Lompat ke isi utama
Hana sedang memberikan motivasi kepada KDD

KDD Belajar dari Pemilik Usaha English Cafe

Solider.id, Kulon Progo- Teriknya matahari di Jumat siang tak menyurutkan semangat 40 orang difabel dari 8 (delapan) Kelompok Difabel Desa (KDD) untuk belajar. KDD merupakan kelompok dampingan Tim Rintisan Desa Inklusi (RINDI), Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Yoyakarta.

Mereka berdiskusi dan bertukar pengalaman, yang dikemas dalam “Kelas Belajar KDD”. Kegiatan dilaksanakan di Aula Balai Desa Ngetakrejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo (4/5).

KDD tidak hanya terdiri dari enam desa dampingan RINDI di Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progon. Namun juga dari dua desa Sendangadi, Kecamatan Mlati dan Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman.

Hana Sukemi, selaku motivator di kelas belajar KDD kali ini mengatakan, difabel perlu membaca potensi diri, mengetahui kemampuan diri, dan bertekad mengoptimalkannya dalam sebuah bentuk karya produksi yang bernilai ekonomi.

“Harus kita miliki. Itu juga yang saya lakukan, sehingga saya memiliki pusat jajan dan oleh-oleh di Kulon Progo, membangun 60 cabang english cafe di berbagai tempat di Wilayah Daerah Iistimewa Yogyakarta (DIY),” kata Hana. “Saya juga difabel. Lutut saya tidak bisa ditekuk karena rematik akut. Lambung saya ini juga palsu, yang sudah saya gunakan sejak 30 tahun silam.”

Hana Sukemi mengutarakan, dibalik kekurangan masing-masing individu pasti ada kelebihan dan potensi. Menurutnya, kelebihan dan potensi merupakan aset. Jika jeli dan menyadarinya, maka dapat dioptimalkan menjadi  sebuah kemampuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Antusiasme peserta kelas belajar KDD muncul dengan berbagai pertanyaan. Seperti resep percaya diri, bagaimana menemukan kelebihan, menggali potensi yang dimiliki dan beberapa pertanyaan lain yang dilontarkan kepada Hana saat sesi diskusi.

Tanggapan serta tips-tips membangun mental pun disampaikan Hana. Pada kesempatan itu, Hana berjanji akan membantu memasarkan produk-produk olahan pangan, kerajinan dan lain sebagainya, baik melalui TOMIRA maupun toko miliknya.

Hana juga menghimbau agar pengusaha difabel mulai memiliki izin usaha, memperbaiki kualitas barangnya, siap menerima order sewaktu-waktu, serta menjamin kualitas mutu barang produksinya.

Berkontemplasi temukan potensi

Lebih lanjut, Hana mengutarakan bahwa ia dapat menemukan kelebihan dan potensinya melalui kontemplasi atau perenungan, meditasi, berdialog dengan diri sendiri. Sampai ia menemukan potensi yang dimiliki.

Kemampuan berbahasa Inggris, itulah yang Hana temukan. Kemampuan tersebut diperoleh dari kebiasaan orangtuanya yang menggunakan bahasa Inggris saat ‘ngrasani’ atau ngobrol dengan anak-anaknya. Seperti saat pamitan hendak ke pasar dan lain sebagainya.

“Saya memiliki kelebihan berbahasa Inggris sedari kecil. Karena saya terbiasa mendengar orang tua yang bahasa Inggris saat ngrasani anaknya, atau saat mau pergi ke pasar. Inilah yang saya garap sebagai kemampuan dan saya optimalkan,” ungkap perempuan yang memiliki 60 cabang usaha bernama english cafe itu..

Dari jumlah usaha yang dimilki Hana, salah satu cabangnya berada di Kulon Progo. Tepat di samping Toko Jajanan miliknya, di Jalan Sepur 4, Jogoyudan, Wates.  Selebihnya tersebar di berbagai tempat wilayah DIY. “Olife Cafe, salah satu english cafe di Timoho Yogyakarta,” imbuhnya.

Hana juga bercerita tentang usaha yang dilakukannya sampai memiliki 60 cabang english cafe. Saat usia SMA,setiap libur sekolah ia gunakan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Yogyakarta. Tujuannya hanya satu, yaitu bertemu wisatawan asing. Sampai ia pura-pura menyenggol turis hanya untuk mengucapkan “excuse me (Red: Maafkan saya) yang ia lanjutkan dengan percakapan, “what your name?” (Red: siapa nama anda?) dan percakapan dialog lainnya.

Hana mengaku dari kebiasaan tersebut mentalnya terbangun. Hana merasa mulai memiliki kepercayaan diri, menikmati hari liburnya dengan menjadi pemandu wisatawan (tourist guide), dan mendapatkan rupiah demi rupiah dari para wisatawan asing yang menggunakan jasanya.

Berbagi untuk sesama

Hana membagikan dan mempraktikkan pengalaman dengan membukausaha english cafe. Ia juga mulai menemukan keahlian lainnya, yakni membuat olahan pangan. Keripik peganggan, olahan pertama yang dibuatnya. Keripiknya laris manis, hingga ia kewalahan memenuhi pesanan. Selain dijual di toko milikmya, keripik peganggan juga dijual di toko swalayan TOMIRA yang berada di Kulon Progo. Bahkan, keripik peganggan juga menjadi oleh-oleh khas wisatawan baik lokal, nasional maupun mancanegara.

Setelah membagikan pengalaman, Hana menghimbau kepada difabel peserta Kelas Belajar KDD untuk tidak berhenti menggali potensi dan kelebihan yang ada pada diri masing-masing. Agar kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Pasti setiap orang memiliki kelebihan. Silahkan berdialog dengan diri sendiri, temukan, dan optimalkan!” serunya. “Mari manfaatkan potensi yang dimiliki saat ini. Kemampuan itu bisa jadi nanti akan bertambah dan berkembang. Optimalkan, untuk hidup yang bermartabat dan bermanfaat!” Hana Sukemi mengakhiri. [Harta Nining Wijaya]

 

The subscriber's email address.