Lompat ke isi utama
Amilah ketika difoto di rumahnya usai diwawancarai Solider

Amilah, Relawan yang Belajar dari Keadaan

Solider.id, Gunungkidul- Tak ada siapapun yang menginginkan memiliki calon mertua dengan gangguan kejiwaan. Bahkan dalam benak seorang perempuan yang tak mulanya tidak terbayangkan. Sampai tawaran itu datang dari seorang pria. Pria yang menyayanginya dan memutuskan untuk melamarnya.

Si perempuan mengiyakan. Ia mengangguk memastikan dengan tanda menerima pinangan. Tak ada pilihan lain selain bersanding dengan pria pujaannya.

Perempuan itu bernama Amilah. Kini, ia tinggal di sebuah rumah sederhana di samping lapangan voli di Rt 29 Rw 06, Jelok, Beji, Patuk, Gunungkidul. Di lapangan voli di mana para pemudia biasa beraksi, seorang nenek menyambut tamu yang datang. Dia menyapa ramah, menyalami. Bersama seorang nenek tersebut, seorang Amilah pula mempersilahkan si tamu yang datang kala itu.  

“Suami saya bahkan sudah lupa kapan tepatnya Ibu mengalami gangguan kejiwaan.” Amilah menerawang saat mengawali obrolan ketika Solider berkunjung ke rumhanya, (28/02). “Itu kejadian lama, bahkan saat saya belum jadi istrinya. Waktu itu bisa dibilang kondisi Ibu lebih buruk dari yang sekarang.”

Amilah kelahiran tanah tembakau, Temanggung, 10 April 1981, merupakan seorang Ibu bagi dua gadis remaja yang siap membantu dalam tiap kesulitan. Seiring perjalanan waktu yang menempa kesabaran, ia semakin dikuatkan ketika kondisi Ibu mertua mengalami perkembangan. Ia merawat ibu mertunya

“Ya diobatkan kemana-mana. Sampai-sampai RSJ sudah tidak mau menerima Ibu tersebab kewalahan. Namanya berusaha, kalau ada yang memberitahu kami harus bagaimana, maka kami mencoba membawa Ibu ke psikiater di mana saja. Asal Ibu bisa disembuhkan” tutur Amilah, memutar kenangan.

Menurut Amilah, selama ini tidak ada orang yang perhatian. Tidak ada orang yang mau mengerti kondisi orang-orang dengan gangguan kejiwaan. Kondisi seperti yang dialami Ibu mertua yang membuatnya tergugah belajar tentang difabilitas. Sepengetahuannya, apa yang dialami Ibu mertunya termasuk dalam kategori difabilitas atau orang-orang yang memiliki hambatan di dalam lingkungan sosial.

Selain itu, Ibu mertuanya mendapat pembiaran. Dari sanalah ia mulai tertarik dengan dunia kerelawanan bagi penyandang disabilitas dengan ganguan kejiwaan. Akhirnya dengan kesadaran diri, atas dasar kasih yang ia miliki, lahir keinginan untuk membantu orang-orang dengan gangguan kejiwaan.

“Saya ingin memahamkan kepada lingkungan tentang bagaimana mereka yang mengalami gangguan kejiwaan. Masalahnya kalau tidak mulai dari diri kita sendiri mau siapa lagi?” Seolah bertanya pada diri sendiri, istri dari Supargiyana mengungkapkan kegelisahannya.

Amilah, sejak  muda sudah terbiasa menjadi relawan dan bergabung dalam organisasi masyarakat sebagai tempatnya berkegiatan. Memulai langkah awalnya bersama Ibu mertua yang dirawatnya.

“Ini menjadi langkah lanjutan. Selain Ibu yang menjadi motivasi, saya dulu memiliki seorang teman difabel yang gigih berjuang untuk teman-teman difabel di Jelok. Setelah teman saya meninggal, saya makin terpacu untuk mewujudkan semua mimpi perjuangan yang pernah kami angankan,” Amilah, berkata.

