Lompat ke isi utama
salah asatu channel youtube difabel netra

Difabel Netra Jadi Youtubers? Siapa Takut

Solider.id, Bogor – Youtube; Sebuah platform yang menawarkan layanan berbagi video online kini menjadi salah satu hiburan alterenatif bagi masyarakat.  Youtube hadir dengan berbagai jenis kontent video. Mulai dari musik, pendidikan, film, siaran langsung, hingga video aktifitas sehari-hari menjadi alternatif tontonan para peselancar dunia maya. Tak hanya itu, para Youtubers (Istilah bagi pembuat kontent video Youtube), mendapat wadah menyalurkan kreatifitasnya.

Memiliki hambatatan dalam aspek visual tak menghalangi difabel netra turut menikmati layanan Youtube.  Mencari informasi, mendengarkan musik, menyimak film, hingga menonton siaran televisi, bukan lagi sesuatu yang asing bagi mereka. Meskipun software pembaca layar belum memiliki fitur mendeskripsikan gambar bergerak pada video, difabel netra tetap mampu menikmati konten Youtube dengan menyimak audio dari video yang dipilih.

Tak hanya sekadar menjadi penikmat kontent, kini  difabel netra telah banyak menjadi pembuat kontent video di Youtube. Hadir dengan slogan Broadcast Yourself, youtube menjadi wadah yang tepat mempublikasikan karya, termasuk bagi difabel netra. Ditunjang dengan kreatifitas, difabel netra tampil sebagai youtubers dengan kontent dan ciri khasnya masing-masing.

“Mulai fokus sebagai youtubers sekitar akhir Juni 2016, tapi mulai punya channel sudah sejak 2011. Waktu itu guru saya memberikan tugas membuat sebuah karya yang harus diupload ke Youtube.” Ujar Rino Jefriansyah.

Lain halnya dengan Dodi Yulianto, “Saya mulai ngevlog di Youtube sejak Februari 2018. Dasarnya memang saya suka ngotak-ngatik, dan saya ingin share ilmu yang saya tau. Saya rasa Youtube yang sekarang lagi ngetrend cocok nih buat nyalurin niat itu.”

Heru Sugiarto, difabel netra asal Kuningan mengatakan “Selain ngikutin trend, mulai jadi kreator youtube buat saya itu tantangan. Video informasi yang saya share juga sebenarnya buat arsip sendiri, jadinya caranya tau, link aplikasinya juga saya cantumin di deskripsi, bisa langsung comotlah.”

Ia menambahkan, “Youtube itu kan mudah banget diaksesnya mas, ketika video kita punya rating bagus nantinya akan dimunculkan pada halaman depan, ini yang membuat saya lebih milih youtube dibanding blog untuk share sesuatu.” Terang Rino Jefriansyah.

Suka Duka Youtubers Difabel Netra

Menjadi pembuat kontent Youtube tentu memiliki suka duka masing-masing. Tahapan pembuatan video, proses upload, hingga promosi kontent memberikan tantangan tersendiri bagi para youtubers. Tak terkecuali dengan para difabel netra, suka duka tersebut juga turut mereka alami.

“Untuk channel saya fokusnya di teknologi, proses pembuatannya juga sama dengan teman-teman youtubers pada umunya. Bikin konsep dulu, ngerekam terus diposting. Saya sendiri untuk ngevlog pake perekam layar, jadi untuk segi tampilan sejauh ini responnya aman-aman aja. Soal kendala sih, saya pribadi di editing, karena sampai sekarang belum ada software editor video yang aksesibel.” Ujar Dodi Yulianto pada 05/06.

Pengalaman lain diutarakan Rino Jefriansyah, “Channel saya yang aktif itu ada empat, ada yang bahas soal teknologi sama hiburan. Prosesnya juga nggak ada yang spesial, mikirin konsep dulu di kepala, terus merekam. Awal-awal jadi kreator habis direkam langsung saya upload, tapi sekarang saya kopi dulu ke laptop dan diedit meskipun software editingnya belum aksesibel. Habis diedit, bikin deskripsi diupload deh.” Jelas mahasiswa Universitas Pasundan tersebut 06/05.

