Lompat ke isi utama
Ilustrasi pilihan sekolah reguler atau Panti rehabilitasi sosial

Pilih Sekolah Regular atau Panti Rehabilitasi Sosial?

Solider.id, Semarang- Kebimbangan kerap kali menghantui benak difabel ketika mereka harus menentukan pilihan, apakah mereka akan masuk sekolah regular atau panti rehabilitasi sosial.

Setiap hal tentunya mempunyai dua sisi baik dan buruknya. Menentukan pilihan ini, keluarga atau orang-orang terdekat dapat memberikan pertimbangan tentang sisi positif dan negatif dari kedua pilihan tersebut. Berikut ini sekilas gambaran singkat tentang kelebihan dan kekurangan dari sekolah reguler dan panti rehabilitasi sosial.

Sekolah regular

Pengakuan dari sebagian besar difabel yang pernah menempuh Pendidikan di sekolah regular menyatakan, mereka pernah mendapatkan bullying. Namun, tidak lantas semua sekolah formal atau inklusif membawa dampak buruk terhadap psikologis difabel.

Setidaknya, dengan mengikuti Pendidikan di sekolah regular, difabel menjadi terbiasa bersosialisasi dengan masyarakat non-difabel. Hal ini dapat membentuk mental difabel untuk menjadi lebih tangguh. Perlahan demi perlahan, hal tersebut dapat membawa difabel diterima dan bisa membaur dalam pergaulan masyarakat.

Di dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 Pasal 10 tentang hak Pendidikan bagi difabel dijelaskan pada dua poin.

(a) mendapatkan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan secara inklusif dan khusus.

Selain itu pada poin (d) Dan mendapatkan Akomodasi yang Layak sebagai peserta didik”, dengan demikian, setiap sekolah seharusnya mampu mengakomodasi siswa atau mahasiswa difabel.

Namun, kenyataannya difabel masih harus berupaya keras mengatasi hambatan bangunan sekolah dan metode pembelajaran yang belum aksesibel bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), utamanya netra dan bisu tuli.

Padapersoalan tersebut, difabel harus bekerja ekstra dalam segala hal. Seperti penyesuaian dengan lingkungan, cara belajar, dan mengatasi segala diskriminasi yang ada. Mereka harus berjuang menunjukkan kemandirian mereka sebagai pembuktian bahwa difabel tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sekolah dan Perguruan Tinggi di Indonesia juga belum seluruhnya mampu menyediakan tenaga khusus yang diperuntukkan mengatasi hambatan difabel. Oleh karena itu, difabel yang bersekolah di sekolah regular harus bermental baja demi meraih asa. Difabel tidak terbatas dalam bercita-cita selama mereka memiliki kemauan dan kemampuan. Jika ada kesempatan untuk berpartisipasi dalam perlombaan, baik di bidang akademik maupun non-akademik, kesempatan itu bisa dijadikan sebagai ajang unjuk diri.

Pergaulan di sekolah formal membentuk kepribadian difabel untuk berkompetisi ke arah yang lebih berkembang setara dengan masyarakat pada umumnya. Meraih kesuksesan tidak bisa diraih sendiri, melainkan kerjasama yang mampu mewujudkan suatu keberhasilan.

Perlu adanya sinergi antara difabel dan pihak-pihak terkait untuk mewujudkan kesetaraan di bidang Pendidikan. Faktor penting yang turut berperan dalam perkembangan difabel yaitu dukungan keluarga atau orang-orang terdekat. Penerimaan keluarga akan kedifabilitasan salah satu anggota keluarganya akan menciptakan suasana yang kondusif bagi difabel untuk maju.

Mayoritas difabel yang masuk sekolah regular atau inklusif, mereka telah mendapatkan penerimaan yang baik dari keluarganya. Sehingga, dengan berbagai upaya mereka diberdayakan sesuai kemampuannya masing-masing.

Panti rehabilitasi sosial bagi difabel

Perkembangan difabel yang tinggal di panti rehabilitasi cenderung berkelompok dalam komunitas sesamanya. Terjadi kekhawatiran ketika mereka harus bersosialisasi dengan masyarakat nondifabel.

Buaian zona nyaman cenderung membentuk mental mereka menjadi statis. Dengan kata lain, mereka merasa sudah cukup nyaman berada di posisi yang ada walaupun roda zaman kian melaju meninggalkan mereka. Seharusnya, batasan antara difabel dan nondifabel mulai dihilangkan.

