Lompat ke isi utama
peserta difabel netra bersama relawan inklusi usai pelatihan android di Ma Chung

Lima Pilar Membangun Organisasi Difabel yang Berdaya

Solider.id, Malang- Tak sedikit organisasi difabel yang aktif di permulaan, sekitar satu hingga dua tahun kemudian vakum maupun stagnan dalam pergerakan selanjutnya. Persoalannya klasik yaitu masalah pendanaan. Segala upaya pun sudah dilakukan, paling banyak mencari donatur atau pengajuan pendanaan ke dinas sosial dan perusahaan-perusahaan.

Beberapa organisasi bahkan tampak tak terduga, mereka telah berjejaring nasional bahkan didanai oleh lembaga donor internasional, namun setelah proyek selesai mereka mengalami colaps atau sekarat. Kembali pada status sebagai organisasi lokal yang disibukkan mencari pendanaan kegiatan. Organisasi bergantung donor dan anggota tetap hidup miskin dan dalam keterbelakangan sosial. Kasus ini bukan hanya merugikan masyarakat juga mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap LSM.

Selama ini ada pemahaman yang salah kaprah dalam dunia LSM, ketika sebuah organisasi  sudah didanai oleh lembaga donor internasional maka disebut LSM internasional, bonafit, sukses dan sebagainya. Padahal kembali pada hakikat LSM atau Lembaga Swadaya Masyarakat yang kini disebut ormas dalam UU Ormas, adalah lembaga yang berdiri atas swadaya masyarakat. Swadaya artinya dengan daya sendiri. Maka ketika bergantung pada lembaga donor adalah salah satu indikator sebuah organisasi belum berdaya.

Indikator organisasi difabel yang berdaya menurut Lingkar Sosial Indonesia adalah memenuhi beberapa hal disebut Lima Pilar membangun organisasi difabel yang berdaya yaitu syarat organisasi,  prinsip difabilitas, prinsip kemandirian, prinsip independensi serta prinsip manfaat.

Yang pertama memenuhi syarat organisasi. Komunitas difabel harus memiliki tujuan yang jelas, memiliki nama organisasi agar dikenal orang serta memiliki rencana, strategi dan aksi atau kegiatan. Organisasi juga harus memiliki cukup anggota sebagai bentuk dukungan masyarakat serta melengkapinya dengan badan hukum.

Kedua memenuhi prinsip difabilitas yaitu pemahaman difabel sebagai subyek yang berkemampuan. Difabel atau different people ability adalah  orang dengan kemampuan yang berbeda. Organisasi difabel wajib memahami bahwa  difabilitas  bukan soal keterbatasan fisik, mental, intelektual  maupun sensorik maupun belas kasihan melainkan   lingkungan tidak standar aksesibilitas. Pemahaman ini akan menjadi semangat difabel mengeksplor kemampuan untuk menjadi berdaya.  

Ketiga memenuhi prinsip kemandirian yaitu tidak bergantung pada orang lain namun sebagai makhluk sosial masih membutuhkan bantuan orang lain dalam hubungan sewajarnya. Ciri- ciri organisasi mandiri adalah  tidak bergantung pada sumbangan, tidak bergantung pada donatur serta mampu memanfaatkan sumber daya manusia dan alam/ lingkungan.  

Yang keempat adalah memenuhi prinsip independensi yaitu bebas/ tidak terikat dan merdeka dari berbagai intervensi serta memiliki kewenangan mutlak dalam menentukan arah dan kebijakan organisasi. Untuk menjadi independen organisasi difabel harus mensepakatinya sejak awal melalui ketetapan dalam anggaran dasar. Langkah lainnya, organisasi  tidak menginduk pada organisasi lain yang bersifat mengikat.

Lebih penting lagi kelompok difabel tidak menerima bantuan dengan syarat yang melanggar misi, visi dan tujuan serta tidak menerima bantuan dari obyek kontrol.  Obyek kontrol yang dimaksud misalnya perusahaan maupun instansi yang rentan bermasalah dengan hak-hak difabel.

Kelima yaitu prinsip manfaat. Keberadaan organisasi masyarakat diketahui dengan jelas oleh lingkungannya serta dibutuhkan masyarakat. Terpenuhinya syarat organisasi, pemenuhan prinsip difabilitas, kemandirian dan independensi dan manfaat merupakan lima pilar organisasi difabel yang berdaya.

Lebih lanjut lagi, indikator organisasi berdaya ketika ia memiliki pengaruh dan posisi tawar terhadap organisasi lainya utamanya para pemangku kebijakan. Kemudian mampu mengelola SDM anggota dan lingkungannya. Serta solidnya pengurus dan anggota ditandai dengan berjalannya masing-masing tugas sesuai peran dan fungsinya.

Tips Membangun Organisasi Difabel yang Mandiri, Independen dan Berdaya 

Terpenuhinya lima pilar organisasi yang berdaya yaitu syarat organisasi dan prinsip difabilitas, kemandirian, independensi serta manfaat secara sederhana dapat dicapai tanpa harus kembali pada masalah klasik yaitu pendanaan.

