Lompat ke isi utama
Salah satu kover film tentang autis berjudul I am Sam (Sumber foto: Google)

Film-Film dengan Karakter Autis

Solider.id, Surakarta- Membuat sebuah film bergerak tentu sangat mudah bagi komunitas yang berkecimpung dalam produksi perfilman.Tapi, bagaimana sebuah film dapat tersampaikan kepada pemirsa yang budiman atau, sebuah film hadir tidak semata-mata sebagai hiburan, merupakan suatu pertanyaan selanjutnya.

Sehingga, film dalam sudut pandang tersebut, ditempatkan sebagai alat untuk mengonstruksi atau mengubah suatu kondisi sosial tertentu. Artinya, film sebagai bagian dari media dapat menjadi alat advokasi suatu isu yang akan diusung.

Produksi film sebagai media tentu berbeda dengan media massa cetak, televisi, dan online yang harus berada di posisi netral. Meski tidak dipungkiri dari kedua media, baik film ataupun media massa tidak demikian murni, sebab tergantung dari kepentingan penyedia kapital atau modal di belakang produksinya. Dari sinilah, peluang bagi komunitas yang konsen dalam perfilman yang advokatif dapat berperan.

Contoh kecil advokasi dari film komunitas, ia bisa untuk mengkonter tontonan yang selama ini bertentangan dengan hak-hak kemanusiaan. Semisal, katakanlah di Indonesia, film yang diproduksi komunitas memberikan tontonan yang lebih “bernilai” daripada sekadar sinetron berjudul “Tuna Netra Naik Haji”, “Tukang Cilok Jatuh Cinta Kepada si Gadis Kaya” dan film lainnya yang sarat akan paradigma yang keliru.

Katakanlah film tentang advokasi difabel yang pernah diproduksi Sasana Inklusi dan Advokasi Difabel (Sigab) berjudul “Pencari Keadilan”. Bagi beberapa penonton (terutama saya) menafsirkan, film tersebut memiliki nilai lebih. Sebab ada suatu persoalan di dalamnya yang menjadi titik advokasi untuk diluruskan. Melihat kondisi di masyarakat yang masih banyak kasus-kasus difabel berhadapan dengan hukum tidak terselesaikan. Selain itu juga masih gagap dalam memberikan akomodasi yang layak bagi difabel di peradilan.

Dari sekian produksi film yang bersifat advokatif, beberapa film layar lebar juga dapat menjadi rujukan pemirsa dalam memahami suatu persoalan, khususnya dalam konteks isu difabilitas. Film-film yang memberikan gambaran kehidupan seseorang. Ia ada seakan menjadi perwakilan atas perlakuan masyarakat yang dapat menjadi bahan refleksi.

Berikut adalah judul-judul film yang bertemakan tentang autis. Sengaja penulis pilih secara acak, dengan referensi dari berbagai media, dengan tujuan bisa dipergunakan sebagai bahan perenungan diri,atau bahkan untuk media advokasi dan pemberdayaan. Tidak ada kriteria khusus untuk memilih dan menentukan. Pilihan hanya berdasarkan referensi dan pengalaman penulis saat menikmati film tersebut dan mengklasifikasikan sebagai film dengan karakter autis.

  1. A Briliant Young Mind

Film produksi Inggris yang berjudul asli X+Y ini lebih dikenal dengan judul A Briliant Young Mind. Film ini dirilis pada 2014 dan resmi beredar di bioskop pada 2015. Film yang disutradarai James Graham ini banyak mendapat penghargaan di berbagai festival film di Inggris. Bercerita tentang seorang tokoh bernama Nathan Ellis, seorang anak berusia 9 tahun yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang Matematika. Namun, dia memiliki hambatan bersosialisasi dengan orang lain, termasuk ibunya. Nathan hidup dengan dunia yang penuh aturan. Dia menyukai warna, pergerakan dan matematika. Oleh sang ibu, Nathan didaftarkan di kelas Matematika dan menjadi kandidat juara matematika bergengsi mewakili Inggris. Di sanalah ia mencoba untuk mendobrak stigma dan belajar bersosialisasi hingga bertemu dengan Zhang Mei, teman belajar selama di kota Shanghai. Nathan akhirnya menemukan kembali rasa kehilangan ayahnya. Rasa kehilangan Zhang Mei saat perempuan itu pergi menegaskan bahwa Nathan pun memiliki rasa cinta.

