Lompat ke isi utama
Forrest Gump

Difabel dalam Pusaran Budaya Populer

Solider.id, Yogyakarta - Budaya populer hari ini sudah melebur ke setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat. Kemudahan teknologi di era yang serba canggih ini membuat budaya populer semakin mudah untuk dikonsumsi dengan berbagai macam ideologi yang diusungnya. Budaya populer yang ada di seluruh dunia, saat ini sudah bisa kita akses, dengan kecepetan per sekian detik dengan kecanggihan gawai (peralatan canggih) yang semakin hari semakin bisa menjelajahi sisi jengkal bumi.

Lalu apa sebetulnya yang dimaksud sebagai budaya populer? Dengan pengertian yang sangat sederhana budaya populer bisa diartikan sebebas dengan pengertian budaya yang paling banyak dinikmati saat ini. Apapun yang bisa dinikmati dan disukai oleh banyak orang bisa disebut sebagai budaya populer. Bentuknya pun beragam. Budaya populer bisa berupa musik yang kita dengarkan, film yang kita tonton, novel atau buku yang kita baca, atau bisa dari makanan dan minuma yang kita konsumsi.

Tapi, apakah budaya populer bisa seluas itu? Secara jelas dan panjang, Ariel Haryanto dalam bukunya yang berjudul ‘Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia’ menuliskan apa yang ia pahami sebagai budaya populer. Menurutnya,

“tak ada unsur-unsur sejati dalam satu produk dan praktik budaya yang dapat menentukan apakah produk dan praktik budaya tersebut dapat digolongkan menjadi budaya populer atau tidak. Apa yang dulu, dan kini, disebut budaya populer dalam konteks historis atau konteks sosial tertentu dapat sangat berbeda di masa dan tempat yang berbeda. Semua itu bergantung pada konteksnya. Walau mempunyai watak yang mudah berubah dan bergantung pada konteks, ada hal-hal umum yang membuat suatu karya atau perilaku sosial secara konseptual (bukan secara nyata harfiah) bisa dianggap sebagai contoh budaya populer, yakni sifatnya yang mudah diakses dan langsung menarik perhatian bagi banyak orang.”  

Dalam budaya populer ditangkap berbagai tema serta ideologi yang sedang diusungnya. Tema dan ideologi tersebut bisa beragam, sesuai dengan konteks dan kondisi sosial yang terjadi pada saat itu. Tema tentang difabel juga banyak muncul sesuai dengan konteks dan keadaan sosial yang mengelilinginya.

Tema Difabel dalam Budaya Populer

Difabel banyak tertuang dalam ragam budaya populer, salah satunya film. Sebuah judul film yang sangat kentara dengan pembahasan tema difabel beberapa dekade terakhir adalah Forrest Gump (1994). Film ini adalah film adaptasi novel dengan judul yang sama, ditulis oleh Winston Groom pada tahun 1986. Film ini berkisah tentang seorang difabel intelektual anak dengan penyangga kaki yang dipasang badannya karena tulang belakangnya yang melengkung bermana Forrest Gump.  Ia mengalami perjalanan hidup yang epik dengan bertemu dengan tokoh-tokoh bersejarah, memengaruhi budaya pop dan bahkan turut di dalam peristiwa-peristiwa bersejarah tanpa menyadari betapa pentingnya peristiwa itu.

Selain tokoh Forrest Gump, ada juga tokoh difabel yang hadir dalam film ini. Ia adalah Letnan Dan, komandan Gump saat ia menjalani wajib militer di Perang Vietnam tahun 1969. Letnan Dan lalu diceritakan harus mengalami amputasi pada bagian tangan dan kakinya akibat perang tersebut, sebuah kritikan kepada pemerintah Amerika Serikat tentang difabel hasil dari Perang Vietnam.

Di film Indonesia, difabel yang muncul dalam budaya pop terjaring lewat beberapa film seperti tokoh anak kecil bernama Ian dalam film Pemuja Setan atau film yang memang mengusung kehidupan remaja difabel dalam film Jingga.

Selain film, potret difabel juga muncul dalam budaya populer musik. Efek Rumah Kaca jelas menggambarkan dinamika kondisi Adrian Yunan, bassist mereka, yang menjadi difabel netra dalam lagu ‘Sebelah Mata.’ Selain itu, ada klip musik dengan pemain difabel dari sebuah grup musik asal Bandung bernama Angsa dan Srigala dengan tema cerita fiksi. Yang baru-baru ini juga terjadi di blantika musik Indonesia yaitu grup musik punk asal Yogyakarta, Endank Soekamti, yang memasukkan lirik berbahasa isyarat pada beberapa video lirik lagu mereka.

Dari buku atau novel, dua cerita yang cukup terkenal dalam membawakan cerita tentang difabel adalah novel ‘Biola Tak Berdawai’ karya Seno Gumira Ajidarma serta salah satu cerita pendek karya Ahmad Tohari yang berjudul ‘Mata yang Enak Dipandang.’ Novel ‘Biola Tak Berdawai’ bahkan diangkat ke dalam film dengan judul yang sama.

Citra difabel yang tergambarkan dari beragam budaya populer tersebut tidak akan terlalu dibahas di sini karena memang pencitraan yang tergambar, seperti yang ditulis oleh Ariel Heryanto, berasal dari konteks historis dan konteks sosial yang terjadi pada saat budaya populer itu diciptakan, beserta perspektif cara melihat difabel yang memang dipegang oleh pembuat budaya populer tersebut. 

Meski begitu, harus diakui bahwa semakin ke sini, citra tentang difabel dalam ragam budaya populer, terutama di Indonesia, sudah mengalami pergeseran persepsi, meski baru dalam jumlah yang sedikit. Beberapa contoh seperti lagu ‘Sebelah Mata’ dari Efek Rumah Kaca serta kreatifitas lirik berbahasa isyarat dalam klip musik lagu-lagu Endank Soekamti menjadi isyarat bahwa sudah seharusnya pencitraan difabel tidak berada pada persepsi bahwa difabel dekat dengan kata lemah dan patut untuk diberi dan dikasihani. (Yuhda)

The subscriber's email address.