Lompat ke isi utama
Salah satu pemateri sednag memantik peserta tentang kearifan lokal

Membangun Masyarakat Inklusif melalui Kearifan Lokal di Kabupaten Malang

Solider.id, Malang- Wakil Proyek Manajer Program Indepth Rights PPRBM Bhakti Luhur, Theresia Puji Astutik mengajak masyarakat di Kabupaten Malang untuk bersama- sama menciptakan lingkungan inklusif. Salah satu jalannya melalui kearifan lokal atau kebiasaan masyarakat setempat. Sebab, menurutnya satu tempat dengan tempat lainnya memiliki karakteristik yang berbeda.

Hal ini dipaparkannya dalam pertemuan bertajuk Sosialisasi Program Inklusi Disabilitas PPRBM Bakti Luhur pada Rabu, (2/5). Sosialisasi dihadiri perwakilan perangkat kecamatan, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat dan organisasi masyarakat di Kantor Kecamatan Lawang Kabupaten Malang.

"Dalam karya kami sebelumnya di lima kecamatan di Kota Malang, berbagai kegiatan kami lakukan hingga terbentuknya paguyuban orangtua anak berkebutuhan khusus di setiap kecamatan," tutur Astutik-sapaan akrabnya.

Pihaknya, bersama masyarakat juga membuat kegiatan orangtua difabel lintas kecamatan di kota Malang. Turut mengawal pelaksanaan tiap kegiatan di Kabupaten Malang, khususnya Kecamatan Lawang. Namun tetap dengan memberikan ruang kepada masyarakat untuk berinisiatif, serta situasi dan kondisi lingkungan setempat.

“Kita sesuaikan dengan kearifan lokal agar kegiatan efektif berjalan,” imbuhnya. Astutik berharap pertemuan ini bisa berlanjut, utamanya untuk mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan untuk tahap selanjutnya.

Menurut Astutik, dari pengalamannya selama ini, kendala utama pemerintah desa tidak banyak paham tentang difabilitas. Sehingga kepedulian kerap kali tidak optimal karena tidak tahu langkah paling tepat yang harus dilakukan.

Dari persoalan tersebut, Astutuik melanjutkan pihaknya akan mengadakan berbagai pelatihan bagi perangkat desa dan aktor penggerak lainnya. Di antaranya pelatihan identifikasi ragam difabilitas dan pendataan difabel. Program ini tak hanya menyasar pada individu difabel dan keluarganya, melainkan komunitas, institusi dan peran aktif masyarakat.

“Sesuai misi dan tujuan yaitu peningkatan kesempatan hidup bagi difabel dalam lingkungan yang lebih inklusif,” tandasnya. Astutik kembali berharap dengan program ini masyarakat difabel akan menikmati peningkatan layanan kesehatan dan penghidupan di akhir 2020 di wilayah yang ditargetkan.

Dalam kesempatan yang sama Pembina Lingkar Sosial Indonesia, Kertaning Tyas berharap hadirnya program Bakti Luhur di Kabupaten Malang mampu menjadi sinergi yang baik bagi lintas organisasi dan masyarakat. Menurutnya persoalan difabilitas adalah masalah kemanusiaan, sehingga menciptakan masyarakat inklusif adalah tanggungjawab semua pihak.

Menurutnya, salah satu persoalan utama masyarakat difabel yakni pendataan. Belum ada pendataan khusus bagi difabel, sehingga kebijakan pembangunan tidak mengakomodasi hak dan kepentingan masyarakat berkebutuhan khusus. Pengalaman Bakti Luhur di Kota Malang dalam pendataan difabel dan pembentukan paguyuban orangtua ABK bisa diterapkan di Kabupaten Malang.

"Berkaitan dengan kearifan lokal di Kabupaten Malang terdapat beberapa organisasi difabel dari berbagai ragam difabilitas, yang tergabung dalam Forum Malang Inklusi," ungkap Kerta. Khususnya di kecamatan Lawang juga terdapat kelompok kerja difabel dan taman baca masyarakat Lingkar Sosial. Harapannya kearifan lokal ini bisa menjadi energi kolaborasi mencapai masyarakat inklusif. [Ken]

The subscriber's email address.