Lompat ke isi utama
Widi Haryanti aktivis difabel

Widi Haryanti: Usia Bukan Halangan untuk Terus Berjuang

Solider.id, Yogyakarta- Menjadi aktivis itu bukan hanya porsi orang-orang muda saja. Menjadi aktivis juga tidak membedakan usia, gender, agama, suku bangsa maupun status sosial lainnya. Berjuang, membangun gerakan, menciptakan perubahan, itu milik orang-orang yang memiliki komitmen dan pantang menyerah.”

Suatu kali dalam sebuah pertemuan, perempuan paruh baya itu berutur. Baginya, setiap perubahan sosial mesti melalui proses panjang. Mulai dari gigih berjuang, membangun jaringan, menyuarakan ketidakadilan, sampai berapapun usia. Perempuan berumur 61 tahun itu memang tidak lagi terlihat muda. Namanya Widi Haryanti,

Widi-sapaan akrabnya- seorang disabilitas polio. Ia menggunakan bruce di kaki kanannya sebagai alat bantu menopang tubuhnya agar tetap dapat beraktivitas. Saat ini, ia merupakan satu-satunya difabel yang terlibat sebagai Panitia Pemungutan Suara (PPS) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta. Ia bertugas sebagai PPS di Kadipaten, Kecamatan Kraton.

Ditemui pada saat Kursus Kepemiluan di KPU Kota Yogyakarta, ia berkisah tentang perjalanannya sebagai seorang aktivis. Ia berpartisipasi di setiap penyelenggara pemilu yang telah dilakoninya di beberapa Pilkada dan Pemilu pada tahun-tahun sebelumnya. Ia tidak pernah absen memberikan pendidikan politik kepada sesama difabel, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Tidak ingin diabaikan

Widi bertutur bahwa kesempatan itu, tidak begitu saja hadir padanya. Ia melewati berbagai pengalaman dan menyerap pengetahuan. Mengenal tentang sebuah perjuangan. Ia ingin menunjukkan dirinya memang mampu, tidak mau dipandang sebelah mata. Begitupun dengan teman-teman difabel lainnya.

Dari perjuangannya, ia mulai dipercaya masyarakat. Terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk sebagai salah satu penyelenggara Pemilu yang kini sedang dilakoninya.

Perjuangan itu telah dimulainya sejak dua puluh tahunan silam. Mengawal berdirinya sebuah lembaga sosial masyarakat di Jogja, pernah dilakukannya. Hingga usianya menapaki senja, perempuan dengan rambut pendek sebahu itu masih terus eksis di berbagai kegiatan.

Selain mengawal penyelenggaraan Pemilu, Widi juga menjadi pengurus organisasi olahraga bernama National Paralympic Committee (NPC) DIY, yang khusus mewadahi para atlet difabel.

Selain itu, ia merupakan salah satu bagian dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) untuk DIY yang aktif memberikan dukungan pada perempuan difabel yang kini juga ia geluti.

Sebagai PPS pada Pemilu Serentak 2019, Widi bertutur tentang apa yang akan ia lakukan. Salah satunya memastikan partisipasi 135 orang di PPS se Kota Yogyakarta. “Satu-satunya difabel yang terlibat hanyalah saya. Saya berada pada devisi sosialisasi. Sosialisasi dari KPU sudah ada, bahkan kesempatan dibuka lebar pada jauh-jauh hari,” ujarnya.

Ia berharap, kawan-kawannya difabel mau menggunakan kesempatan yang sudah dibuka lebar. “Kesempatan itu telah dibuka lebar, mari kita semua optimis. Kita bisa, kita bisa diterima oleh masyarakat. Penerimaan masyarakat itu berdasar apa yang kita lakukan,” harapnya.

Baginya, kedisabilitasan tidak mebuat langkah perjuangan terhenti. Meski, ia meyakini setiap orang masih merasa dianggap sebagai orang yang lemah. Dipandang sebelah mata, bahkan tidak jarang diabaikan. “Tetapi ketika difabel itu bisa membuktikan bahwa dirinya mampu berperan di lingkungan sekitarnya, anggapan itu secara perlahan akan berubah,” tutur Widi.

Menurutnya, cara pandang masyarakat akan berubah sejauh mana teman-teman difabel dalam berjuang. “Apa yang kita panen adalah hasil dari apa yang kita tanam,” imbuhnya. Pada kesempatan itu, Widi menghimbau kepada teman-teman difabel agar percaya diri, berpartisipasi dalam setiap kehidupan bermasyarakat, turut serta ambil peran, ambil bagian sesuai dengan kemampuan.

Difabel harus aktif

Bagi Widi, sebagai difabel tidak bisa pasif dan hanya menunggu, tetapi harus pro aktif. Dengan begitu, ruang dan kesempatan akan terbuka. Difabel akan semakin dipandang karena kemampuannya. Meski ia juga mengerti, ada di antaranya teman difabel yang tidak bisa aktif dalam berbagai kegiatan dengan alasan yang melatarbelakangi.

“Difabel itu tidak memiliki kepercayaan diri, serta tidak paham sama sekali  tentang seluk beluk pemilu, hanya tahu tentang memilih, menjadi faktor utama. Yang lainnya, difabel memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, atau minimnya mobilitas  serta tidak adanya dukungan dari masyarakat,” lanjut Widi.

Widi juga menyinggung bahwa sebagian besar difabel belum memungkinkan untuk terlibat sebagai volunteer atau relawan. Karena difabel harus mencukupi kebutuhan pokoknya terlebih dahulu. Hal itulah yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian. [Harta Nining Wijaya]

The subscriber's email address.