Lompat ke isi utama
lustrasi Foto Difabel Bekerja. Sumber Antara/Andreas Fitri Atmoko

Hubungan Sosial yang Inklusi: Hulu dan Hilir Dinamika Pekerjaan bagi Difabel

Solider.id, Kulon Progo - Selain wawancara mendalam, salah satu fase dalam penggalian data penelitian Pengalaman Mata Pencaharian dan Partisipasi Difabel dalam Perencanaan Desa adalah FGD (Focus Group Discussion). FGD dilakukan untuk menggali lebih dalam beberapa tema pertanyaan yang lebih khusus dan yang belum cukup dalam tergali dalam wawancara mendalam.

Dalam salah satu pelaksanaan FGD yang dilakukan di Lendah, Kulon Progo, para peserta bercerita tentang bentuk pengeluaran sehari-hari yang mereka keluarkan. Sebagian besar memang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, ada beberapa peserta yang bercerita bahwa pengeluaran dari hasil pendapatan mereka digunakan untuk kepentingan membangun hubungan sosial antar sesama masyarakat.

Salah seorang peserta yang tidak bersedia disebutkan namanya bercerita bahwa ia juga mengeluarkan uang untuk kebutuhan sosial seperti menyumbang ketika ada hajatan masyarakat.

“Pendapatan yang tak seberapa itu juga harus kami sisihkan untuk nyumbang jika ada hajatan warga sekitar,” ucapnya.

Menurutnya, menyumbang kepada tetangga atau warga sekitar yang sedang ada hajatan akan berimplikasi positif terhadapnya.

“Kalau kita ikut membantu dengan nyumbang, kita bisa membantu sesama warga. Nanti juga kalau saya ada kesulitan, tetangga dan warga sekitar juga akan dengan ringan membantu saya. Rasanya takut jika tak nyumbang. Jangan-jangan kalau saya sakit, tak ada yang mau nengok saya. Makanya, meski pendapatan kecil, saya sisihkan untuk nyumbang,” ceritanya dengan panjang.

Seorang peserta proses wawancara mendalam sebelumnya, yang juga tak bersedia disebutkan namanya, juga sempat mengatakan bahwa hubungan sosial antar tetangga dan warga sekitar itu sangat penting.

“Malu mas kalau ada hajatan tidak nyumbang, apalagi kalau kita diundang,” ungkapnya.

Menurutnya, faktor sebagai orang Jawa dengan kebiasaan seperti itu membuatnya dengan sukarela menyisihkan uangnya untuk kepentingan hubungan sosial bersama.

Yah, nggak papa lah saya sisihkan sedikit untuk nyumbang. Semua untuk menjaga hubungan sesama masyarakat,” ungkapnya.

Dua hal itu ditemukan di Kulon Progo. Hal serupa dengan niat berbeda ditemukan di Banjarnegara.

Untung, salah seorang difabel daksa yang sehari-hari bekerja sebagai tukang jahit bersama istrinya, mengaku menyumbang uang ketika ada hajatan punya misi khusus.

“Bagi saya, selain untuk mempererat hubungan sosial antar warga masyarakat, nyumbang itu bisa mengubah persepsi masyarakat terhadap difabel seperti saya ini,” ia bercerita.

Lebih jauh baginya, menyumbang ketika ada hajatan itu bisa memberikan bukti nyata bahwa difabel tak selamanya harus dikasihani dan dibantu. Sebagai sesama masyarakat dengan hak yang sama dan setara, ia dan istri juga ingin terlibat dalam mekanisme hubungan sosial dalam bentuk nyumbang.

Beberapa temuan di atas paling tidak bisa menjadi gambaran bagaimana motivasi memilih pekerjaan dan mendapatkan kerja bagi difabel tidak hanya bertujuan untuk memperoleh uang dan melangsungkan kehidupan. Labih jauh dari itu, difabel ternyata mencari pekerjaan dan memperoleh uang untuk bisa terlibat dalam masyarakat secara sosial. Artinya, hubungan sosial yang inklusi menjadi tujuan dari difabel dalam mencari kerja. Hal ini menarik karena selama ini persepsi yang terbangun hampir di setiap kaum marjinal, seperti difabel, adalah motivasi bekerja hanya melulu untuk melanjutkan keberlangsungan hidup dan mendapatkan uang.

Dalam analisis yang lebih jauh, ikut masuk ke dalam lingkaran hubungan sosial yang inklusi ternyata tak hanya menjadi motivasi untuk bekerja. Ia bisa menjadi alat yang membantu difabel dalam mendapatkan pekerjaan yang tepat. Artinya, ia bisa sekaligus menjadi motivasi dan juga menjadi jalan untuk mendapatkan penghidupan bagi difabel. Dengan kata lain, masuk ke dalam lingkaran hubungan sosial yang inklusi bisa menjadi hulu sekaligus hilir dari alur difabel dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

Salah seorang responden penelitian Pilihan Mata Pencaharian dan Partisipasi Difabel di Desa mengakui hal tersebut saat proses wawancara mendalam.

“Menjadi difabel kadang membuat saya dipandang sebelah mata. Makanya pilihan bagi saya pun terbatas, tidak seluas mereka yang bukan difabel,” ucapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa salah satu jalan bagi difabel untuk bisa mengakses kerja dengan luas adalah dengan pulihnya cara pandang masyarakat terhadap difabel serta hubungan sesama masyarakat yang tanpa membedakan.

“Hanya karena saya difabel, saya dianggap tak mampu. Padahal jika diberi akses yang sama, saya juga bisa. Untuk itu, hubungan sosial masyarakat harus inklusi dulu baru difabel bisa memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa kesulitan,” ucapnya bersemangat.

Dinamika yang terjadi pada proses masyarakat difabel dalam memenuhi kebutuhan hidupnya kembali menguatkan bahwa kehidupan sosial yang inklusi dan pandangan bahwa setiap individu itu sama sesuai haknya masing-masing adalah hal yang krusial sekali untuk dihadirkan. Khusus pada tema pekerjaan dan penghidupan bagi difabel, kehidupan sosial yang inklusi ada di mana-mana. Ia bisa menjadi titik pangkal alasan difabel untuk mendapatkan sumber penghidupan sekaligus menjadi hal yang mutlak dihadirkan agar difabel bisa mendapatkan haknya dalam mengakses penghidupan yang sama dengan kelompok masyarakat lainnya. (Yuhda)

 

Catatan: Beberapa nama responden tidak disebutkan karena yang bersangkutan tidak bersedia dan juga karena etika penelitian.     

The subscriber's email address.