Lompat ke isi utama
 sumber foto google

Mengubah Sudut Pandang Diskriminasi Melalui

 

Solider.id, Cimahi – Setiap orang berhak mendapatkan pelayanan fasilitas publik yang setara, tanpa pandang bulu, tanpa diskriminasi.

Bentuk pelayanan dalam bidang jasa memiliki gaya dan cara yang berbeda. Kemajuan teknologi tak dipungkiri menjadi salah satu jembatan kemudahan untuk melakukan interaksi sosial dan berkomunikasi.

Hadirnya beragam aplikasi yang mudah dipelajari masyarakat awam, membawa sumber rezeki bagi sebagian orang. Banyak profesi dibidang pelayanan jasa yang mulai bermunculan, menjadi salah satu alternatif pilihan dalam kondisi yang serba instan dan cepat.

Contoh pelayanan jasa angkutan transportasi umum yang menggunakan aplikasi teknologi berbasis online. Sejak kehadirannya memang menjadi primadona yang seolah memanjakan penumpangnya. Setia menjemput di lokasi yang ditentukan dan siap mengantarkan tepat hingga ke tempat tujuan, bahkan selalu bisa diandalkan tanpa batasan jam.

Iya, transportasi berbasis online memang dapat dijadikan alternatif pilihan dalam keperluan pelayanan jasa angkutan. Masyarakat banyak yang membutuhkan jasa transportasi online, termasuk masyarakat difabel.

 Salah satu alasan yang diungkapkan para difabel Tuli memilih menggunakan jasa transportasi online adalah mudahnya berkomunikasi melalui handphone anroid milik mereka. Sementara bagi difabel Daksa pengguna alat bantu bahkan kursi roda, mereka merasa leluasa untuk mengangkut serta kursi rodanya ke dalam bagasi kendaraan. Begitu pula bagi difabel lainnya.

Nilai tambah dari pelayanan jasa transportasi berbasis online yang memang sudah dirasakan manfaatnya oleh kalangan masyarakat umum dan difabel.

Namun, sampai sejauh manakah pemahaman para penyedia jasa transportasi online terhadap masyarakat difabel?

Perilaku diskriminasi dalam bentuk pelayanan jasa transportasi online rupanya masih ditemukannya. Adanya sikap penolakan ketika mengetahui calon penumpangnya adalah kalangan difabel, menjadi bukti sudut pandang yang masih keliru.

Seperti yang dialami difabel Tuli berinisial AR.

AR mengalami penolakan dari pihak jasa transportasi online, setelah menyampaikan kondisi dirinya seorang difabel Tuli.

Padahal, difabel memiliki hak yang sama setara dengan penumpang lainnya dalam mendapatkan akses pelayanan publik.

Kasus AR sudah ditindaklanjuti oleh pihak pengelola jasa transportasi online tersebut, dan adanya sikap damai dengan permohonan maaf yang disampaikan kepada AR.

Dari contoh kasus seperti tadi, menggambarkan masih perlu adanya sosialisasi dan edukasi untuk mengubah sudut pandang masyarakat luas terkait keberadaan difabel di sekitarnya.

Sosialisasi.

Saling memahami dan membuka diri terhadap lingkungan, akan membuat terjalinnya interaksi secara alami. Tanpa perlu mengenalkan diri sebagai sosok difabel, masyarakat umum diharapkan mampu mengenali.

Unsur penerimaan, pengakuan hingga sikap perilaku yang positif dari lingkungan akan memberikan rasa nyaman terhadap difabelnya.

Edukasi.

Sensitifitas tidak dapat diprediksikan. Bentuk kepedulian tidak mudah untuk dibangun atau diciptakan. Memerlukan kesadaran dalam memahami setiap keberadaan dalam lingkup keberagaman.

Memberikan pembekalan dengan pengenalan hingga pemahaman melalui edukasi, diharapkan mampu saling menambahkan tingkat pengetahuan tentang difabel.

Sudut pandang.

Dengan adanya sosialisasi yang disertai edukasi, diharapkan mampu membuka cara pandang masyarakt umum terhadap difabel. Yang diharapkan bukan hanya sebatas saling toleransi, melainkan disertai hadirnya kesadaran dalam diri. 

Karena setiap orang memiliki potensi untuk menjadi sosok difabel yang disebabkan oleh kecelakaan, sakit atau faktor usia lanjut.

Sebuah fasilitas jasa yang baik, tidak akan memberikan sebuah arti tanpa menyuguhkan yang terbaik dalam segi pelayanannya. (Srikandi Syamsi)

The subscriber's email address.