Lompat ke isi utama
Foto kegiatan TUSIWORK

TUSIWORK: Wadah Pemuda Makassar Berbaur Bersama Difabel Netra

Solider.id, Makassar – Manusia adalah makhluk sosial. Terlahir untuk saling melengkapi satu sama lain, adalah hakikat kesempurnaan manusia. Memberikan hal terbaik untuk sesama dan menjadi pribadi yang membawa manfaat untuk orang lain, menjadi prinsip yang harus dipedomani setiap insan. Hal ini yang mendorong sekelompok pemuda di Kota Makassar untuk semangat berbagi ilmu dengan para difabel.


Dalam program yang diberi tajuk TUSIWORK yang merupakan akronim dari Tunanetra Sighted Network, kelompok pemuda tersebut mengadakan pelatihan bagi para difabel netra yang berdomisili di Kota Makassar. “TUSIWORK adalah program pendidikan, komitmen kami melalui kegiatan ini teman-teman difabel netra dapat mengembangkan kemampuannya.” Ujar Herviana Kamaluddin yang merupakan ketua program.


Bersama dua sahabatnya, Herviana Kamaluddin menginisiasi lahirnya TUSIWORK. “Kami yakin kalau teman-teman difabel netra punya potensi yang luar biasa, dan saya pribadi memang konsen dengan isu difabel netra. Sebelum program TUSIWORK ini lahir, saya sudah wawancara dengan teman-teman difabel netra mengenai kehidupan mereka. Kebersamaan dengan difabel netra khususnya saat pendampingan memberikan gambaran kepada saya tentang potensi yang mereka miliki. Setelah diskusi dengan Kak Citra dan Kak Eni, kami sepakat membuat program TUSIWORK ini.” Jelas wanita yang akrab disapa Evi tersebut.


Lebih lanjut Herviana Kamaluddin menjelaskan “Program ini fokus kepada tiga bidang yaitu komputer, literasi dan Bahasa Inggris. Kelas komputer dibagi menjadi dua kelas, kelas Microsof Office dan programing. Kelas literasi kami fokus pada pembuatan cerita pendek dan dunia citizen journalism. Kemudian kelas Bahasa Inggris fokusnya pada pembentukan kemampuan berbicara sehari-hari.” Terang alumnus Universitas Hasanuddin tersebut.


Bertempat di Kompleks Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia (YAPTI) Makassar, Jl. Kapten Pierre Tendean Blok M No. 7, program TUSIWORK diadakan sekali sepekan. Sabtu siang pukul 13.30 WITA dimulai dengan kelas Bahasa Inggris dan 15.30 WITA untuk kelas literasi. Untuk Minggu dimulai pada 13.30 WITA untuk dua kelas Microsof Office dan 15.30 WITA untuk kelas programing dan satu kelas Microsoft Office.


“Pengajar dan pendamping yang kami rekrut dalam program ini telah diseleksi berdasarkan CV dan wawancara. Untuk pengajar semuanya telah memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman serta kompetensi yang sesuai, dan untuk pendamping kami tempatkan di kelas-kelas yang sesuai dengan minat dan kompetensinya.” Jelas Herviana Kamaluddin pada 04/23.


Pembelajaran dilakukan dalam kelas yang melibatkan pengajar, pendamping dan peserta. Pengajar bertindak sebagai fasilitator dan pendamping sebagai partner belajar. Pada pembelajaran Bahasa Inggris pengajar akan menyampaikan dan menerangkan materi pembelajaran dan pendamping akan menjadi partner peserta berlatih khususnya dalam hal speaking.


Pada kelas literasi, selain menerangkan dan menjelaskan materi, pengajar dan pendamping secara bergantian membacakan tugas mingguan peserta berupa tulisan-tulisan singkat. Setelah itu pengajar, pendamping dan peserta berdiskusi bersama membenahi tugas yang telah dibacakan.


Di kelas komputer, pengajar menjelaskan materi yang selanjutnya dipraktikkan para peserta. Dalam mempraktikkan materi, peserta ditemani oleh pendamping yang membantu peserta mengikuti instruksi yang disampaikan pemateri. Pengajar dan pendamping juga membantu peserta memasukkan data-data seperti teks latihan yang akan diolah.


Surya Alif, salah satu tim pengajar programing mengungkapkan “Saya belum pernah berinteraksi dan terlibat langsung dalam kegiatan dengan teman-teman difabel netra, bukan karena tidak mau tapi lebih karena kurang mengetahui informasi wadahnya. Tahu tentang TUSIWORK juga awalnya dari salah satu sosial media dan saya merasa tertarik karena ada kelas programing yang memang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya.”


“Awal berinteraksi dengan teman-teman di kelas membuat anggapan saya tentang difabel netra  banyak berubah khususnya dalam hal kemandirian. Empat bulan menjadi pengajar, justru saya yang banyak belajar dari teman-teman difabel netra, mulai dari penggunaan shortcut sampai menjelaskan secara deskriptif.” Ungkap mahasiswa teknik informatika tersebut  (23/4).


Faisal Nur Syarif, salah satu pendamping di kelas Microsof Office mengutarakan “Tahu program ini awalnya dari broadcast teman di sosial media, saya kemudian isi formulir, melengkapi persyaratan yang diminta dan terakhir wawancara. Ini menjadi pengalaman pertama saya menjadi pendamping.”


“Empat bulan ikut terlibat di kegiatan ini, saya akhirnya paham tentang teman-teman difabel netra khususnya tentang cara belajarnya. Sebelum terlibat dalam kegiatan ini saya sendiri juga bingung bagaimana cara teman-teman difabel netra belajar, dan disini saya tahu kalau ternyata ada software yang bisa membantu difabel netra mengoperasikan komputer.” Papar pemuda yang akrab disapa Ical pada 04/23.


Tak hanya sekadar menjadi teman belajar peserta, ketika para pengajar berhalangan hadir, beberapa pendamping selalu siap menggantikan tugas mengajar. “Ketika tim pengajar komputer berhalangan hadir, saya diminta menggantikan mereka. Materinya waktu itu tentang rumus IF, sempat pusing juga karena ada komputer yang erorr ketika memasukkan rumus. Sekitar 20 – 30 menit, saya bersama teman pendamping dari STIMIK akhirnya dapat solusinya yang ternyata hanya salah pada satu simbol.” Ujar Faisal Nur Syarif menceritakan salah satu kisah berkesannya.


“Pengajar dan pendampingnya seru, materinya juga menarik meskipun beberapa teman ketika ditanyai mengenai pelajaran di minggu sebelumnya kadang-kadang lupa, untuk saya pribadi pelatihan TUSIWORK ini sangat bermanfaat dan saya merasa tidak mengalami kesulitan selama mengikuti pelatihan ini.” Tutur Muhammad Ilham salah satu peserta pada 04/23.


Jumlah peserta di setiap kelas berbeda. Kelas Bahasa Inggris dibagi menjadi dua kelas yang masing-masing terdiri 5 peserta. Kelas literasi juga dibagi menjadi dua kelas yang masing-masing pesertanya empat orang. Kelas Microsoft office dibagi menjadi tiga kelas yang jumlah pesertanya beragam antara emppat sampai enam orang. Untuk kelas programing terdapat satu kelas yang pesertanya sebanyak lima orang. (Syarif Sulaeman)

The subscriber's email address.