Sementara itu, Heru Sugiarto menerangkan “Sesuai namanya sih All About Blind Accessibility, saya pengen bahas hal-hal yang mendukung aksesibilitas untuk teman-teman difabel netra. Karena peralatannya masih sederhana, sementara ini saya masih pakai handphone sama aplikasi perekam layar, soalnya kalau mau pakai kamera terus ngerekam langsung masih sulit, hasilnya sering kurang memuaskan. Pas editing juga saya rasa sama dengan teman-teman difabel netra lain, aplikasinya kurang aksesibel, namun saya siasati dengan menghafalkan letak-letak menunya aja.”

Tak hanya wadah eksis dan kesempatan berbagi informasi yang menjadi daya tarik Youtube. Terintegrasinya Google Adsense menjadi tambang penghasilan yang sukses memicu para kreator untuk menghadirkan kontent video. Dengan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, channel yang telah didaftarkan untuk dimonitisasi akan menampilkan iklan secara otomatis.

Kesempatan ini pula yang berusaha dicapai oleh youtubers difabel netra. Aturan 1000 subscribers dan 4000 jam tayang yang diterapkan sejak awal 2018, menjadi tantangan bagi para youtubers meningkatkan kualitas dan popularitas channel yang dikelolanya.

“Adsense sebenarnya saya hampir dapat, waktu itu aturannya masih 10000 viewers (penonton), tapi sayang banget, kurang lebih dua minggu setelahnya muncul aturan baru, jadi harus ubah haluan lagi, harus nambah subscribers sampai 1000. Tutur Rino Jefriansyah.

Lebih lanjut, pemuda yang akrab disapa Rino tersebut mengungkapkan “Untuk nambah subscribers sendiri saya biasa  share linknya di sosial media, terus kalau ada yang nanya saya kirimin linknya. Saya sendiri juga kadang-kadang bingung, banyak  teman yang minta bikinin tutorial, padahal udah ada yang pernah bikin sebelumnya, mereka bilang kalau lebih suka kalau saya yang bikinin. Itulah, Alhamdulillah saya cek terakhir subscribers channel saya yang Rino Jefriansyah udah nyampe 500 lebih.”

Testimoni lain diungkapkan Dodi Yulianto, “4000 jam sama 1000 subscribers emang berat sih tahun ini. Biasanya sih saya bagikan linknya di Facebook, Google+ atau di sosial media lain. Kadang-kadang juga saya pakai akun lain terus saya tontonin video saya sendiri supaya tembus jumlah jam tayangnya. Sering juga saling subscribe sesama youtubers. Tapi yah, meskipun berat, saya tetap optimis kok satu tahun ini bakalan tembus adsense.” Papar pemilik channel D YULIAN tersebut.

“Untuk subscribers, saya baru sih fokus disitu. Paling share di sosial media, kalau ada yang nanya kasiih linknya. Saya merasa, yang susah waktu naik dari puluhan ke ratusan, itu lama banget. Pas udah ratusan, udah agak cepat naiknya. Kuncinya konsisten aja sih.” Ujar Heru Sugiarto yang akrab disapa Kang Iyu.

Hadirnya Youtube mampu dimanfaatkan sebagai wadah publikasi oleh para difabel netra. Jumlah pengunjung yang tak sedikit di tiap harinya, menjadi peluang bagi para difabel untuk eksis dan mensosialisasikan dunia difabel serta kemampuan diri. Konsistensi, kemampuan pengelolaan channel, dan konten yang menarik dan berkualitas menjadi jalan bagi difabel meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup yang lebih baik. (Syarif Sulaeman)

The subscriber's email address.