Lompat ke isi utama
Salah satu anak dengan hambatan autisme sedang mengikuti salah satu lomba yang diselenggarakan HMIKS

HMIKS Rayakan Hari Peduli Anak dengan Hambatan Autis

Solider.id, Semarang- Himpunan Masyarakat Inklusi Kota Semarang (HIMIKS) gelar Peringatan hari Peduli Autis Sedunia di destinasi wisata popular Kota Semarang, Klenteng Sam Poo Kong. Meskipun tidak dilaksanakan tepat tanggal 2 April, peringatan hari peduli autis tingkat Kota Semarang terselenggara cukup meriah.

Anak-anak dengan autis yang didampingi orang tua dan pendamping dari sekolah, Yayasan, dan pusat terapis antusias mengikuti perlombaan yang dilaksanakan bekerjasama dengan Dinas Sosial kota Semarang, Minggu (13/05). Peserta lomba sejumlah 75 anak Bersama dengan orang tua dan pendamping sudah memenuhi aula Klenteng Agung Sam Poo Kong sejak pagi.

Tri waluyo, Kabid Resos Dinas Sosial Kota Semarang menyampaikan maksud dan tujuan dari diselenggarakannya kegiatan sebagai fungsi fasilitasi pemerintah kota terhadap difabel. Melalui sarana peningkatkan kemampuan autis baik sensorik maupun motoric, sosialisasi anak autis, serta membangun karakter anak-anak tersebut.

Berbagai Jenis Perlombaan untuk Anak dengan Hambatan Autis

Berbagai jenis perlombaan di acara yang bertemakan Family Fun Day ini bertujuan untuk melatih motorik anak dan fungsi keseimbangan. Selain itu, ada pula lomba menyanyikan lagu peduli autis yang berjudul “Sisi Duniaku” bagi para pendamping.

“Lagu Sisi Duniaku dapat digunakan sebagai sarana mensosialisasikan kepedulian terhadap autis kepada masyarakat,” sambung Tri Waluyo.

Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Tommy Yarmawan Said berharap Dinas Sosial dapat terlibat lebih jauh dalam kegiatan-kegiatan difabel. Dia yakin kebersamaan dan pendampingan total terhadap anak dengan autis berperan penting dalam kemajuan perkembangannya. Dia juga meminta dukungan agar pengajuannya untuk layanan autis di Kota Semarang dapat dilaksanakan.

Setelah melalui diskusi dan pertimbangan, terpilih 4 jenis lomba untuk anak-anak penyandang autis dengan beragam tingkatan kesulitan. Dewan juri terdiri dari konselor dari RS. Hermina, psikolog dari UNNES,, dan Klinik Tumbuh Kembang Anak Permata Hati serta anggota DPRD Komisi D Jawa Tengah yang turut hadir dalam peringatan tersebut.

Linggar Prasetyo, terapis tumbuh kembang anak dan okupasi terapis dari  RS. Hermina Pandanaran Semarang menyampaikan, pihak panitia meminta perlombaan berkaitan dengan aktivitas gerak sensorik yang mengandung problem solving atau pemecahan hambatan serta terdapat aktivitas sehari-hari kategori bina diri anak.

Mulanya perlombaan berupa halang rintang yang dibagi menjadi 3 aktivitas ketangkasan. Lomba merayap berhubungan dengan sentuhan badan, sedangkan gerakan merangkak menguji sensorik landasan dasar yang turut memengaruhi kehidupan selanjutnya di kemudian hari. Rintangan lomba ada yang lurus, zig zag, melewati rintangan yang berupa rumbai-rumbai, yang menguji kordinasi perencanaan gerak.

Selain itu, lomba menjemur melatih koordinasi dua tangan, melihat kemampuan anak dengan autis mengenali beberapa jenis pakaian yang menjadi bagian dari bina diri anak. Ada pula lomba yang berkaitan dengan emosional anak yaitu mengalungkan medali kesayangan kepada mama atau pendamping. Orang tua atau pendamping hanya diizinkan memberi instruksi verbal. Hal ini membuat para orang tua tersentuh karena anak-anak mereka mampu mengenali orang tua masing-masing.

Linggar juga menambahkan perlombaan ini dapat diikuti segala tingkatan autis. Dewan juri pun memberikan kesempatan bagi peserta untuk menyelesaikan setiap perlombaan agar mereka bisa menjadi juara untuk dirinya sendiri.

Menurut Linggar, keberhasilan yang diraih anak autis adalah manifestasi penerimaan dari keluarga. Orang tua anak dengan autisme tidak bisa berharap terlalu besar untuk mendapatkan penerimaan dari masyarakat.

Namun, orang tua dapat terus berupaya memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa anak autis memiliki cara belajar sendiri dan cara pandang tersendiri dalam kehidupan. Deteksi dini autis bisa dilihat dari tanda-tanda seperti kontak mata tidak maksimal, interaksi dengan orang lain tidak bagus, anak tidak mandiri menyelesaikan tugasnya.

Jika sudah terdapat tanda tersebut, orang tua dianjurkan membawa anak ke ahli seperti dokter atau ahli terapis anak. [Agus Sri]

The subscriber's email address.