Yang pertama syarat organisasi, tak sedikit komunitas yang mengeluhkan tentang biaya pembuatan akte pendirian organisasi dari tingkat notaris hingga SK Kemenhunkam. Pengalaman Lingkar Sosial Indonesia (Linksos), selama tiga tahun berjalan ia mengadakan berbagai kegiatan organisasi dari edukasi, aksi sosial hingga advokasi masyarakat tanpa badan hukum sebagaimana diatur dalam UU Ormas, melainkan berpegang pada Pasal 28 UUD 1945 tentang kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Di tahun keempat dari hasil tabungannya Linksos mampu mengurus badan hukum sebagai yayasan.

Yang kedua pemenuhan prinsip difabilitas. Salah satu hambatan yang jamak masih melekat pada komunitas difabel adalah bergantung pada bantuan dinas sosial. Dalam pengalaman penulis, selalu ada pertanyaan dalam upaya pemberdayaan masyarakat: kapan dapat bantuan dari dinas sosial? Komunitas lebih baik mengajukan permintaan pelatihan kerja dari pada bantuan modal, bukan hanya kepada dinas sosial melainkan lintas sektor seperti dinas perindustrian dan balai latihan kerja. Dalam program tertentu pelatihan kerja ada yang disertai permodalan wirausaha atau penyaluran tenaga kerja.

Terobosan yang dilakukan Lingkar Sosial Indonesia bahkan tidak pernah mengajukan permintaan modal maupun pelatihan ke dinas-dinas melainkan membuat pelatihan sendiri dengan biaya swadaya anggota. 95 persen anggota Linksos adalah alumni balai latihan kerja, lulusan pelatihan dinsos dan jebolan panti rehabilitasi. Dari potensi ini Linksos bahkan mampu membuat kelompok kerja. Prinsip pelatihannya adalah saling belajar dan mengajar sehingga tidak membutuhkan biaya besar. Kelompok kerja ini juga menjadi sarana Linksos untuk memenuhi prinsip kemandirian.

Untuk pemenuhan independensi, prinsip utamanya tidak meminta bantuan pada obyek kontrol. Sebagai LSM fungsi organisasi tak hanya sebagai pemberdaya masyarakat melainkan kontrol kebijakan pemerintah terhadap implementasi hak-hak difabel. Organisasi juga berfungsi mengontrol steakholder terkait seperti perusahaan maupun lembaga dan instansi dalam penerapan penghormatan dan pemenuhan hak-hak masyarakat berkebutuhan khusus.

Sebagai contoh sederhana, akan sangat bertolak belakang ketika organisasi kesehatan paru- paru meminta perusahaan rokok sebagai sponsor. Atau organisasi difabel meminta bantuan pendanaan pada pejabat yang sedang terjerat kasus korupsi. Akan lebih baik jika organisasi difabel berjejaring inklusif. Seperti dilakukan Forum Malang Inkusi (FOMI), dengan semangat gotong royong dan menghargai kebhinekaan berbagai kegiatan dapat dilakukan tanpa kendala pendanaan yang berarti.  Saat ini FOMI berjejaring dengan 25 organisasi difabel dan nondifabel.

Terakhir pilar manfaat, organisasi difabel harus dikenal agar masyarakat lebih mudah mengakses manfaatnya. Salah satu jalannya adalah sosialisasi. Trend saat ini ketika organisasi sudah diliput media akan mengalami peningkatan citra. Namun isu difabilitas kerapkali dianggap kurang seksi sehingga jarang diliput media, kecuali pada momen tertentu seperti Hari Disabilitas Internasional, hari kusta, hari polio dan sebagainya.

Mengatasi hambatan ini, difabel perlu untuk melek media. Organisasi difabel penting untuk mampu membuat pers rilis, memanfaatkan media sosial sebagai alat kampanye yang murah dan efektif. Serta memiliki blog/ website untuk menyuarakan tujuan dan menyiarkan kegiatan organisasi secara mandiri. pilar untuk membangun organisasi difabel yang berdaya dalam kajian Lingkar Sosial Indonesia. Namun tentunya penerapan lima pilar ini akan berbeda pada masing- masing wilayah disesuaikan dengan  kearifan lokal.

Untuk itu organisasi yang berdiri sejak 2014 ini kini dengan program edukasinya mulai tahun 2018 ini berniat sharing lintas daerah. Harapannya, makin tumbuh dan berkembangnya organisasi difabel yang mandiri, independen dan berdaya  jalan menuju masyarakat inklusif dan setara bagi semua orang akan semakin terbuka.

Linksos membuka partisipasi dan peran aktif masyarakat luas dalam program ini, dalam bentuk sponsor kegiatan maupun undangan sharing. Untuk informasi lebih lanjut kontak Lingkar Sosial Indonesia di email:  info.lingkarsosial@gmail.com. (Ken)

The subscriber's email address.