Lompat ke isi utama
suasana sosialisasi deteksi diini

Tim RINDI-SIGAB Selenggarakan Pelatihan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak

Description: https://scontent-sin6-2.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/29426073_1802313263132608_7523413917989601280_o.jpg?oh=83e91c4b9ca860a0f3b4bce54aee4852&oe=5B2D60D6Solider.id.Yogyakarta.  Selasa (20/3/2018), cuaca tidak menentu sedari pagi. Ditingkahi hujan lalu panas, membuat udara bukannya terasa segar melainkan gerah. Namun kondisi itu tidaklah mempengaruhi kegiatan “Pelatihan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak“. Sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh  Tim Rintisan Desa Inklusi tahap kedua (RINDI#2), dari Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Yogyakarta.

Sebanyak 22 perempuan Kader Posyandu dan Kader RINDI#2 Desa Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, mendapatkan pelatihan deteksi tumbuh kembang bayi dan balita. Masing-masing merupakan kader perwakilan dari 10 dusun, yakni: Klipuk, Beneran, Kragilan, Sumur Muling, Gegulu, Sembungan, Wanalapa, Mendiro, Pulo, dan Pengkol. Pelatihan digelar selama dua hari, 19 - 20 Maret 2018, di Pendopo Balai Desa Gulurejo, Lendah, Kulon Progo.

Tumbuh kembang anak mulai usia 0 – 72 bulan menjadi bagian materi yang mereka terima. Hari pertama pelatihan, Senin (19/3) mereka menerima teori terkait deteksi dini tumbuh kembang anak, adapun pada Selasa (20/3) peserta pelatihan mempraktekkan teori yang sudah diperoleh sehari sebelumnya.

Selain proses perkembangan anak sesuai usia yang diperhatikan, deteksi terhadap kemungkinan adanya penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan anak, atau kemungkinan anak terlahir sebagai difabel, berikut cara menstimulasi secara terus menerus ditekankan pada pelatihan tersebut.

Pelatihan dimentori oleh Siti Muslihah Fahri, aktivis hak difabel yang juga seorang terapis dan Nunung Sugiharti Bidan Puskesmas Lendah II. Antusiasme peserta terlihat nyata, suasana semakin hidup saat para peserta melakukan praktek deteksi dini tumbuh kembang anak.

Harapan kepada SIGAB

Dua orang peserta, Ratri dan Suminten keduanya dari dusun Mendiro menyatakan pelatihan memberi tambahan pengetahuan bagi mereka. “Sangat bermanfaat, karena ada materi tambahan mendeteksi sedari dini anak difabel, bagaimana menstimulasi tumbuh kembang anak difabel, sekaligus bagaimana mengedukasi orang tua anak,” ujar mereka berdua.

Menurut kader lain, masih saja ada keluarga yang tidak mau membawa balitanya yang difabel mengikuti kegiatan sosial. Untuk itu, para kader membutuhkan pengetahuan bagaimana dapat membuka cara pandang orangtua agar dapat menerima anak mereka yang difabel. Hal tersebut menjadi harapan pada pelatihan yang kemungkinan akan diadakan lagi oleh SIGAB pada kesempatan lain.

Ketika pelaksanaan PAUD yang diagendakan sebulan sekali, orangtua yang memiliki anak difabel tidak pernah mau datang membawa anak mereka belajar di PAUD. Demikian pula saat Posyandu, seringkali mereka setengah dipaksa untuk mengikutinya, dijemput di rumahnya.

Kondisi tersebut diiyakan Rumiyati, warga Desa Gulurejo yang menjadi Staf SIGAB pada Project RINDI#2. Dia berharap pada Project RINDI#2 ini keluarga dengan anak difabel mau semakin terbuka, tidak malu membawa anak mereka dalam setiap kegiatan sosial masyarakat.

Menurut Rumi, dirinya juga mengundang orangtua dengan anak mereka yang difabel untuk hadir.  “Jika saja mau datang, maka orangtua dapat ilmu bagaimana menstimulasi tumbuh kembang anak mereka. Demikian pula praktek yang dilangsungkan juga komplit, karena subyek yang dideteksi semua ada,” ujar Rumi.

Demikian pula dengan Nunung Sugiharti Bidan Desa Puskesmas Lendah II pun memiliki harapan kepada SIGAB. Harapannya, pelatihan tidak berhenti pada Kader Posyandu dan Kader RINDI, tetapi dikembangkan kepada para guru PAUD dan TK.

Dengan adanya pelatihan tersebut, diharapkan para guru akan memiliki kemampuan mendampingi, mengajar anak-anak difabel di Desa Gulurejo. Sehingga semua anak dapat bersekolah di tempat yang terdekat dengan mereka.

 “Para guru PAUD dan TK perlu sekali memiliki pemahaman bagaimana menghadapi, mendampingi, juga menstimulasi anak-anak, khususnya anak difabel. Karena selama ini para guru tidak memiliki kemampuan terkait hal itu,” terang Nunung. [harta nining wijaya].

The subscriber's email address.