  1. The Accountant

Film ini mengisahkan seorang tokoh bernama Christian Wolff yang sejak kecil terdiagnosa autis. Christ lalu berkembang menjadi seorang akuntan. Kliennya orang-orang penting di dunia, yang sangat percaya kepadanya. Dia bahkan dijuluki sebagai “kalkulator berjalan” dan kredibilitasnya tidak diragukan. Dia sangat perhitungan dan teliti. Kejeniusannya ditunjukkan dengan hanya semalam bisa menemukan fakta data pembukuan selama 15 tahun. Tak hanya piawai pembukuan, Christ juga mahir dalam kemampuan menembak dengan akurasi sangat tinggi. Dibesarkan oleh ayahnya yang berprofesi sebagai tentara dan memiliki kedudukan penting di angkatan darat Amerika, semua yang diajarkan ayahnya diharap dapat menjadi bekal hidup aman dan bisa untuk jaga diri. Film produksi Warner Bross ini uniknya menampilkan olah raga khas Indonesia: pencak silat.

  1. The Imitation on Game

Film ini berdasarkan kisah nyata seorang cryptanalyst legendaris Alan Turing. Ia salah satu ahli Matematika terbaik di dunia dan Enigma, pembuat kode terhebat sepanjang sejahar dunia. Dikenal sebagai mesin turing, cikal bakal komputer dalam bentuk PC yang penuh dengan kode-kode. Algoritma matematika yang yang rumit dalam pengembangan komputer justru berawal dari kisah penuh konflik peperangan. Alan Turing yang diperankan dengan sangat apik oleh Benedict Cumberbatch. Kisah nyata berlatar 1941 ketika terjadi perang dunia kedua. Alan Turing lulusan Universitas Cambridge dan sangat gemar memecahkan kode-kode rahasia bergabung dalam aksi rahasia yang diemban oleh kerjaan Inggris. Tugas rahasianya adalah memecahkan kode dari mesin pesan Enigma milik Jerman. Mesin ini memiliki kode hingga 159 triliun kode setiap harinya. Alan lalu membuat mesin untuk memecahlan kode tersebut yang menyerap biaya hingga 100 ribu poundsterling, uang yang sangat besar saat itu. Alan Turing sosok yang tidak mudah bergaul sehingga dikucilkan hingga kemudian suatu saat ia dekat dengan seorang perempuan.

  1. The Black Baloon

Film yang dirilis 2008 ini menjadi film anak-anak terbaik pada Asia Pasific Screen Award 2008 dengan meraih 6 penghargaan dari 11 nominasi yang diperoleh. Serta meraih Crystal Bell dari Berlin International Film 2008. The Black Balaoon bercerita tentang jaringan otak dan syaraf yang tidak berkembang secara sempurna, kemudian awam menyebutnya sebagai autis. Charlie (Luke) yang memiliki usia biologis 18 tahun namun usia mentalnya 5 tahun. Begitu merepotkan keluarganya karena sikap sinis, stigma, olok-olok, merendahkan bahkan hinaan yang dihadapi. Namun mereka akhirnya berdamai dengan keadaan.

  1. My Name is Khan

Film yang dibintangi aktor Shahrur Khan ini menceritakan tentang seorang pengidap A Sperger Syndrom dengan ciri-ciri sikap yang bagi awam dibilang aneh, berjalan terus membungkuk atau setengah melompat, tidak menatap mata lawan bicaranya, takut pada tempat-tempat baru dan kebisingan, serta suka menggenggam tiga butir kerikil. Shahrur Khan yang berperan sebagai memerankan Rizwan Khan ini sangat jenius bahkan saat dia bisa menemukan data keberangkatan presiden Georgr W. Bush saat akan naik pesawaat. Bahkan dia menjadwalkan perjalananya dan lalu ditangkap karena ia diduga teroris. Khan menuangkan semua perasaannya dalam sebuah buku pemberian sang ibu. Ada adegan saat Khan menguping pembicaraan tentang bentrokan warga Hindu dan Islam dan Khan turut menirukan. Di situlah pesan ini diperoleh. Sang ibu menjelaskan tentang perbedaan di dunia ini bahwa tidak ada bedanya orang Hindu dan Islam, yang ada di dunia ini hanya dua, orang baik dan jahat.

  1. The Good Doctor

Ini adalah film drama seri Amerika berdasar serial penghargaan pada 2013 dari Korea selatan. Film ini bercerita tentang dokter ahli bedah yang masih muda dengan autisme dan sindrom Savant. Dokter ini direkrut oleh sebuah rumah sakit ke unit bedah anak di sebuah rumah sakit bergengsi. Suatu hari, Martin Blake (si tokoh) yang masih muda dan ambisius namun suka merasa cemas ketika melakukan tindakan ekstrem demi menyelamatkan nyawa pasiennya.

