Lompat ke isi utama
 Ilustrasi pinjaman. Sumbe

Difabel di Desa: Meminjam dan tidak Meminjam

Solider.id, Yogyakarta - Dalam pendahuluan buku ‘Hidup dalam Kerentanan: Narasi Kecil Keluarga Difabel,’ Ishak Salim dan M. Syafii menyajikan tabel tentang faktor kerentanan, kontribusi terhadap difabel, dan indikator dari setiap faktor kerentanan difabel. Ada tiga belas faktor yang ada dalam tabel  yang meliputi: hutang, pendapatan, aset, ketahanan pangan, kapasitas diversifikasi penghidupan, kesehatan, air dan sanitasi, tanggungan, partisipasi sosial dan pengambilan keputusan. Ishak Salim dan M. Syafii mencoba untuk mengaitkan bagaimana dasar pemikiran soal kerentanan dan faktor-faktor di atas yang mempengaruhi kehidupan seseorang difabel baik di lingkungan rumah maupun lingkungan sosialnya. Faktor-faktor ini diadopsi dari pelatihan kerentanan difabel Myanmar. 

Pada tabel tentang faktor kerentanan difabel, faktor hutang dijelaskan berkontribusi terhadap kerentanan difabel dengan beberapa hal seperti: tingginya kadar hutang non-produktif, menempatkan aset mata pencaharian beresiko (agunan); pembayaran mungkin mengurangi pengeluaran penting; tingkat hutang yang tinggi yang ada dapat mengurangi kemampuan untuk mengakses kredit tambahan.

Selanjutnya faktor pendapatan yang berkontribusi terhadap kerentanan terhadap difabel melalui hal-hal seperti: berpenghasilan rendah atau negatif: rasio pengeluaran dapat menyebabkan pengurangan belanja penting, meningkatkan resiko utang.  

Tulisan saya kali ini akan berfokus pada faktor nomor satu dan dua: faktor hutang dan pendapatan dalam melihat kerentanan difabel kondisi difabel di desa dengan mengaitkan dengan temuan penelitian Pilihan Mata Pencaharian dan Partisipasi Difabel di Desa yang dilakukan di enam desa di Kulon Progo dan dua desa di Sleman.

Difabel meminjam dan tidak meminjam

Saya tidak terlalu sulit saat mencari rumah WK (nama difabel dibuat inisial karena kepentingan penelitian), seorang difabel netra berusia 61 tahun yang ada di desa Jatirejo, Lendah, Kulon Progo. Saat saya masuk ke dalam rumahnya yang hanya terdiri dari dua petak ruang, ia sedang duduk santai di dalam. Rumahnya terlihat tidak terawat dan banyak potongan-potongan triplek di sisi dinding yang sudah mulai berlubang. Dari obrolan saya akhirnya tahu jika rumah ini bukanlah rumah miliknya. Ini adalah tanah dan bangunan dari desa yang digunakan oleh dirinya serta keluarganya secara gratis.

“Sehari-hari saya bekerja sebagai pemijat di rumah ini. Pelanggan nanti datang ke sini. Tidak setiap hari ada orang yang datang jadi pendapatannya sangat minim. Perbulan hanya 300 ribu,” ujarnya bercerita.

Pendapatannya yang tak seberapa itu harus ia pergunakan untuk menghidupi istri dan anak-anaknya.

“Anak saya ada tiga perempuan semua. Yang pertama sudah berkeluarga dan tinggal dengan suaminya. Yang kedua sudah bekerja dan tinggal di sini. Yang terakhir kuliah kesehatan dapat beasiswa. Sekarang tinggal di asrama kampusnya,” tuturnya.

Ia mengaku sering berhutang dalam jumlah yang kecil namun tidak berhutang atau melakukan pinjaman besar seperti ke Bank atau ke lembaga finansial lain.

“Saya ndak berani pinjam atau hutang ke bank karena pendapatan saya kan kecil, takut ndak bisa ngangsur. Tapi, kalau hutang-hutang kecil pasti ada. Misal hutang uang atau hutang bahan makanan ke warung kalau pijat lagi sepi,” ungkapnya.

Masih satu desa dengan WK, AR (57) mengaku juga tidak melakukan hutang atau pinjaman baik ke perseorangan atau ke lembaga finansial seperti bank meski ia tak bekerja.

“Saya tak pernah meminjam. Alhamdulilah selama ini tercukupi untuk kebutuhan sehari-hari karena saya juga hidup sendiri,” ceritanya.

Meski ia tak bekerja, ia masih memiliki pemasukan dari sebagian rumah yang ia sewakan serta mendapat bagian uang sewa sebuah rumah keluarganya yang ada di Jogja.