Tetapi, kenyataan yang menunjukkan beberapa difabel yang enggan meningkatkan kualitas dirinya menjadikan mereka harus terima untuk dibedakan. Sebagian difabel yang menjalani rehabilitasi di panti rehabilitasi sosial adalah difabel yang dulunya disembunyikan dari lingkungan masyarakat. Alasan keluarga menyembunyikan mereka di antaranya ketidaktahuan, ada pula yang keluarganya merasa malu karena memiliki anggota keluarga difabel.

Perkembangan difabel di panti rehabilitasi dapat pula dipengaruhi pergaulan. Jika mereka bergaul dengan orang-orang yang lemah motivasi, maka mereka tetap mengurung diri dalam keterpinggiran. Sebaliknya, jika mereka berkumpul dengan orang-orang yang berpikiran luas, mereka akan termotivasi untuk terus meningkatkan kapasitas diri demi meraih kesetaraan.

Begitu disayangkan ketika ditemukan difabel yang masih dalam usia sekolah dititipkan di panti ini. Pendidikan yang mereka peroleh di panti rehabilitasi tidak semaksimal jika mereka bersekolah di sekolah regular.

Selain itu, difabel usia remaja terkadang tumbuh dewasa sebelum waktunya. Pergaulan penghuni panti rehabilitasi yang mayoritas difabel dewasa atau difabel usia produktif menjadikan remaja difabel yang berada di tempat itu menjadi dewasa karena dipaksakan.

Kepribadian dan pola pikir mereka cenderung berbeda dengan difabel yang bersekolah di sekolah regular. Ketidaksanggupan anak-anak difabel mengikuti Pendidikan di sekolah regular terkadang dipengaruhi oleh faktor ekonomi yang kurang mendukung. Hal ini menjadi salah satu yang perlu mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah untuk memberikan bantuan beasiswa Pendidikan bagi difabel yang kurang mampu.

Materi yang diberikan di panti rehabilitasi lebih mengarah ke materi keterampilan yang bisa digunakan untuk bekal kemandirian difabel. Ada pun pelajaran tentang pengetahuan umum tidak sebanyak yang diajarkan di sekolah regular.

Sebagai contoh, panti rehabilitasi difabel netra memberikan keterampilan pijat, musik, PKK, dan keterampilan merawat diri. Meskipun, keterampilan yang diberikan cukup untuk dapat menghasilkan uang, pelajaran tersebut tidak mengikuti perkembangan zaman.

Misalkan, di era digital ini difabel netra perlu menguasai keterampilan pengoperasian komputer. Zaman digital dapat berperan besar dalam peningkatan derajat hidup difabel netra. Dengan penguasaan komputer bicara, mereka dapat bekerja setara dengan non-difabel. Keterampilan ini bisa mendorong kemajuan difabel netra dalam dunia pendidikan dan pekerjaan.

Kemudian, apa yang akan terjadi jika difabel netra tanpa kemampuan TIK? Mereka akan digilas oleh globalisasi. Kurangnya kemampuan untuk mengoperasikan komputer bicara berdampak pada ketertinggalan bagi peserta didik di panti rehabilitasi sosial. Jika difabel netra di luar tempat ini sudah mampu berselancar di internet dan bekerja menggunakan komputer, maka mereka hanya bisa cukup puas dengan keterampilan pijat dan berprofesi sebagai pemijat saja.

Dari penjabaran di atas bisa diambil beberapa tantangan yang dihadapi difabel yang memilih masuk ke sekolah regular dengan difabel yang memilih masuk ke panti rehabilitasi sosial jelas sangat berbeda. Difabel yang memilih masuk ke sekolah formal menghadapi tantangan yang lebih besar. Mereka harus berupaya keras mematahkan stigma negative tentang ketidakberdayaan mereka menyesuaikan diri dengan siswa atau mahasiswa di sekolah regular.

Namun, hasil dari kerja keras tersebut adalah terbentuknya mental yang lebih kuat dan terbiasa bergaul dengan masyarakat nondifabel. Sedangkan bagi difabel yang memilih untuk menjalani rehabilitasi di panti sosial, mereka cenderung dimanjakan fasilitas bebas biaya dari pemerintah.

Mereka dipersiapkan untuk terjun di dunia kerja tanpa memandang berapa pun usia mereka. Hal yang disayangkan dari kehidupan difabel di panti adalah mereka cenderung lebih suka berkelompok dengan komunitas sesamanya. Gambaran tersebut, setidaknya difabel bisa mengambil keputusan terbaik untuk masa mendatang yang akan mereka hadapi. [Agus Sri]

The subscriber's email address.