Lompat ke isi utama
Workshop Penyusunan Kerangka Penelitian Aksesibilitas Lembaga Pemasyarakatan bagi Penyandang Disabilitas

Narapidana Difabel Rentan Mendapat Kekerasa di dalam Penjara

Solider.id, Yogyakarta- Narapidana Difabel rentan terkena perlakuan kejam dalam penjara. Mulai dari terkena kekerasan fisik, buli, pelecehan seksual serta dikurung dalam ruang isolasi.

“Jenis difabel yang paling rentan adalah difabel kognitif dan psikososial, difabel perempuan dan difabel lansia,” tutur Cucu Saidah dalam lokakarya Penyusunan Kerangka Penelitian Aksesibilitas Lembaga Pemasyarakatan bagi Penyandang Disabilitis, Selasa (8/5).

Lebih lanjut, Cucu Saidah dalam paparannya mengungkapkan hal tersebut tidak sesuai dengan CRPD. Konvensi CRPD menerangkan kewajiban bagaimana negara memberikan perlindungan hak penghuni Lapas.

“Semua sudah ada dalam CRPD, ada kesetaraan dan non diskriminasi, kebebasan dan keamanan, bebas dari kekerasan, eksploitasi dan perlakukan kejam, reasonable accommodation, kesehatan dan lingkungan yang aksesibel,” terang Cucu.

Sebagai seorang aktifis difabel, Cucu memberikan berbagai rekomendasi agar Lapas atau Rutan bisa menjadi tempat yang aksesibel bagi tahanan dan warga binaan pemasyarakatan difabel. Beberapa rekomendasinya seperti, adanya identifikasi dan asessment sebelum difabel masuk ruang tahanan.

Selain itu, harus ada pusat layanan difabel baik di lingkungan Lapas dan berbasis masyarakat. Hal penting lain menurutnya, pelatihan dan pemahaman isu difabel terhadap petugas Lapas dan pihak terkait.

Tidak hanya di Indonesia, juga di Australia

Berbagai tantangan dalam menghadirkan Lapas dan Rutan yang aksesibel terhadap difabel ternyata tidak hanya dihadapi di negara berkembang seperti di Indonesia. Di negara maju seperti Australia yang pemahaman difabilitasnya sudah selangkah lebih maju dari Indonesia juga masih sering ditemukan kendala serupa. Seperti kekerasan terhadap tahanan difabel.

Sebuah artikel berjudul ‘Australian prisoners with disabilities subjected to harrowing abuse, report finds’ pada laman Guardian Februari lalu. Human Rights Watch melaporkan ada sekitar 14 tahanan difabel di Western Australia dan Queensland yang mengalami berbagai macam bentuk kekerasan seperti dikurung pada ruang isolasi dan kekerasan seksual seperti pemerkosaan oleh penjaga.

Laporan yang dikeluarkan Human Rights Watch, ada 32 kasus kekerasan seksual dan 41 kasus kekerasan fisik. Dari 14 tahanan yang diinvestigasi, sembilan di antaranya mengalami kekurangan dari akses fasilitas dasar seperti toilet, kamar mandi, dan dapur.

Salah seorang difabel yang menggunakan kursi roda bahkan harus buang air kecil ada botol karena tidak ada toilet yang aksesibel. Seorang difabel yang lain harus menggunakan popok setiap hari.

“Saya merasa kehormatan saya direnggut karena harus menggunakan popok setiap hari,” ucap Cucu mengutip dari Guardian.

Menurut Cucu, jalan menuju aksesibilitas di segala ranah masih sangat panjang, termasuk di ranah Lapas dan Rutan. Tapi, dorongan untuk menuju aksesibilitas bagi semua harus tetap diteriakkan. “Dalam hidup keseharian, difabel sudah banyak direnggut kemerdekaannya, apalagi jika ia sebagai penghuni tahanan atau lapas?” tutupnya. [Yuhda]

The subscriber's email address.