Lompat ke isi utama
ilustrasi film anak dari surga

“Anak dari Surga”, Sebuah Film Remaja Down Syndrome Pemain Perkusi

Solider.id.Yogyakarta. Hari Down Syndorme Sedunia diperingati setiap tanggal 21 Maret. Peringatan tersebut dilakukan sebagai bentuk selebrasi bagi komunitas Sindroma Down dalam menolak berbagai bentuk ketidakadilan (diskriminasi).

Masih dalam rangka memperingati Hari Down Syndrome Sedunia, Selasa (27/3/2018) Early Childhood Care and Development Resource Centre (ECCD-RC) Yogya mengadakan kegiatan nonton bareng, film dokumenter berjudul ‘Anak dari Surga’. Sebuah film yang berkisah tentang keseharian remaja dengan Sindroma Down bernama Aurel, yang aktif dan senang bermain jimbe (perkusi).

‘Anak dari Surga’ merupakan sebuah film dokumenter garapan sutradara Ace Raden Desenasuria. Sebuah hasil observasi kehidupan Aurel dengan berbagai tantangan yang dijumpai, dan dukungan orangtua dalam mengatasi tantangan dan memberikan solusi.

Film dokumenter itu telah mampu menegaskan pentingnya dukungan orangtua bagi anak mereka dengan Sindroma Down. Sebuah dukungan dengan cara menerima apapun kondisi anak mereka, dan memberikan kesempatan sebagaimana anak lainnya.

Dalam film yang berdurasi 30 menit itu, dukungan penuh dari orangtua dan keluarga menempatkan Aurel sebagai remaja dengan seluruh hak hidupnya, terlindung dari diskriminasi, bahkan Aurel mampu umenjadi remaja yang dapat membantu teman-temannya.

Aurel tetap dapat bermain music, melukis, bersosialisasi, berkawan dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan remaja dengan Sindroma Down itu dapat membantu teman-temanya memberikan pelayanan gereja, pada berbagai gereja bahkan gereja yang ada di penjara.

Perspektif dan alternatif

Sebuah cara pandang (perspektif) dan alternatif dalam membersamai seorang anak dengan down syndrome ditawarkan dalam film tersebut. Semangat yang dimiliki Aurel demikian juga dengan orang tua dan keluarganya, mampu menginspirasi.

Film Anak dari Surga syarat dengan nilai-nilai edukasi bagi keluarga dengan anak Down Syndrome. Menyuguhkan nilai-nilai luhur hubungan dan dukungan orang tua terhadap anak mereka yang Down Syndrome. Kisah Aurek juga dapat menjadi model, bahwa orang dengan down syndrome dapat menjadi bagian dari masyarakat seutuhnya.

Diskusi dengan para penonton yang sebagian besar orangtua dengan anak Dwon Syndrome digelar paska pemutaran film tersebut.  Diskusi dipandu oleh Ruri, salah seorang devisi advokasi EDDC-RC.

Sebagaimana diketahui bahwa Down Syndrome merupakan kelainan genetik yang terjadi karena kurangnya jumlah kromosom pada tubuh. Semestinya manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri dari 22 pasang autosom (pembentuk tubuh) dan 1 pasang genosom (pembeda jenis kelamin). Sedangkan pada down syndrome hanya memiliki 21 pasang autosom dan 1 pasang genosom.

Kondisi tersebut berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental. Orang dengan Down Syndrome memiliki usia lebih rendah dari pada orang pada umumnya. Namun, mereka dapat berusia lebih lama dengan pemberian stimulus oleh orang-orang sekitarnya.

Description: https://scontent-sin6-2.xx.fbcdn.net/v/t34.0-12/29547100_1810291059001495_1437670202_n.jpg?_nc_cat=0&oh=2c8059cdeb08d6c7a535ed42b978dfc7&oe=5ABC73F4Esensi mengelola emosi

Dukungan berupa pemahaman, pemberian kesempatan, memberikan contoh baik merupakan stimulus yang dapat diberikan kepada anak dengan Down Syndrome.

Dari diskusi dapat dipetik kata sepakat, bahwa orangtua dengan anak bekebutuhan khusus harus memiliki lebih banyak usaha, lebih banyak kesabaran, dalam membersamai anak-anak dengan Down Syndrome.

Sebagaimana disampaikan oleh Titik Curly, ibu dari Jud, seorang anak Down Syndrome bahwa mengendalikan emosi saat anak sulit dikendalikan (marah, membuat ulah) juga harus dilakukan oleh setiap orang tua.

Bagi Titik hal yang paling sulit saat membersamainya putrinya Jud ialah saat mengelola emosi. “Mengendalikan emosi, untuk tidak marah saat Jud bikin ulah, adalah hal yang paling sulit. Kesadaran penuh bahwa emosi tidak akan menyelesaikan masalah, itulah yang saya lakukan,” sharing Titik.

“Saya sebagai orangtua harus memahami diri sendiri, menyadari betul tindakan yang harus dilakukan, menjaga emosi. Kedekatan emosi yang dibangun antara anak dan orangtua, pada akhirnya mampu menjadi kontrol tersendiri bagi anak,” ungkapnya.

Lanjutnya, “Pada akhirnya Jud tahu saat ibunya bicara agak keras, mulai berhenti buat ulah, bahkan minta dipeluk dan mengucapkan permintaan maaf. Sebuah esensi dari mengelola emosi,” tutur Titik. [harta nining wijaya].

The subscriber's email address.