Amilah mengungkap apa yang pernah ia rasakan. Masa-masa awal ketika ia terlibat langsung merawat Ibu mertua yang mengalami gangguan kejiwaan. Mulanya ia merasa stres karena ibu mertua sering mengambil barang-barang milik tetangga dan sering berhalusinasi.

Meski begitu, ia bersyukur. Para tetangga dan masyarakat maklum dengan kondisi ibu mertuanya. Bagi Amilah apa yang dilakukan sang Ibu tetaplah butuh penanganan. Dari sikap tetangga sekitar ia kembali merasa dikuatkan.

“Jangan malu. Cerita saja, kami sudah maklum.” Demikian ujarnya menirukan para tetangga yang kerap jadi korban kehilangan.

Begitupun dengan kedua anak gadisnya. Bahkan seringkali mereka justru mengingatkan untuk tidak memarahi neneknya. “Mereka juga paham, apa yang dilakukan neneknya hanya hasil halusinasi saja. Bukan benar-benar keinginan neneknya.” Amilah dengan lega menuturkan. Ia merasa bangga kepada keluarga kecilnya, dari anak-anaknya ia bisa belajar.

Amilah sering mengganti barang-barang yang diambil sang Nenek. Anak-anaknya sering mengusulkan untuk menjual perkakas dan menggantinya dengan uang. Anak-anak juga yang bisa memberinya pengertian secara sederhana melalui apa yang mereka lihat dalam keseharian.

Sebagai ibu rumah tangga yang setiap hari berkutat dengan aktivitas monoton dan melihat para perempuan di lingkungannya tanpa kegiatan. Amilah mengadakan pengajian rutin setiap hari selasa, salah-satunya untuk membrikan doa kesembuhan ibu mertuanya.

“Orang-orang dengan gangguan kejiwaan hanya butuh perhatian. Usahakan jangan sampai punya beban pikiran sehingga mereka merasa nyaman berada di antara kita,” tutur Amilah, ibu yang hanya lulusan SMP Negeri 2 Ngadirejo, Temanggung ini menyampaikan.

Di depan sang Ibu Amilah berusaha tenang, wajah sedih atau gelisah tak pernah ingin ia tampakkan. Amilah tak ingin Ibu mertuanya bertambah pikiran. Amilah memang dikenal sebagai Ibu yang ramah, ia menyenangkan dalam pergaulan. Ia gambaran Ibu enerjik masa kini meski tak pernah mengenyam pendidikan tinggi.

Ia aktif menjadi tim advokasi Srikandi Beji, sebuah paguyuban difabel yang dimiliki kecamatan di daerahnya. Ia banyak berperan di lingkungannya dan mengajak serta kelaurganya.

“Agar anak-anak tahu selama di luar hal apa saja yang Ibunya lakukan. Selama pekerjaan rumah sudah saya selesaikan, anak dan suami tidak pernah merasa keberatan.” Amilah dengan bangga mengutarakan keinginannya untuk mengubah kondisi masyarakat difabel.

Ia menginginkan perubahan kecil yang saat ini bisa kita lakukan suatu saat akan menjadi perubahan besar. Dari skala kecamatan akan berubah menjadi skala nasional.  Meski mulanya, ia tak pernah mengira apa yang dilakukannya mempunyai banyak manfaat.

Saat sang Suami yang sehari-hari jadi blantik lelah memikirkan pekerjaan, ia tak segan turun tangan  meringankan. Ada rasa khawatir dalam hatinya, suatu saat bila sang Suami tidak kuat menghadapi permasalahan kemungkinan mengalami gangguan kejiwaan seperti yang Ibu mertua rasakan.

Pun begitu saat anak-anak membutuhkan perhatian dengan penuh kasih ia memeluk penuh kehangatan. Ibu mertua di tangannya sudah mengalami banyak perkembangan. Sekarang Amilah bisa berlega hati untuk meraih harapan yang belum sepenuhnya bisa ia wujudkan. “Masih ingin membantu keluarga dengan gangguan kejiwaan,” harapnya. [Yanti]

The subscriber's email address.