Lompat ke isi utama
ilustrasi juru bahasa isyarat

Tak Satupun Juru Bahasa Isyarat berasal dari Guru SLB

Description: C:\Users\User\Downloads\JBI.jpgSolider.id.Yogyakarta.Saat ini, semua juru bahasa isyarat (JBI) adalah para volunter yang memiliki kepedulian  terhadap tuli. Mereka semua bukan orang-orang yang mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Mereka bukan guru SLB. Tidak satu pun guru SLB yang menjadi JBI, ke mana para guru SLB selama ini?”

Sebuah kritikan keras bagi para guru SLB meluncur dari Ketua Komite Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Penyandang Disabilitas DIY, Setia Adi Purwanta dalam Rakor Penyusunan Pedoman Layanan Akses Kesehatan bagi TUWI, yang dilangsungkan di Aula Bapel Jamkesos DIY, Kamis (22/3/2018).

“Bahkan, para guru SLB bisa jadi tidak bisa berbahasa isyarat?” kritik Setia dibalut pertanyaan menyangsikan kemampuan para guru SLB berbahasa isyarat.

Ungkapan lain dari Setia Adi, ialah terkait adanya dua kubu lembaga pendidikan (sekolah) terkait bahasa bagi tuli di Indonesia. Satu, kubu  sekolah yang radikal menolak penggunaan bahasa isyarat bagi tuli, dua-kubu sekolah yang mendorong penggunaan bahasa isyarat.

SLB Darma Rena-Wonosobo dan Santi Rama-Jakarta adalah SLB yang menentang keras penggunaan bahasa isyarat. Tapi mereka berkomitmen hanya menerima siswa sejak usia dini, yakni dua tahun. Latihan dan budaya berbahasa oral yang ditanamkan sedari dini, menjadi faktor keberhasilan bagi tuli dapat berbahasa oral.

Bahasa, budaya, pilihan

“Saya sepakat bahwa bahasa adalah  sebuah pilihan. Bahasa adalah  kebudayaan. Budaya akan muncul karena dibiasakan. Sehingga pilihan berbahasa juga merupakan dampak dari budaya yang dikembangkan sedari dini oleh keluarga,” papar Setia.

Dua orang guru SLB yang tidak mau disebutkan namanya, mengaku bahwa dirinya tidak mengajar di sekolah dengan siswa tuli, melainkan dengan siswa difabel intelektual. Hal tersebut yang menjadikan alasan bagi mereka berdua tidak menguasai bahasa isyarat.

“Jika ada siswa tuli yang sekolah di tempat kami, kami pasti akan berlajar bahasa isyarat. Karena bahasa merupakan kunci utama berkomunikasi, sebagai sarana menyerap berbagai informasi.” Salah seorang guru menyampaikan tanggapannya melalui Solider terkait kritikan dari Komite Disabilitas DIY.

Adapun Juwarsih, Kepala Sekolah SLB Bina Siwi, Pajangan, Bantul, juga menyatakan bahwa di sekolah yang dipimpinnya siswa tuli juga dituntut untuk bisa berbicara oral. Menurut dia, dengan berbahasa oral, maka menjadi kelebihan bagi tuli.

Mengapa menuntut bahasa oral bukan isyarat? Menurut Juwarsih, berbahasa isyarat adalah bahasa alamiah tuli. Di mana bahasa itu akan lebih mudah dikuasai oleh tuli. Untuk itu, pengajaran bahasa oral dibutuhkan. Dengan demikian tuli akan menguasai dua bahasa, bahasa oral untuk berkomunikasi dengan orang mendengar, dan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan sesama. Juwarsih menyampaikan alasan pemilihan tuntutan bahasa oral bagi siswa di isekolahnya. [harta nining wijaya].

The subscriber's email address.