Lompat ke isi utama
Ajiwan Arief, Ginanjar Rohmat, Budi Moyo sedag menikmati akksesibilitas kota Sydney

Sydney Sebagai Percontohan Kota Inklusi

Solider.id, Yogyakarta - Kajian konseptual mengenai kota inklusi hingga saat ini memang masih sangat minim ditemui. Apalagi di Indonesia, literatur yang membahas mengenai kota inklusi nyaris tak bisa ditemukan. Kota inklusi sendiri secara sederhana dapat di definisikan sebagai kota yang ramah bagi semua warga yang tinggal di kota tersebut. Artinya, seluruh fasilitas yang ada di kota tersebut, harus mampu dijangkau oleh warganya.

Jika sebuah kota ingin dikatakan sebagai kota inklusi, tentu terlebih dahulu harus ditentukan apa saja yang menjadi indikator terbentuknya kota yang inklusi. Arif Maftuhin direktur Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga telah menuliskan indikator untuk menilai sejauh mana kehidupan yang inklusif dapat dijalankan dalam sebuah kota. Menurut Arif ada empat indikator untuk menilai inklusivitas sebuah kota. Indikator-indikator tersebut meliputi (1) Partisipasi difabel; (2) Ketersediaan layanan hak-hak difabel; (3) pemenuhan aksesibilitas; dan (4) Sikap  inklusif warga kota, baik yang menjabat sebagai aparat pemerintahan maupun warga kota umumnya.[1]

Sydney, salah satu kota besar yang ada di Australia dapat dijadikan percontohan kota inklusi. Hal ini karena Sydney telah memenuhuhi keempat indikator yang disyaratkan untuk menjadi kota inklusi.

Ajiwan Arief Hendradi, seorang difabel netra warga negara Indonesia yang berkesempatan untuk meningjakkan kaki di kota Sydney dalam rangka mengikuti program kursus singkat bagi para aktivis difabel yang diselenggarakan oleh Australia Award Scholarship menceritakan bahwa Sydney merupakan kota yang ramah bagi difabel seperti dirinya. Sydney  telah memenuhi indikator yang di syaratkan untuk disebut sebagai kota inklusi.

Yang pertama, mengenai partisipasi difabel, dirinya menemukan hal yang menarik. Kelompok difabel mental intelektual dapat mengadvokasi dirinya sendiri melalui gerakan-gerakan yang di inisiasi oleh organisasi-organisasi yang fokus terhadap isu difabel. Para difabel mental intelektual di Sydney terlibat secara langsung dalam gerakan penyadaran atau kampanye publik guna meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai keberadaan difabel mental intelektual. Hal ini menjadi menarik karena gerakan serupa masih cukup sulit ditemui di Indonesia.

Yang kedua mengenai ketersediaan layanan hak-hak. Australia telah menjamin hak-hak  difabel dengan berbagai undang-undang yang dimilikinya. Beberapa diantaranya adalah undang-undang anti diskriminasi, Konvensi hak-hak penyandang disabilitas (CRPD) dan berbagai peraturan lainnya. Implikasinya, hak-hak difabel di Australia secara umum dan Sydney secara khusus telah mendapatkan perlindungan hukum dari pemerintah.

Yang ketiga, perihal pemenuhan aksesibilitas. Ajiwan  menuturkan bahwa pemenuhan aksesibilitas bagi difabel di Sydney sudah sangat baik. Ajiwan mencontohkan trotoar di Sydney sangat mudah diakses oleh para difabel termasuk difabel netra seperti dirinya. Ajiwan melanjutkan trotoar di kota Sydney sangat nyaman digunakan untuk berjalan kaki. “tidak ada satu pun undakan di trotoar  di sana” ungkapnya sambil menunjukan tongkat yang ia gunakan selama di Australia.

Selain itu pemenuhan aksesibilitas yang cukup baik yang ia temui mengenai adanya rekayasa perangkat teknologi yang dapat mempermudah difabel netra dalam menyebrang jalan. Rekayasa perangkat teknologi tersebut dapat dijumpai di setiap lampu merah. Seorang difabel netra tinggal menekan tombol tertentu kemudian perangkat tersebut akan menginformasikan kepada difabel netra kapan waktu yang tepat untuk menyebrang.

