Lompat ke isi utama
Fasilitas bagi penyandang disabilitas di Taman Sari Kota Banda Aceh yang sudah menyediakan gaeding blok dan ramp

Kota Banda Aceh Masih Jauh dari Kata Ramah Difabel

Solider.id, Banda Aceh  – Seiring berjalannya waktu, isu difabel sudah mulai terdengar di Aceh khususnya Kota Banda Aceh dan sekitarnya. Namun hal ini belum berpengaruh banyak terhadap pembangunan di Aceh. Insfrastruktur masih belum aksesibel, masyarakat juga masih banyak yang belum faham akan keberadaan difabel disekitarnya.

Saat ini, Perubahan yang baru dapat dirasakan tidak begitu kentara, hanya tempat tertentu saja di Kota Banda Aceh fasilitas publiknya sudah aksesibel seperti Taman Sari. Tapi bukan berarti ini sudah bisa dijadikan patokan bahwa Banda Aceh sudah ramah bagi masyarakat difabel. Namun masyarakat mulai membuka diri dengan keberadaan difabel di sekitarnya. Tetapi hal ini hanya terjadi pada difabel yang memang aktif dan berbaur dengan masyarakat. Sedangkan untuk difabel yang belum keluar dari rumah, masih belum tersentuh.

Menurut Zulfadli Aldiansyah difabel Cyrebral Palsy (CP) sekaligus Duta Disabilitas Kota Banda Aceh, yang dihubungi melalui telepon selular mengatakan bahwa, ”Kota Banda Aceh belum bias disebut sebagai kota yang ramah untuk penyandang disabilitas karena bangunan publik yang dibangun oleh pemerintah belum bisa diakses oleh semua orang”.

Description: IMG_20171106_151111.jpgDescription: IMG_20171106_151111.jpgDescription: IMG_20171106_151413.jpgDescription: IMG_20171106_151413.jpgDalam perencanaan pembangunan, Pemerintah Kota Banda Aceh sudah mulai menyentuh tentang aksesibilitas. Ini sudah dapat dilihat dibeberapa fasilitas publik yang ada di Kota Banda Aceh seperti pedestrisian di Taman Sari sudah ada guding blok dan beberapa tempat lainnya.

Fasilitas bagi penyandang disabilitas di Taman Sari Kota Banda Aceh yang sudah menyediakan gaeding blok dan ramp 

Namun kondisi ini masih jauh sekali dari yang diharapkan. Hal ini karena ketika berbicara tentang hak difabel, bukan hanya berbicara hak tunanetra saja tetapi juga penyandang disabilitas lainnya. Selain itu hak semua orangpun harus terpenuhi seperti juga.  

Berbicara tentang aksesiilitas, tentu tak hanya sebatas aksesibilitas untuk jenis difabel tertentu saja seperti difabel netra yang butuh guiding block. Pemenuhan hak atas aksesibilitas seharusnya juga memperhatikan hak semua orang seperti hak anak, hak orang lanjut usia dan hak perempuan.

Saat ini gerakan perubahan yang dilakukan untuk memperjuangkan hak difabel sudah bagus karena dimulai dari bawah. Gerakan perubahan itu dimulai dari level   keluarga, masyarakat sampai dengan ke pengambil kebijakan level gampong sampai provinsi. Jika masyarakat sudah mulai menyadari akan keberadaan difabel disekitarnya maka sedikit demi sedikit perubahan ini pasti akan terjadi dan Kota Banda Aceh akan menjadi kota inklusi yang ramah untuk semua orang termasuk masyarakat difabel.   (Yasser Walat)

The subscriber's email address.