Lompat ke isi utama
foto Rohmad Dwi Saputro

Sekolah itu Menyenangkan, Jangan Takut Sekolah

Solider.id, Yogyakarta - “Jangan cemas apalagi takut sekolah di sekolah umum atau sekolah inklusi. Sekolah itu tidak menakutkan. Sekolah itu tidak berat, bahkan menyenangkan. Yakinlah lingkungan sekolah (teman, guru) menyambut baik, memberikan kesempatan dan dukungan pada kita yang terlahir difabel atau menjadi difabel karena sesuatu hal.

Semangat tersebut mengemuka dari seorang Rohmad Dwi Saputro (27), pemuda dengan Cerebral Palsy alumni Program Studi (Prodi) Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 2016. Kepada Solider, Selasa (8/5) usai peluncuran dan bedah “Film sebagai Media Advokasi Aksesibilitas Layanan Publik,” yang diselenggarakan WKCP, di Ayaarta Hotel, dia menuturkan.

Memasuki lingkungan baru, sekolah salah satunya, bukanlah hal mudah bagi setiap anak. Terlebih bagi anak difabel, memasuki sekolah inklusi, keluar dari zona nyaman dan berbaur dengan teman-teman nondifabel membutuhkan ketegaran, keyakinan, dan kepercayaan diri yang luar biasa besar.

Tidak banyak anak difabel yang sanggup memutuskan bersekolah di sekolah inklusi, sanggup mengatasi titik kritis, berjuang mengatasi kecemasan, bahkan berhasil membunuh rasa cemas dan takut, mampu melewati pikiran negatif.

Mensugesti Positif Diri

Namun itu tidak berlaku bagi Rohmad. Remaja pria anggota WKCP itu tak pernah membiarkan rasa cemas, takut, melintas dan mengganggu masa sekolahnya.

Dia selalu berbicara positif kepada dirinya sendiri, seperti “tenang, jangan takut”; “aku pasti bisa”; “semua akan baik-baik saja”; “santai”, dan lain sebagainya. “Saya memberikan sugesti positif pada diri saya sendiri,” ujarnya.

Sugesti positif itu membawa putra pasangan petani Supayanah dan Zarwidi itu sedari TK hingga perguruan tinggi, bersekolah di sekolah umum . Bagi dia, perasaan takut sekolah di sekolah umum atau sekolah inklusi muncul akibat pikiran-pikiran sendiri yang tanpa alasan jelas.

Tahapan demi tahapan pendidikan dilaluinya dengan santai, dan baik-baik saja. Namun demikian, pada usia SMP perundungan (bully) pernah diterimanya. Pelaku bully itu salah seorang teman sekelasnya. Sedang teman-teman lainnya membelanya, dengan melaporkan teman sekelas yang mem-bully. Bentuk bully yang dialami Rohmad ialah, tas sekolahnya disembunyikan, pernah pula locker-nya diberi sampah. Namun perundungan itu tidak membuatnya jatuh dan patah semangat.

“Selain saya selalu memotivasi diri dengan ucapan positif, dukungan teman-teman lain dan para guru menguatkan saya,” terang putra kedua dari tiga bersaudara itu.

Kemudian, ketika mahasiswa baru, manajemen kampus pusat meminta Rohmad pindah jurusan dari Prodi Biografi yang dipilihnya ke Prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB). Difabilitas yang menyertai menjadi alasan permintaan pindah jurusan. Namun lagi-lagi nasib baik berpihak padanya, Kaprodi Biografi, membelanya untuk tetap berada di prodi tersebut.

Pada akhirnya pendidikan tinggi diselesaikannya selama lima tahun. Dia lulus dan diwisuda pada 2016, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,2.

Terlahir ‘normal’

Dituturkannya pula, bahwa dia terlahir sebagai bayi yang ‘normal’. Namun pada saat duduk di kelas 5 SD, dia mengalami inveksi otak (brain inquery). Sejak itulah ia mengalami masalah tumbuh kembang. Inveksi otak berakibat pada otot tangan, dan kakinya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Demikian pula bicaranya pun menjadi tidak jelas. Pada intinya, Cerebral Palsy yang dialaminya bukan sejak lahir, melainkan mulai pada saat ia kelas 5 SD. Saat ini selain bergabung di Young Cerebral Palsy (remaja CP) di WKCP, dia juga bekerja sebagai pustakawan di Rumah Baca Indonesia. Pria yang berasal dari Bauran, Pleret, Bantul itu juga tergabung dalam organisasi peduli lingkungan KHOPI (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia).

Bahkan pada masa menjadi mahasiswa, Rohmadi pernah pula mendaki gunung. Gunung Andong di Magelang, merupakan gunung yang pernah ditaklukannya.

Di akhir perbincangan dengan Solider, Selasa (8/5) remaja pria kelahiran 31 Oktober1991 itu sekali lagi berpesan. “Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh kita orang difabel. Berpikir dan bertindak positif, mengoptimalkan kesempatan dan peluang, berjuang sebaik mungkin, itu yang harus dilakukan,” pungkasnya. [harta nining wijaya].

The subscriber's email address.