Lompat ke isi utama
labang negara Slovakia. sumber: http://flagpedia.net/slovakia

Belajar dari Slovakia dalam Memperlakukan Difabel

Solider.id, Yogyakarta - Narasi mengenai idealnya perlakuan terhadap difabel di negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia  tentu bukanlah hal yang baru. Tidak mengherankan karena negara-negara tersebut merupakan negara maju. Negara yang termasuk kedalam kategori negara maju selalu identik dengan perekonomian yang stabil sehingga mampu menjamin kesejahteraan warga  termasuk warganya  yang difabel. tetapi, pertanyaannya kemudian, apakah ada negara berkembang yang mampu memberikan perlakuan ideal terhadap diffabel?

Jawabannya ada. Slovakia menjadi representasi dari negara kecil yang mampu menghadirkan perlakuan yang inklusif bagi setiap warga negaranya. Slovakia bukanlah negara besar. Negara ini hanya ditinggali oleh lima juta penduduk dan tidak memiliki wilayah perairan. Menariknya lagi negara yang berada di kawasan Eropa Tengah ini baru merdeka pada tahun 1993, karena dulu Slovakia merupakan bagian dari Republik Cekoslowakia yang dulunya juga menjadi bagian dari Uni Soviet. Selain itu negara ini juga tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah seperti Indonesia. jika dibandingkan dengan Indonesia dari segi penduduk, kekayaan alam dan usia, tentu tak sebanding. Tetapi, negara yang baru berusia 25 tahun ini telah mampu menghadirkan kehidupan yang inklusif bagi setiap warga negaranya.

Ramadan Zulfikar, seorang mahasiswa Fakultas Hukum UGM berkesempatan untuk tinggal di Slovakia selama 6 minggu. Rama, begitu sapaan akrabnya, tinggal di Slovakia guna mengikuti program Unit Kegiatan Mahasiswa AIESEC UGM yang bernama global volunteer. AIESEC adalah Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang kepemimpinan.

Rama memulai petualangan barunya di Slovakia mulai akhir Desember 2017 hingga berakhir pada Februari 2018. Selama 6 minggu di Slovakia, Rama bertugas sebagai relawan untuk mengajar pelajar di sekolah-sekolah yang ada di Slovakia. Setelah tiba di Slovakia untuk pertama kalinya,  Rama dan teman-temannya yang mengikuti program global volunteer ini diberi pelatihan terlebih dahulu sebelum nantinya diterjunkan untuk mengajar di sekolah-sekolah yang ada di Slovakia. Rama mulai menemukan pengalaman menariknya terkait difabel ketika pelatihan tersebut.

Ketika itu, Rama dan teman-temannya yang dipersiapkan untuk mengajar di sekolah diberi pembekalan mengenai bagaimana metode pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah di Slovakia. Rama yang dipersiapkan untuk mengajar di sekolah reguler, ternyata juga diberi pembekalan untuk siswa difabel yang ada di sekolah. Hal itu karena ternyata Slovakia telah menerapkan sistem pendidikan yang inklusif sehingga siswa-siswa difabel juga dapat bergabung dengan siswa-siswa nondifabel di sekolah reguler.

Penerapan sistem pendidikan yang inklusif tersebut ternyata merupakan hal yang sangat menarik bagi Rama. Sebabnya jelas, karena hal itu belum bisa ia rasakan di negara asalnya Indonesia. Rama kemudian mencari tahu lebih lanjut mengenai sistem pendidikan yang ada di Slovakia. Rama kemudian mendapatkan jawaban bahwa setiap guru yang mengajar di Slovakia telah dibekali dengan kompetensi untuk mengajar siswa difabel dan nondifabel sehingga ketika terdapat siswa difabel di dalam kelas tidak ada lagi alasan bagi guru untuk tidak mengajar siswa difabel.

Menurut Rama pembekalan bagi para guru di Slovakia untuk mengajar siswa difabel tersebut telah dilakukan sejak para calon guru  menempuh pendidikan guru di universitas. Kemampuan untuk mengajar difabel menjadi salah satu prasyarat mutlak apabila seorang guru ingin mengajar di Slovakia. Setidaknya seorang guru harus menguasai huruf braille dan bahasa isyarat. “kalau gak bisa ngajar difabel, berarti gak lulus, karena itu jadi syarat sertifikasi disana” ungkapnya saat ditemui di Fakultas Hukum UGM

Inklusivitas di Slovakia ternyata bukan hanya terbatas pada sistem pendidikannya saja. Selama 6 minggu tinggal disana Rama menjumpai bahwa difabel menjadi prioritas di berbagai sektor meliputi pendidikan, pelayanan publik, kebijakan, transportasi, dan penataan kota.

