Lompat ke isi utama
 Sepak Bola Difabel. Sumber: Penulispro.net

Difabel dan Olahraga: Jalan Masuk Inklusi Sosial

Solider.id, Banjarnegara - Olahraga punya peran yang vital bagi kehidupan manusia. Selain untuk meningkatkan ketahanan fisik, olahraga bisa menjadi media berselaras dengan lingkungan sekitar. Olahraga sudah menjadi gaya hidup tersendiri. Komunitas-komunitas berbasis kegiatan olahraga menjadi bukti bahwa orang tak hanya mencari sehat saja, tapi juga melanggengkan hubungan jejaring antar individu.

Bagi difabel, kegiatan olahraga punya peran yang sama. Selain untuk faktor kesehatan, olahraga menjadi alat penting untuk menumbuhkan inklusifitas di lingkungan masyarakat. Pada sebuah Jurnal berjudul Self-concept and physical activity in athletes with physical disabilities karya Jeffrey J. Martin dan Laurel Whalen dari Wayne State University menegaskan bahwa selain kondisi fisik yang lebih rentan, difabel yang tidak melakukan olahraga atau kegiatan fisik akan menghadapi hambatan lebih besar secara individu, sosial dan lingkungan.

Dalam jurnal yang sama juga disebutkan bahwa ada dua jenis keuntungan yang bisa didapatkan oleh difabel yang melakukan olahraga atau aktifitas fisik. Keduanya disebut sebagai keuntungan secara fisiologikal dan psikososial. Fisiologikal erat berhubungan dengan kondisi kesehatan yang berarti bahwa aktifitas olahraga maupun fisik yang lain akan berguna untuk menghadang penyakit-penyakit yang datang. Psikososial lebih berhubungan dengan hubungan antar sesama manusia. Orang yang melakukan aktifitas olahraga atau fisik akan mendapatkan keuntungan psikososial seperti dukungan sosial, keuntungan jejaring, kegembiraan, pemberdayaan dan level depresi yang rendah.  

Dalam jurnal lain yang berjudul Influence of adapted sports on quality of life and life satisfaction in sport participants and non-sport participants with physical disabilities, Yazicioglu dkk., mengukur dampak kegiatan olahraga adaptif atau kegiatan fisik pada kualitas hidup difabel. Hasilnya, kegiatan olahraga adaptif dan aktifitas fisik bisa menambah efek positif pada kualitas kehidupan keluarga dan kualitas kehidupan sosial pada difabel. Dua jurnal ini mengisyaratkan bahwa kegiatan olahraga atau aktifitas fisik yang aksesibel juga bisa menjadi pintu masuk inklusi sosial.

Kegiatan Olahraga bagi Difabel di Daerah

Berbicara pergerakan difabel termasuk sisi olahraganya di kabupaten Banjarnegara tak lengkap jika tak menyubut nama Untung (42). Ia adalah ketua dari Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara (FKDB), sekaligus ketua NPC (National Paralympic Committee) Kabupaten Banjarnegara. Untung banyak bercerita tentang pengaruh kegiatan olahraga bagi difabel terutama di Banjarnegara.

“Bagi beberapa difabel yang saya kenal, kegiatan olahraga bisa menambah rasa percaya diri dan penerimaan dirinya yang difabel,” ungkap Untung.

Menurutnya, banyak difabel yang sebenarnya punya potensi dalam bidang olahraga namun tak terlalu percaya diri. Akhirnya, bakat dan potensi mereka tak bisa dikembangkan.

“Pemerintah Banjarnegara juga masih belum maksimal dalam mendukung kegiatan olahraga bagi difabel,” tamrbahnya.

Ia bercerita bahwa banyak atlet difabel yang akhirnya memutuskan untuk pindah ke kabupaten sebelah untuk bisa mendapatkan kesempatan dan jenjang kompetisi yang lebih terbuka.

“Padahal, kalau bicara masalah bakat dan potensi, Banjarnegara itu gudangnya,” ucapnya bangga.

Di tempat lain, Samad (40) juga bercerita tentang minimnya kesempatan olahraga adaptif yang ia dapatkan. Menjadi difabel netra di sebuah kabupaten kecil membuat kesempatan akan olahraga adaptif tak sebesar tempat lainnya.

“Bagi difabel netra seperti saya dan teman-teman di Pertuni Banjarnegara, kesempatan berolahraga adaptif seperti goal ball atau olahraga lainnya belum terlalu terbuka,” ia bercerita.

Ia menuturkan perihal fasilitas dan dukungan dari pemerintah yang masih kurang. Hal ini membuat ia dan teman-temannya sering melewatkan kompetisi olahraga adaptif difabel netra antar kota.

“Padahal, kami berharap dengan olahraga bisa memberikan kesempatan-kesempatan yang lain kepada kami, apalagi ketika kami bisa berprestasi,” ia menutup ceritanya.

Dari Olahraga menuju Perspektif yang Inklusi

Dalam sebuah tulisan pada Sport Management Review yang berjudul Managing disability sport: From athletes with disabilities to inclusive organisational perspectives, dijelaskan tentang bagaimana kegiatan olahraga bisa diatur sedemikian rupa untuk bisa menghadirkan perspektif yang inklusif. Tulisan ini menawarkan apa yang disebut sebagai spektrum inklusi dalam pengelolaan dan pengaturan olahraga yang inklusi bagi difabel. Ada lima skema dalam spektrum inklusi ini.

Spektrum pertama disebut sebagai kegiatan olahraga yang sepenuhnya terintegrasi (fully integrated activities) dimana semua orang termasuk difabel bisa ikut berpartisipasi tanpa ada modifikasi dan adaptasi. Contohnya adalah kegiatan lari santai (fun run) dimana semua orang dengan berbagai macam kemampuan bisa berpartisipasi pada kesempatan yang sama.

Yang kedua adalah kegiatan olahraga terintegrai yang dimodifikasi (modified integrated activities) dimana difabel bisa berpartisipasi dengan non difabel dalam olahraga yang sama dengan adanya modifikasi dalam peraturan, peralatan, atau area tempat olahraga.

Ketiga disebut sebagai kegiatan olahraga yang paralel dimana difabel berpartisipasi dalam kegiatan olahraga yang sama dengan non difabel yang mempunyai kemampuan setara.

Nomor empat adalah kegiatan olahraga yang adaptif dimana non difabel akan menyesuaikan jenis kegiatan yang dilakukan oleh difabel. Contohnya adalah futsal bagi difabel netra melawan non difabel yang matanya ditutup.

Yang terakhir disebut sebagai kegiatan olahraga yang terpisah (discrete activities) dimana kegiatan olahraga antara difabel dan non difabel dilakukan secara terpisah.

Secara teori, urutan spektrum nomor satu menunjukkan aktifitas olahraga yang paling inklusif bagi difabel, terus menurun sampai nomor selanjutnya dan nomor terakhir menunjukkan adanya kegiatan olahraga yang masih eksklusif, terpisah antara difabel dan non difabel. 

Pintu masuk inklusi sosial melalui olahraga bisa segera terwujud dengan adanya persepsi bahwa semua orang di Indonesia, termasuk difabel, berhak menikmati kegiatan olahraga, apa pun bentuknya. (Yuhda)

The subscriber's email address.