Lompat ke isi utama
Supriyadi (Kanan) dan Sumirah, ibunya (kiri) sedang berpose di rumahnya

Supriyadi, Unjuk Diri Melalui Jalan Atlet dan Usaha Sablon

Solider.id, Gunungkidul- “Difabel, apapun kondisinya harus bisa melalui semua kesulitan,” tutur pemuda jangkung, menegaskan makna perjuangan (24/02).

Melewati berhektar sawah untuk bisa sampai di halaman rumahnya. Nampak motor roda tiganya terparkir di tepi rumahnya. Ruang tamu penuh dengan perangkat komputer dan aneka alat sablon yang tertata rapi.

Di atas meja, sekumpulan katalog kartu nama dan undangan menunggu dilirik pelanggan. Sementara itu, beberapa pesanan sablon yang ia tawarkan melalui media sosial setia menunggu siap diantarkan. Bersama sang Ibu, Supriyadi (27 tahun) bersantai melewatkan aktivitas di siang hari.

Rumahnya di dusun Ngasem Rt 08 Rw 03, Getas, Playen, Gunungkidul. Supriyadi terbiasa menjalani hidup apa adanya. Sempat menjadi korban buli di masyarakat sekitarnya, ia tak pernah malu dengan kondisinya. Baginya semua cemooh dan olokan tak pernah diambil hati, tak pernah dihiraukan. “Sering ditirukan, diolok saat berjalan.” Supriyadi membuka obrolan ringan.

Bagi Sumirah, kondisi Supriyadi memang menyisakan kesedihan dan kekecewaan. Namun dengan semua pembuktian yang sudah dilakukan anaknya, Sumirah boleh berlega hati. “Mengalami polio saat usia delapan bulan, bagi saya yang penting anaknya tidak malu selama dalam pergaulan,” kisah Sumirah.

Namun seiring berjalannya waktu, Supriyadi justru membuktikan bahwa ternyata ia laik dibanggakan. Ibarat gong yang harus dipukul agar bisa menghasilkan bunyi. Ia terlalu pemalu untuk seorang atlet yang telah menorehkan prestasi.

Selain mendapat piagam dan uang pembinaan, gelar Pekan Paralympic Daerah di Yogyakarta beberapa bulan silam, baginya meninggalkan berjuta kesan setelah dua tahun ia tekuni dengan berbagai pengalaman. Medali emas yang ia dapatkan sebagai juara I angkat berat menjadi awal baginya memulai perjuangan sebagai anggota National Paralympic Committee (NPC).

“Artinya sekarang harus lebih fokus latihan di cabang olahraga angkat berat. Meski usaha sablon tetap jadi pekerjaan.” Supriyadi berujar sambil sesekali memeluk kruk yang ia gunakan sebagai penopang, alat bantunya saat berjalan.

Supriadi mencoba beragam lomba dalam banyak arena yang ia tekuni. Bakatnya merupakan turunan dari sang Ibu yang juga atlit angkat berat. Dukungan datang dari sang Ibu yang setia menemani ke manapun Supriyadi meraih prestasi.

Sebagai anak ke dua dari tiga bersaudara pasangan Damun (50 tahun) dan Sumirah (48 tahun), Supriyadi adalah putra asli kelahiran Gunungkidul, 1 Juni 1991. Supri-sapaan akrabnya-juga sudah bisa dibilang mapan berkat usaha sablon dan percetakan yang ia jalankan. Ia ingin jadi pengusaha sukses yang bisa diandalkan. Bekal pengalaman saat harus bekerja ikut orang lain, ternyata membuatnya mengetahui seluk-beluk usaha sablonnya.

“Kepikiran orangtua, kangen keluarga, akhirnya saya memutuskan membuka usaha di rumah. Sebelumnya saya memulai usaha di satu tempat di mana saya pernah mengikuti pelatihan.” Menyebut sebuah nama tempat, Supriyadi menceritakan awal mula bagaimana memulai usaha sablon dan percetakan dengan hanya bermodal 100 ribu rupiah.

Secara tidak sengaja setelah lulus dari SMK Al-Hikmah Gubug Rubuh tahun 2011, Supriyadi mencoba masuk ke salah satu pusat pelatihan untuk menekuni desain grafis sebagaimana yang ia harapkan. Di sana, ia belajar tentang sablon dan percetakan, hingga sekarang ia memilih usaha Sablon dan Percetakan “Mas_Prie” sebagai lahan pekerjaan.

Di tempat pelatihan itu pula Supriyadi mengasah kemampuan. Selain tentang pengetahuan usaha sablon, ia juga berbagi ketrampilan dengan teman-teman difabel bagaimana baca tulis Qur’an. Maklum, Supriyadi khatam Qur’an saat berada di usia delapan.

Pada keseharian, sejak membuka usaha sablon pada 2015 lalu telah membantu Supriyadi meraih keinginannya. Ia ingin membahagiakan orangtua yang dibanggakannya.

“Cita-cita sederhana seorang pemuda desa.” Ujarnya tersenyum samar lalu tertawa perlahan. Melirik Sumirah dan berkata “Ingin bisa menyekolahkan adik saya sampai perguruan tinggi. Membantu sang Ayah yang buruh kecil lapangan.”

Kini berkat usaha sablon dan cetak yang ia jalani, membuat Supriyadi telah mandiri secara ekonomi. Ia menyisihkan penghasilannya untuk kebutuhan usahanya. “Pelan-pelan, saya bisa menambah perlengkapan untuk mendukung pekerjaan.” Supriyadi mengucap kesyukuran. Kebahagian terpancar dalam sorot tajamnya, membuat sang Ibu larut dalam keharuan.

“Bagaimanapun sebagai orangtua sekarang kami bersyukur. Dia sudah punya penghasilan sendiri. Bisa membantu orangtua dengan menyekolahkan adiknya. Saya tetap bangga dengan apa yang sudah ia lakukan.” Sumirah, sang Ibu yang sejak tadi menyimak dengan tenang ikut menyampaikan uneg-uneng yang dirasakan. Ada nada bangga atas apa yang telah diraih Supriyadi, putra kebanggaan. [Yanti]

The subscriber's email address.