Yang keempat yaitu mengenai sikap inklusif warga kota. Ajiwan mengatakan budaya masyarakat Australia secara umum dan Sydney secara khusus menggambarkan bahwa masyarakat Australia adalah masyarakat yang inklusif. Ajiwan memiliki beberapa pengalaman menarik terkait hal ini. salah satunya adalah ketika ia sedang menyebrang jalan bersama rekannya yang merupakan pengguna kursi roda, tiba-tiba ada orang lain yang membantunya dalam menyebrang jalan tersebut. Selain itu budaya inklusif di masyarakat Australia dapat dilihat ketika ada antrian. Ketika antri difabel pasti di dahulukan untuk mengakses antrian.

Hal yang senada juga disampaikan oleh Shafarudin Syam seorang warga negara Indonesia lainnya yang mengikuti program kursus singkat yang ditawarkan oleh Australia Award Scholarship. Shafar, begitu ia akrab dipanggil, menuturkan bahwa dirinya yang seorang difabel pengguna kursi roda merasa nyaman ketika berada di Sydney. Pertama, perihal partisipasi difabel di Sydney, Shafar mengatakan partisipasi difabel di Australia  cukup baik. Berbeda dengan di Indonesia yang mana gerakan difabel di dominasi oleh difabel tertentu seperti difabel netra, difabel daksa dan Tuli. Australia telah membuka ruang partisipasi bagi kelompok difabel mental intelektual yang juga dapat turut partisipasi untuk memperjuangkan hak-haknya.

Yang kedua mengenai ketersediaan layanan hak-hak bagi difabel, Shafar menilai bahwa pemerintah Sydney telah menjamin ketersediaan hak-hak kelompok difabel dengan memberikan perlindungan hukum. Menurut Shafaar, tingginya komitmen pemerintah Australia untuk melaksanakan CRPD atau Konvensi hak-hak penyandang disabilitas adalah alasan mengapa ketersediaan layanan hak bagi difabel di Australia dapat terjamin.

Kemudian yang ketiga, Shafar menilai pemenuhan aksesibilitas yang ada di Sydney sangat mempermudah diffabel untuk melakukan mobilitas. Shafar mengatakan bahwa ia yang merupakan pengguna kursi roda dapat melakukan mobilitas secara mandiri tanpa bantuan orang lain.

Sementara untuk poin yang keempat mengenai sikap inklusif warga kota, Shafar menceritakan bahwa warga di Sydney memiliki budaya masyarakat yang inklusif. Salah satu pengalaman   ketika ia dan dua orang rekannya ingin menaiki sebuah bus. Ketika itu orang-orang  sedang berdesak-desakan guna memasuki bus. Namun, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang menghentikan para penumpang yang berdesak-desakan guna memberi kesempatan untuk Shafar dan kedua rekannya yang difabel untuk memasuki bus terlebih dahulu. “wanita tersebut memberikan pengertian kepada para penumpang yang lain bahwa ada kami yang juga ingin memasuki bus, kemudian secara otomatis para penumpang yang lain juga memberikan ruang bagi kami.” Ungkap Shafar saat dihubungi melalui Whatsapp

Berdasarkan penuturan dari kedua  difabel yang telah menginjakkan kaki di Sydney, maka dapat disimpulkan bahwa Sydney telah dapat dikatakan sebagai kota yang inklusif karena telah memenuhi indikator sebagai kota inklusif.

Sydney telah dapat dijadikan acuan untuk mewujudkan kota yang inklusif. kota-kota di Indonesia juga harus memenuhi empat indikator tersebut jika ingin dikatakan sebagai kota inklusi. Perlu ada partisipasi difabel, ketersediaan layanan hak-hak, pemenuhan aksesibilitas dan sikap inklusi warga kota untuk membentuk lingkungan kota yang ramah bagi difabel. Hal ini menjadi PR besar bagi pemerintah Indonesia untuk merancang sebuah kota agar dapat diakses oleh setiap orang tanpa terkecuali. Pemerintah Indonesia dapat menjadikan Sydney sebagai acuan dalam membentuk lingkungan kota yang inklusif. (Tio Tegar)

 

[1] Arif Maftuhin, “Mendefinisikan Kota Inklusif : Asal-usul, teori dan indikattor”, Jurnal Tata Loka, Vol. 19, No. 2, hlm 9

The subscriber's email address.