Lompat ke isi utama
Arief sedang melakukan gerakan breakdance di sebuah acara tv nasional

Arif Setyo Budi, Wirausahawan Muda yang Jago Breakdance

Solider.id, Surabaya- Ia terlihat tegak berdiri dengan tangan kanan memegang alat bantu kruk di sebuah panggung megah milik salah satu stasiun televisi nasional. Beberapa detik, ia menaruh kruk di belakangnya. Ia melompat kesana-kemari, sesekali menendang-nendang kecil kemudian berjongkok untuk berputar dengan satu kaki. Lalu, terdengar suara tepuk tangan dari para penonton.

Sosok pria di atas panggung itu ternyata sedang melakukan Breakdance, sebuah genre tarian yang sudah dikenal banyak orang, khususnya di Indonesia. Sebuah tarian yang mempertontonkan gerakan yang bisa membuat orang yang melihatnya terperangah, atau kaget karena gerakannya sangat berisiko.

Pria penari itu bernama Arief Setyo Budi yang sedang tampil di sebuah acara yang kemudian diunggah sebauh akun Youtube. Rupanya sudah banyak unggahan video yang mengulas tentang bakat menari dari pria kelahiran 15 Mei 1987 di Kota Malang ini.

Para penonton kembali bersorak-sorai ketika Arif melakukan gerakan menyanggah badannya dengan kepala yang ia tempelkan di lantai tari, dua tangannya turut menopang tubuhnya. Tidak lama, ia kembali berputar-putar dalam beberapa menit sebelum tariannya diakhiri.

Pria yang akrab disapa Arif ini merupakan difabel daksa amputasi kaki yang disebabkan kecelakaan di tempat ia bekerja di sebuah perusahaan plastik di Sidoarjo pada 2007 lalu. Ia mengaku bakat menari Breakdance sudah diasahnya sejak di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Sesuatu  yang  nggak mudah untuk dilakukan adalah  mampu “berdamai” dengan keadaan, bisa menerima keadaan yang sekarang yang mungkin berbeda dengan keadaannya yang dulu, bahkan beberapa dari mereka mampu menginspirasi yang lain,” kata Arief dalam sebuah perjumpaan singkat di sebuah acara yang kita ikuti bersama di Surabaya.

Kini, ia merasa sudah berdamai dengan masa lalunya sampai ia menemukan hobi menarinya. Sejak saat itu, ia sering berlatih secara otodidak menggunakan satu kakinya, bahkan sampai menambah jadwal latihannya.

“Hanya dengan satu kaki. Saya menguasai gerakan dasarnya, tinggal menyesuaikan dengan keadaan dan berlatih secara intensif,” kisahnya. Ia juga dapat membuktikan ekspektasi pandangan orang “Kalau breakdance tak hanya untuk nondifabel, difabel juga bisa,” imbuhnya.

Usaha memang tak akan pernah mengkhinati hasil. Arief memerbuktikan itu dengan masuk babak 48 besar di sebauh kompetisi nasional bernama Indonesia Mencari Bakat (IMB) pada 2012 lalu. Sejak saat itu ia mulai dikenal banyak orang dan mampu mematahkan pandangan masyarakat yang beranggapan difabel tidak bisa berprestasi. Ia selalu berharap dengan apa yang ia lakukan, masyarakat dan pemerintah tidak lagi memandang sebelah mata kepada difabel.

Di acara yang kita ikuti bersama, Arief menjelaskan proses penerimaan diri sangat menentukan pembentukan mental seseorang. “Ketika bisa menerima diri sepenuhnya, maka akan berdampak positif pada keadaan mental kita,” tuturnya.

Arief juga menceritakan beberapa prestasi yang pernah ia raih. Ia sering ikut even lokal di kota Malang sampai tingkat Nasional. Ia menjadi juara 2 kompetisi breakdance di tingkat Jawa Timur pada 2012 dan kembali menyabet juara 2 di kompetisi yang sama pada tahun selanjutnya. “Dan beberapa juara di even-even kecil. Tapi lupa,” ingatnya.

Selain sebagai seorang penari, Arif saat ini juga bergelut di bidang kewirausahaan. Ia membuka bisnis kafe di kota Malang dan sering diundang untuk menjadi narasumber di berbagai acara dan seminar. Ia merasa bersyukur, di balik apa yang ia raih ada sosok orangtuanya yang sangat mendukungnya.

Ia masih ingat ketika kecelakaan itu menimpanya, kedua orangtuanya senantiasa mendampingi dan merawat, sampai bolak-balik kontrol ke salah satu Rumah Sakit di Surabaya. Selain itu, apapun kegiatan yang ia lakukan, orangtuanya tidak pernah melarang dan membatasinya.

Melalui hobi dan prestasinya Arif telah berhasil menunjukan bahwa berjuang harus diawali dengan niat dan usaha yang kuat. Walaupun ia masih merasa perhatian dari masyarakat dan pemerintah masih minim terhadap difabel. “Tetapi tak menyurutkan semangat saya untuk terus berkarya,” tutupnya. [Fira Merenda Asa]

The subscriber's email address.