ‘t’ kecil), Tuli (huruf ‘T’ besar), Tunawicara, Children Of Deaf the Adult (CODA), Hard of Hearing (Hoh), Penderita Tuli dan Penyandang Tuli.

Terminologi Tuli yang dijelaskan berdasarkan pengalaman dan kenyamanan komunitas Tuli di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mencegah kesalahpahaman masyarakat mengenai terminologi Tuli. Selain itu untuk memberi pemahaman yang benar kepada masyarakat agar tidak ada yang merasa tersinggung karena kata tersebut. Sehingga bisa saling menghargai atau menghormati pendapat dan kesukaan orang mengenai kata tersebut.

  1. Tunarungu

Menurut KBBI, kata tuna artinya kurang atau tidak memiliki sedangkan kata rungu artinya pendengaran. Jadi, kata tunarungu artinya kurang pendengaran. Bagi saya, pengertian tersebut menunjukkan seseorang “Tunarungu” harus datang ke dokter THT untuk memeriksa telinga.

Bagi saya pengertian tersebut sarat akan bahasa medis dimana memungkinkan masih bisa “diperbaiki” agar bisa mendengar kembali. Kata “tunarungu” ini merupakan kata yang halus dan formal. Orang dengar membuat kata tersebut setelah mereka yang mendengar tidak menyetujui kata “tuli” karena mereka beranggapan kata yang kasar dan tidak pantas untuk dipakai.

Nah mereka menyetujui kata tunarungu agar kata tersebut memiliki arti yang halus dan formal. Namun di dunia Tuli sangat tidak menyetujui kata tunarungu karena kata tersebut memiliki arti tidak menyenangkan yaitu, seperti menjadi objek yang harus dikasihani. Sehingga tidak cocok dan tidak pantas untuk dunia Tuli. Maka itu kenapa mereka yang memiliki hambatan mendengar, lebih suka disebut dengan kata Tuli daripada kata tunarungu.

  1. tuli (huruf ‘t’ kecil)

Sebagaimana penjelasan sebelumnya, tuli (huruf t kecil) bagi orang dengar merupakan kata yang kasar. Sehingga mereka menggantikan kata tuli menjadi kata tunarungu karena dinilai memiliki arti yang halus dan formal.

  1. Tuli (huruf ‘T’ besar)

Kata Tuli adalah orang yang tidak bisa mendengar tingkat pendengaran agak berat, lebih dari 90 dB (desibel). Secara permanen memiliki identitas, budaya, bahasa, dunia, kehidupan, dan nilai-nilai sendiri yaitu bahasa isyarat. Orang Tuli dipandang memiliki semangat hidup tinggi meski tidak bisa mendengar, bangga punya budaya dan bahasa sendiri yaitu bahasa isyarat. Memiliki hak, peran, kewajiban, dan kedudukan yang sama seperti orang dengar lainnya.

Kata ini banyak sekali digunakan dan paling suka digunakan untuk orang yang tidak bisa mendengar. Mereka yang tidak bisa mendengar berharap dan ingin ada yang menyebut orang yang tidak bisa mendengar dengan kata “Tuli”.

Jika mereka yang tidak bisa mendengar disebut kata tunarungu maka mereka akan merasa tersinggung, karena mereka tetap mempertahankan kata “Tuli” dan mereka sangat tidak suka dijadikan objek kasihan.

Sebab kata tunarungu meski masih ada yang ngotot menganggap bahwa kata tunarungu itu lebih sopan dan formal atau mengganggap bahwa kata “Tuli” merupakan kata kasar yang tidak pantas dipakai. Padahal menurut di dunia Tuli, kata Tuli justru lebih sopan, formal, dan memiliki arti yang mendalam. Kata Tuli itu bukan merupakan kata kasar sebagaimana apa yang dipikirkan oleh banyak orang. Semoga ke depan masyarakat akan lebih banyak menyebut kata Tuli untuk orang yang tidak bisa mendengar.

  1. Tunawicara

Tunawicara adalah orang yang memiliki kekurangan kemampuan berbicara. Tunawicara mempunyai istilah lain yaitu bisu. Tunawicara ini untuk orang yang masih bisa mendengar tetapi kemampuan berbicara mulai berkurang bahkan tidak bisa berbicara. Untuk meningkatkan kemampuan berbicara maka diberi pelatihan terapi wicara secara terus-menerus agar bisa berbicara dengan baik.