  1. Malaikat Juga Tahu (Rectovorso)

Bunda adalah pemilik kos yang mempunyai dua anak abang dan adek. Abang menyandang autis dengan disabilitas mental. Sehingga ketika usia 38 tahun memiliki usia mental empat tahunan. Sedangkan adek pergi ke luar negeri. Abang bersahabat dengan salah seorang penghuni kos hiungga jatuh hati padanya. Namun sang gadis justru jatuh hati kepada si adek. Dengan lembut Bunda meyakinkan dengan sangat gadis kost. Namun si gadis memilih pergi dari rumah kos itu. Bunda menemani Abang di setiap malam Minggu dengan memberantakkan barang-barangnya sampai lelah dan tertidur. Atau jika tidak demikian Bunda memberikan obat penenang untuk menutup hari. Begitulah sedikit gambaran singkat tentang film asal negara Indonesia.

  1. Temple Grandin

Temple pergi ke rumah bibinya yang memiliki peternakan sapi. Suatu saat Temple merasa stres lalu teringat bagaimana para gembala peternakan memiliki alat untuk mengurangi rasa stres pada sapi-sapi. Temple meminta bibinya melakukan hal itu. Pada 1966 sang ibu menjemput Temple dan mengajaknya untuk bersekolah lagi. Tahun itu dia masuk universitas dan mengalami gugup yang luar biasa yang membuatnya depresi dengan lingkungan baru. Sejak usia empat tahun Temple memang sudah divonis autis. Dokter yang mevonis Tempel menyarankan sang ibu, agar Tempel dimasukkan ke tempat khusus. Namun ibunya bersikeras mendidik seperti anak lainnya lalu menyewa terapis bicara untuk Temple. Di universitas Tempel membuat alat seperti yang ada di peternakan bibinya. Untuk penghilang stres dengan instrumen tambahan. Dia juga menemukan cara membunuh sapi dengan cara yang lebih efektif.

  1. Forest Gump

Forest Gump dimainkan dengan sangat apik oleh Tom Hank. Forest terlahir dengan IQ 75, padahal IQ minimal untuk masuk ke sekolah negeri adalah 80. Setelah melalui ‘pergulatan’ Forest akhirnya diterima di sekolah negeri. Di sekolah dia mengenal gadis bernama Jenny yang ditinggal ibunya meninggal. Ia sering bermain, bernyanyi bersama dan Forest memiliki hal yang tidak dimiliki oleh kawan seusianya yakni, berlari kencang. Suatu kali Forest dikejar teman-temannya hingga masuk ke lapangan American Football, hingga direkrut menjadi pemain andalan dan memiliki banyak prestasi sepak bola sampai lulus sarjana. Forest lalu masuk militer dan bertemu sosok Bubba, pemuda kulit hitam. Saat diterjunkan di perang Vietnam, kemampuan lari yang luar biasa dari Forest berhasil menyelamatkan nyawa-nyawa serdadu. Kisah berlanjut saat Forest berkenalan dengan Jenny.

  1. Adam

Film 2009 bergenre drama-romance ini bercerita tentang seorang laki-laki bernama Adam Raki. Sekilas Adam tampak laiknya laki-laki pada umumnya. Namun sebenarnya Adam menutupi jati dirinya. Sejak lahir, Adam menyadang sindrom Asperger yang berakibat sulit mengungkapkan perasaan, alias sulit berkomunikasi dengan orang lain. Ia penyuka hal-hal berbau luar angkasa, menyimpan baju astronot dan memiliki kecerdasan luar biasa. Film ini menarik karena menggambarkan kisah yang unik.

Film-film di atas tidak hanya menarik dari segi tontonan. Lebih dari itu ia menyimpan nilai dan sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang mayoritas masyarakat, khususnya tentang autis. Melalui film yang bertajuk autis di atas, kita dapat merefleksikannya dan menerapkannya di dalam lingkungan sosial.

Selain 10 film di atas, sebenarnya masih ada beberapa fil yang bertemakan autis seperti What Eating Gibert Grape?, I am Sam, Rain Man, Keep The Change dan film lainnya yang bisa kita tonton. Sejatinya, film tidak hanya menjadi tontonan, namun juga tuntunan. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.