Lompat ke isi utama
 Salah satu agenda di RBK Kauman

RBK Kauman Banjarnegara: Rumah Baca Bernafaskan Inklusifitas

Solider.id, Banjarnegara - Minggu pagi, salah satu sudut di Kauman Banjarnegara nampak ramai oleh para anak-anak dan remaja. Mereka sibuk berdiskusi, membolak-balikkan buku, mencatat isi kamus atau sekedar berbincang santai. Di ruang berukuran delapan kali enam meter ini, mereka sering menghabiskan waktu senggang dengan tumpukan berjajar buku penuh warna-warni. Sesekali mereka, melihat ensiklopedi, menerawang beberapa gambar sudut negara lain, membayangkan mimpi-mimpi menginjakkan tanah di seberang. Itulah keramaian yang ada di Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara atau biasa disebut sebagai RBK Kauman Banjarnegara.

RBK Banjarnegara aktif sejak tahun 2015 dengan digawangi oleh Riza Azzumarridha Azra. Selain aktif di RBK ini, Riza juga aktif di komunitas Sahabat Difabel dan Sekolah Inspirasi Banjarnegara. Dalam beberapa obrolan dengan Riza, ia menceritakan bahwa RBK ini dibangun atas semangat inklusi.

“Sebelum menjadi RBK, tempat ini adalah sekertariat beberapa komunitas di Banjarnegara, beberapa diantaranya adalah Sahabat Difabel, Sekolah Inspirasi Banjarnegara dan Komunitas Baca Bersama atau Kobar,” ucap Riza.

Beberapa kali juga RBK menjadi tempat berkumpul beberapa teman dari Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara (FKDB) untuk agenda pertemuan rutin. Riza menyadari bahwa gerakan literasi yang ia mulai dengan RBK harus bernafaskan inklusifitas dan bisa merangkul siapa saja termasuk difabel.

“RBK ini diharapkan bisa menjadi ruang bertemu dan berdiskusi teman-teman baik non difabel maupun difabel. Dulu di awal sempat ada kegiatan pelatihan bahasa isyarat bagi orang tua dengan anak Tuli yang langsung dibawakan oleh teman Tuli dan juru bahasa isyarat asal Magelang,” Riza bercerita.

Ia juga bercerita bahwa koleksi buku yang ada di RBK ini diusahakan bisa seaksesibel mungkin untuk semua kalangan. Alhasil, beberapa buku braille koleksi dari Pertuni Banjarnegara kemudian dititipkan di RBK ini dan bisa diakses oleh teman-teman difabel netra yang lain.

“Koleksinya masih sedikit namun niat untuk menambah koleksi literasi terutama untuk difabel netra terus teman-teman RBK lakukan. Mungkin ke depan akan kami coba mengakses beberapa koleksi buku secara audio,” ucap Riza.

Selain melengkapi RBK dengan koleksi literasi yang bisa diakses oleh semua kalangan, RBK juga sering diisi dengan agenda yang berhubungan dengan difabel, seperti pertemuan rutin yang diadakan oleh Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara (FKDB), diskusi tentang pergerakan kaum marjinal, termasuk difabel serta beberapa kegiatan inklusi lainnya.

“Terakhir itu ada diskusi tentang potensi difabel anak dengan mengundang narasumber dari bidang psikologi dan seorang desainer grafis difabel asal Banjarnegara yang sudah mempunyai banyak karya,” ungkap Riza.

Selain kegiatan dengan tema khusus difabel, ada banyak kegiatan dengan tema umum, seperti bedah buku, latihan membuat sketsa, workshop literasi dan kegiatan lainnya.

“Semua kegiatan itu memang terbuka untuk semua termasuk difabel. Namun, satu kekurangan kami adalah belum adanya juru bahasa isyarat yang bisa mengakomodasi  teman tuli ketika mereka ikut beraktifitas di RBK. Itu PR ke depan,” ucapnya.

Semua kegiatan yang sudah terlaksana di RBK ia harapkan bisa menjadikan tempat ini menjadi ruang untuk belajar bersama antar semua kalangan. Dengan itu, makna inklusi bisa dirayakan bersama-sama. (Yuhda)

The subscriber's email address.