Perihal kebijakan misalnya, pemerintah Slovakia tidak akan menerbitkan izin pemanfaatan lahan untuk keperluan parkir kendaraan bermotor jika lahan parkir tersebut tidak menyediakan parkir bagi kendaraan difabel. Artinya pemerintah Slovakia mengharuskan setiap lahan parkir untuk menyediakan parkir khusus bagi difabel.

bidang transportasi pun juga telah di design agar dapat diakses oleh kelompok-kelompok rentan seperti difabel, lansia, ibu hamil dan anak-anak. Contohnya adanya Bus yang mudah diakses oleh orang-orang pengguna kursi roda.

Sektor pelayanan publik, baiknya pelayanan terhadap difabel dapat dilihat pada tersedianya aksesibilitas bagi difabel di setiap fasilitas pelayanan publik. Selain itu  di setiap fasilitas pelayanan publik selalu tersedia staf khusus yang bertugas untuk mendampingi difabel yang bertujuan untuk mengakses fasilitas tersebut. Rama mencontohkan di tempat-tempat seperti supermarket selalu ada orang yang bertugas untuk mendampingi difabel dalam mengakses berbagai keperluan di supermarket itu.

Tata kota di Slovakia juga terlihat sangat terencana dan tidak mengabaikan difabel. Perencanaan pembangunan kota di Slovakia telah mempertimbangkan prinsip universal design sehingga setiap orang di  Slovakia dapat  merasakan manfaat yang sama dalam kehidupan sehari-hari.

Adanya aksesibilitas, kebijakan dan tata kota yang ramah difabel tentu akan menjadi percuma jika tidak ada budaaya inklusif pada warganya. Namun, Slovakia sepertinya telah memiliki kesemua itu. Ada aksesibilitas, kebbijakan, tata kota dan pendidikan ramah difabel serta dilengkapi dengan budaya inklusif yang dimiliki warga negaranya. Rama mencontohkan bahwa disetiap kelas di sekolah-sekolah di Slovakia selalu terjadi interaksi positif antara siswa difabel dan nondifabel sehingga tidak ada lagi bullying yang didasarkan pada perbedaan fisik, mental dan sensorik. Selain itu Rama juga selalu melihat adanya kepedulian warga Slovakia terhadap difabel di setiap sudut kota. Misalnya ada seorang difabel netra akan menyebrang jalan maka dari jarak 200 meter pasti kendaraan bermotor yang sedang lalu lalang di jalan akan mengurangi kecepatan kendaraannya agar difabel netra dapat menyeberang dengan aman.

Melihat adanya budaya yang sedemikian inklusif di Slovakia, Rama menjadi teringat mengenai pengalamannya yang sempat menjadi difabel untuk sementara waktu. Rama yang pernah menjadi korban kecelakaan kendaraan bermotor lantas kemudian harus berjalan menggunakan bantuan kruk untuk sementara waktu karena tangan dan kaki kirinya tidak bisa digerakkan. Ketika itu Rama sempat mengalami pengalaman tidak mengenakkan. Hal itu terjadi ketika ia akan menaiki tangga saat akan berangkat kuliah. Rama yang berjalan dengan bantuan kruk tentu mengalami kesulitan dalam menaiki tangga berundak. Namun, saat ia mengalami kesulitan tersebut, tidak ada satu pun orang yang berinisiatif membantunya untuk menaiki tangga berundak tersebut. Disitulah Rama benar-benar merasakan bahwa negaranya sama sekali belum ramah terhadap difabel baik secara aksesibilitas, kebijakan dan budayanya.

Akhirnya Rama menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa Slovakia dapat menerapkan kehidupan yang inklusif di negaranya karena dua hal. Pertama karena Slovakia adalah bekas negara komunis sehingga mereka berpandangan kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan seperti difabel harus mendapatkan hak yang sama seperti masyarakat yang lain.

Kedua adalah karena di Slovakia sejak pendidikan dasar setiap siswanya telah diajarkan untuk saling menghormati dan saling menghargai antara satu sama lain termasuk antara difabel dan nondifabel sehingga tidak ada diskriminasi yang didasarkan pada kondisi fisik, sensorik dan mental. “hebatnya mereka tidak take it easy (tidak menyepelekan) hal itu” pungkas Rama

Poin kedua dapat menjadi refleksi untuk dapat diterapkan di sistem pendidikan Indonesia. Indonesia telah memiliki falsafah bhineka tunggal ika yang di ajarkan di sekolah-sekolah. Perlu ditekankan bahwa falsafah itu bukan hanya soal perbedaan suku bangsa, budaya dan agama, tetapi juga perbedaan antara difabel dan nondifabel. Apabila hal itu diterapkan maka akan terjadi interaksi yang inklusif dan saling menghargai antara difabel dan nondifabel. (Tio Tegar)

The subscriber's email address.