Kata tersebut tidak cocok untuk dunia Tuli karena bahasa isyarat merupakan salah satu budaya Tuli untuk komunikasi. Jadi, Tuli masih bisa berbicara melalui bahasa isyarat, karena komunikasi memiliki banyak cara tidak hanya lewat mulut saja tetapi ada cara banyak misalnya gerak tangan, ekspresi wajah, perasaan, kode, gesture, dan banyak sekali cara lain untuk komunikasi sehari-hari.

  1. CODA (Children Of Deaf the Adult)

CODA adalah orangtua Tuli yang mempunyai anak dengar, mendidiknya dengan menggunakan bahasa isyarat. Kemudian di luar rumah untuk bermain bersama saudara atau teman sesama dengar menggunakan bahasa lisan.

Hal itu juga berlaku pada orangtua yang berbeda baik ayah Tuli dan ibu dengar begitu sebaliknya yang mempunyai anak dengar cara mendidiknya dengan menggunakan bahasa isyarat dan bahasa lisan secara bergantian atau secara bersamaan. Kalau orangtua Tuli mempunyai anak Tuli juga maka disebut Deaf Family.

  1. HoH (Hard of Hearing)

HoH adalah orang yang memiliki hambatan pendengaran tingkat sedang atau ringan atau masih bisa mendengar. Sisa pendengarannya dibantu alat bantu dengar (ABD). Pada umumnya mereka memang bisa berbicara bahasa lisan dengan baik dan lancar. namun memiliki hambatan pendengaran sehingga mereka membutuhkan ABD agar bisa mendengar.

Mereka berkomunikasi dengan teman Tuli menggunakan bahasa isyarat. Sedangkan berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa lisan. Orang HoH lebih sering disangka oleh orang dengar yang menyebut bahwa orang itu dengar ataupun Tuli, padahal itu sebenarnya beda arti dan yang benar orang itu HoH karena gangguan pendengaran sehingga harus pakai alat bantu dengar.

Bahkan lebih buruk jika orang HoH itu ternyata bisa berbicara sehingga orang dengar akan memikirkan bahwa orang HoH itu Tuli yang bisa berbicara ketika bertemu dengan orang Tuli lain. Mereka akan mencoba berbicara dengan bahasa lisan dengan orang Tuli, sehingga orang Tuli itu tidak tahu kalau ternyata orang Tuli itu memakai bahasa isyarat.

  1. Penderita Tuli

Penderita artinya sedang sakit atau memiliki masalah penyakit pada pendengaran. Maka penderita Tuli itu tidak cocok, karena orang Tuli itu sehat dan tidak ada yang sakit sama seperti orang dengar. Kata Tuli itu bukan penyakit tapi suatu hambatan seseorang. Jadi, orang Tuli itu sehat, meski pasti akan pernah sakit misalnya sakit flu, sakit pusing, sama seperti orang dengar lainnya pasti pernah sakit.

  1. Penyandang Tuli

Kata penyandang artinya keterbatasan. Jadi, kalau penyandang Tuli artinya keterbatasan pendengaran. Keterbatasan dipandang secara fisik atau manusia yang mempunyai keterbatasan seperti tidak punya tangan, tidak punya kaki, dan lain-lain. Jadi, orang Tuli mempunyai telinga meski tidak bisa mendengar sehingga kurang cocok dengan kata “penyandang”.

Kata yang paling cocok untuk dunia Tuli yaitu “difabel”. Kata difabel atau disabilitas mengandung arti yaitu meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi. Sedangkan pengertian lainnya yaitu setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, sosial, serta psikologi yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya.

Berdasarkan 8 macam terminologi Tuli yang sudah saya jelaskan di atas, maka mulai sekarang saya berharap bahwa para pembaca atau masyarakat lebih menghargai, menghormati, dan memanggil orang yang tidak bisa mendengar dengan kata Tuli. Dengan hastag yang saya selalu pasang setiap saat yaitu #AkuTuliBukanTunarungu.

 

*Penulis aktif di Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Solo.

The subscriber's email address.