Lompat ke isi utama
Ketinggian ram di gedunt pengadilan agama tidak sesuai standar

Jalur Landai di Gedung Pengadilan Agama Kabupaten Gowa belum Akses

Solider.id, Makassar- Pada selasa, 08 Mei 2018, Zakia salah seorang relawan Pergerakan Difabel untuk Kesetaraan (PerDIK) Makassar mengunggah pada akun Facebooknya, sebuah jalur khusus atau ram yang diperuntukkan bagi pengguna kursi roda di kantor pengadilan agama kabupaten Gowa.

“Waktu itu ada saya mau urus di Pengadilan Agama, tapi tiba-tiba ada saya lihat ram (Red: jalur landai) yang ada gambar pengguna kursi roda di tengah-tengahnya, dan ada anak-anak lagi main prosotan disitu,” terang Zakia melalui pesan WhatsApp, sabtu (12/05).

Zakia menyampaikan di unggahan Facebooknya, ram yang tepat di jalur pintu masuk Pengadilan Agama kabupaten Gowa tersebut sangat berbahaya jika dilalui pengguna kursi roda. Kemiringan yang sangat curam bisa membuat pengguna kursi roda akan tersungkur jika menggunakan jalur tersebut.

Menurutnya, hal tersebut bukti bahwa pemerintah masih belum paham mengenai standarisasi pembuatan ram yang dapat dilalui pengguna kursi roda. Sangat ironis, karena yang melakukan instansi pemerintah berbadan hukum yang seharusnya lebih paham mengenai pelayanan, sebagaimana diatur dalam Undang-undang.

Unggahan Zakia tersebut lantas direspon banyak aktifis dan pemerhati difabel. Beberapa grup WhatsApp organisasi difabel turut mendiskusikannya dan menyayangkan hal tersebut.

Jika kita perhatikan Gambar yang di ungga Zakia, tinggi lantai atas dengan permukaan jalanan sekitar 80 centimeter. Maka dengan kemiringan 6 derajat, seharusnya dibutuhkan panjang ram sekitar 8 meter. Sayangnya, kesalahan desain membuat Ram ini tidak dapat digunakan baik oleh difabel maupun nondifabel.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata tak ada satu pun organisasi difabel di kabupaten Gowa yang sebelumnya diajak berkoordinasi dalam pembuatan jalur landai tersebut. Mestinya, dalam menyediakan fasilitas bagi difabel, pemerintah harus berkonsultasi dengan organisasi difabel yang pastinya lebih mengetahui aksesibilitas yang nantinya juga diperuntukkan kepadanya. Jika hanya mengandalkan asumsi, maka itu sama saja pemerintah hanya membuang-buang anggaran. [Nur Syarif Ramadhan]

The subscriber's email address.