Hutang dan pendapatan difabel di desa

Dari temuan penelitian ini,  116 responden difabel yang diwawancarai secara mendalam, hanya 32 yang mengaku melakukan pinjaman atau berhutang dalam berbagai bentuk. Sedangkan di Sleman, dari 41 responden difabel yang diwawancarai, hanya 6 saja yang melakukan pinjaman atau berhutang. Pengertian meminjam di atas bisa berupa pinjaman secara formal dan maupun informal.

Jika dilihat dari data yang terhimpun, alasan terbesar mengapa difabel dalam penelitian ini tidak berhutang atau melakukan pinjaman karena takut terbebani oleh angsuran (pinjaman formal) dan takut tak bisa membayar hutang. Hal ini berkaitan dengan faktor pendapatan difabel yang sebagian besar kurang.

Di desa Jatirejo saja misalnya, pendapatan difabel dengan ragam pekerjaan serabutan berkisar antara Rp. 300.000 sampai Rp. 700.000 perbulan. Dari 20 responden, hanya dua orang saja yang memiliki pendapatan antara Rp. 1.000.000 sampai Rp. 1.200.000.

Dari temuan tersebut, cukup wajar jika banyak difabel yang tidak melakukan pinjaman terutama untuk pinjaman formal ke lembaga finansial seperti bank. Padahal dari karakteristik pekerjaan mereka, banyak yang merasa masih kekurangan modal untuk mengembangkan usaha untuk bisa menaikkan pendapatan bulanan.

Selain alasan takut tidak bisa membayar atau membayar angsuran, difabel yang tidak melakukan pinjaman bisa mempunyai alasan karena tidak ada pendapatan sama sekali, tidak dibolehkan keluarga, tidak memiliki dokumen untuk agunan, tidak mengetahui informasi mengenai pinjama formal, malu, punya pendapatan yang cukup dan memiliki aset yang menghasilkan pendapatan.

Bagi difabel yang tidak ada pendapatan sama sekali atau memiliki pendapatan minim, rata-rata masih ada subsidi dari orang tua atau saudara, serta mendapat jaring pengaman sosial seperti PKH, Rastra (Beras Sejahtera), bantuan dari lembaga keagamaan dan bantuan lainnya.

Lalu ada juga sebagian kecil difabel yang tetap melakukan pinjaman. Biasanya pengertian pinjaman ini dipahami sebagai pinjaman dalam jumlah besar ke lembaga finansial seperti bank dan lembaga lain. Sebagian besar memang menggunakan pinjaman untuk modal usaha dan tambahan dana untuk mengembangkan dan membesarkan usaha. Namun, ada juga penggunaan pinjaman yang sifatnya untuk kebutuhan sehari-hari.

Sama seperti keterangan yang ada dalam tabel faktor kerentanan difabel bahwa pinjaman yang sifatnya digunakan untuk hal yang non produktif bisa membuat difabel menjadi semakin rentan terhadap kemiskinan. Pada beberapa responden, ada beberapa temuan tentang penggunaan pinjaman untuk hal-hal seperti membayar biaya sekolah dan untuk kepentingan sehari-hari seperti makan dan membayar listrik.   

Bentuk pinjaman pun tidak hanya berupa uang. Ada juga pinjaman berupa hewan ternak seperti ayam, kambing, bebek dan sapi. Ketakutan akan temuan bahwa difabel akan mengalami diskriminasi ketika mengajukan pinjaman ke bank atau ke lembaga lain ternyata tidak ditemui. Hampir setiap difabel yang meminjam rata-rata bisa mengakses pinjaman. Jika pun ada yang kesulitan dalam mengakses, biasanya karena faktor syarat dan agunan yang tidak lengkap. Ketika meminjam ke lembaga finansial, para difabel biasanya menyerahkan syarat berupa KTP dan KK serta menyerahkan agunan atau jaminan berupa sertifikat tanah untuk jumlah pinjaman besar dan BPKB motor untuk pinjaman kecil. 

Salah satu yang menjadi perhatian dari temuan penelitian ini adalah betapa banyaknya difabel yang sebenarnya punya potensi untuk meminjam untuk kebutuhan produktif seperti menambah modal usaha tapi tidak mendapatkan informasi tentang pinjaman tersebut. Masih ada jarak antara pemberi pinjaman dan difabel yang meminjam. Bisa jadi karena keadaan difabel yang menjadikan pemberi pinjaman urung menyampaikan informasi pinjaman. Tapi, asumsi ini masih perlu dikaji lebih dalam. Yang jelas, data ini bisa menjadi rekomendasi ke pembuat kebijakan untuk merumuskan peraturan dan kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan perekonomian difabel dengan pekerjaan-pekerjaan yang produktif dengan opsi pinjaman lunak yang mudah. (Yuhda)

The subscriber's email address.