Lompat ke isi utama
Sat temen-tteman tuli Makassar membawakan puisi dalam bahasa isyarat dalam opening MIWF 2018

Ketika Difabel Berprestasi Dalam Festival Sastra Internasional

Solider.id, Makassar - Festival literasi internasional terbesar dan satu-satunya di kawasan indonesia timur yang lebih dikenal dengan Makassar International Writers festival (MIWF) telah usai dihelat di Makassar dari tanggal 2 hingga 5 mmei 2018. Festival tahunan Makassar yang pada tahun 2018 ini memasuki penyelenggaraan yang ke delapan berhasil menhadirkan 84 penulis berskala lokal, nasional dan internasional. Dari kolaborasi penulis-penulis tersebut, kemudian menghasilkan 67 program mulai dari workshop kepenulisan, peluncuran buku, book discussion (diskusi buku), diskusi kebudayaan, dan masih banyak program menarik lainnya yang masih berhubungan dengan isu literasi.

Bagi penyelenggara MIWF, yang dalam hal ini Rumahta Arts Space, MIWF tahun ini terasa lebih istimewa dengan adanya beberapa komunitas difabel yang ikut berpartisipasi.

“Sebenarnya, pada MIWF sebelumnya, teman-teman Tuli sudah sering datang ke MIWF. Tapi, kalau kita bandingkan dengan tahun ini, jummlah teman-teman Tuli yang datang itu lebih banyak, dan program yang mereka ikuti juga lebih bervariasi.” Jelas Abdi Karya, Direktur Rumahta Arts Space (8-5).

Abdi melanjutkan, bahwa tahun ini MIWF juga melibatkan seorang lowvision sebagai volunteer, dan hal tersebut membuat kerja-kerja panitia MIWF lebih inklusif. Selain itu, di program taman baca MIWF, ada juga komunitas difabel yang ikut serta dan menyediakan bahan bacaan terkait disabilitas.

Direktur PerDIK (organisasi yang menyiapkan bahan bacaan terkait isu difabel), Abd. Rahman menjelaskan bahwa salah satu concern PerDIK adalah berjuang diranah literasi. Ia berharap, dengan adanya bahan bacaan tentang difabel di MIWF, maka masyarakat yang hadir di Fort Rotterdam (lokasi yang menjadi pusat kegiatan MIWF), akan mengetahui lebih banyak terkait difabel.

“Selama ini, masyarakat kita jarang atau bahkan tidak pernah disodori bahan bacaan terkait ranah difabel, sehingga masyarakat hanya tahu kalau difabel itu makhluk yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.” Ujar Rahman.

Rahman juga menghimbau para akademisi maupun masyarakat pengunjung MIWF yang ingin tahu lebih banyak tentang difabel, berkunjung ke Pustakabilitas, perpustakaan yang dikelola PerDIK.

***

Agar program MIWF dapat diakses oleh Tuli, penyelenggara MIWF dibantu oleh beberapa interpreter sign language dari gerkatin (Chiki  Evi, salah satu interpreter yang saat ini bekerja di British Council Jakarta menyatakan, “Saya tahu MIWF kira-kira tiga bulan yang lalu, saat Direktur rumahta, Abdi mengikuti lokakarya di british council tentang disability and arts. Saat itu, Abdi bercerita tentang festival literasi yang tiap tahun diselenggarakan di Makassar, dan ia meminta saya untuk berkontribusi dalam membantu kawan-kawan Tuli sebagai juru bahasa isyarat dalam program apa saja yang kawan-kawan Tuli ingin ikuti di MIWF.” Cerita Evi.

“Usai lokakarya tersebut, saya dan abdi terus berkomunikasi via email, dan mencari cara agar saya bisa ke Makassar saat MIWF dilangsungkan. Hingga akhirnya British Council memutuskan mengirim saya ke Makassar, sehingga saya bisa membantu kawan-kawan Tuli selama festival ini berlangsung, mulai dari pembukaan hingga penutupan.”

Bagi evi, ajang festival seperti ini sangat baik dijadikan wadah sosialisasi bagi tuli pada masyarakat, baik itu bahasa isyarat, maupun beberapa keterampilan yang bisa dilakukan Tuli.

***

Adanya aksesibilitas yang diupayakan penyelenggara MIWF turut melecut partisipasi difabel untuk datang ke MIWF. Meskipun masih didominasi Tuli. beberapa program yang dihadiri banyak difabel seperti workshop klinik bahasa bersama Ivan Lanin, acara ini berlangsung di gedung Chapel Fort Rotterdam tiap sore dari tanggal 4 dan 5 mei.

“Tuli memang memiliki keterbatasan dalam berbahasa Indonesia. mungkin itu yang menyebabkan mereka bersemangat mengikuti program ini.” Ujar Inayah, salah satu volunteer gerkatin sul-sel.

Partisipasi difabel juga banyak dijumpai dalam program Under The Poetic Stars yang berlangsung tiap malam selama MIWF di Main Stage Fort Rotterdam. Program ini banyak diisi oleh tokoh-tokoh literasi terkemuka seperti pidato kebudayaan yang disampaikan duta baca indonesia: Najwa Shihab, refleksi 20 tahun reformasi oleh Ayu Utami, Orasi Dari Fiersa Besari, pementasan monolog Cut Nyak Dien oleh aktor Sha Ine Febrianty, Pembacaan karya puisi ataupun cerpen dari Boy Candra, Faisal Oddang, serta 6 Emerging Writers MIWF 2018. Dan yang paling spesial ketika beberapa teman Tuli mendapat kesempatan membawakan puisi dalam bahasa isyarat berjudul do’aku yang memukau pengunjung Fort Rotterdam.

Program lain yang dalam pengamatan saya dihadiri peserta difabel diantaranya program Singing Your Poetry oleh Ananda Sukarlan, Peluncuran buku Arah Langka oleh Fiersa Besari, serta program Story Telling For Instagram User yang dibawakan Maman Suherman. Tuli juga dilibatkan dalam pementasan Papermoon Puppet Theatre. Untuk pementasan ini, Tuli memang sudah sering dilibatkan dalam penyelenggaraan MIWF.

Penggagas MIWF, Lili Yulianty Farit mengapresiasi para difabel yang telah datang dan berpartisipasi di ajang MIWF 2018. Iya berharap dalam ajang penyelenggaraan MIWF berikutnya, akan lebih banyak lagi difabel yang datang dan menikmati program MIWF. Ia juga berterimakasih pada interpreter bahasa isyarat, yang telah banyak membantu menyediakan aksesibilitas bagi Tuli.

MIWF adalah merayakan kekayaan. Indonesia memiliki kekayaan luar biasa dalam khazanah seni dan sastra, dimana Makassar adalah salah satu titik yang penting. MIWF ibarat sumur ide, dimana disetiap penyelenggaraannya, selalu menghasilkan ide-ide yang penting [Ramadhan Sharro].

The subscriber's email address.