Lompat ke isi utama
Suparman, saat ditemui solider beberapa hari yang  lalu

Suparman, Difabel Korban Gempa yang Kini Aktif di Gerakan Tanggap Bencana

Solider.id-Gunungkidul Suparman, sosok yang ramah dengan senyuman. Ragam organisasi yang ia ikuti jadi wadah belajar tempat ia bersilaturahim, mencari ilmu untuk berbagi pengalaman. Banyak pengalaman menempa, tak lantas membuatnya tinggi hati pada sesama. Saat turun dari motor roda tiga, kursi roda Suparman dengan lincah bergerak memutar, menuju posko Tagana Yogya yang lintasan gerbangnya sedikit penuh dengan motor berjejal.

“Pendamping kita tidak selamannya ada. Itulah sebabnya mengapa kita harus belajar mandiri dalam segalanya. Sebagai misal saat bersama orangtua. Kalau kita yang meninggal lebih dulu tidak jadi masalah, tapi bagaimana kalau orangtua kita yang lebih dahulu meninggal? Siapa yang akan merawat dan mengurusi kita?” Suparman, ayah dua putra ini mengawali kisah hidupnya.

“Hal terpenting yang selalu saya tekankan pada teman-teman difabel, minimal mereka harus mampu rawat diri.” Memotivasi sesama difabel paraplegi, kalimat sakti inilah yang selalu ia jadikan pedoman diri. Menjadi difabel paraplegi sebagai korban gempa Yogya tahun 2006 silam,  Suparman sebelumnya terbiasa merantau ke luar Jawa. Ia pulang tak hanya demi menuntaskan kerinduan.

“Ada keinginan untuk bisa memiliki usaha sendiri, makanya saya pulang tanpa pernah mengira akan jadi korban bencana.” Berkata ia mengenang kisah lama. Suparman, Pria asli Bantul, 1 Januari 1977 ingin berbagi apa yang ia rasakan. Suparman mengaku sempat kebingungan di awal masa difabilitasnya.

“Saya bingung. Kok saya jadi seperti ini? Mau bekerja, kerja apa?” Ujarnya kemudian. Karena rasa tanggung jawab yang harus ia emban, Suparman memilih untuk berdaya.

 “Waktu itu saya sudah berkeluarga dan punya dua anak yang masih kecil-kecil, masih butuh susu. Ibunya juga korban gempa, tidak ada yang bekerja. Dari situ saya berpikir bagaimana cara mendapat uang halal agar bisa membelikan susu untuk anak-anak.” Sekarang Suparman bisa menikmati hari-harinya dengan usaha membuat kerajinan.

“Semula hanya iseng menghabiskan waktu, saya membuat puzzle kayu dan aneka celengan. Untuk celengan saya membuat dari daur ulang kertas limbah sisa gulungan kain yang saya bungkus dengan limbah perca batik agar lebih menarik.” Ujar Suparman sesaat sambil menunjukkan katalog karya kerajinan yang ia hasilkan.

Lewat katalog pula Suparman menawarkan kreasinya untuk lebih memudahkan proses penjualan. Berkisah tentang usaha yang tengah ia jalankan, Suparman awalnya hanya membagikan hasil keterampilan yang ia buat pada anak-anak tetangga sekitar. Lalu sedikit demi sedikit mulai ada yang memesan, maka ia memilih memutuskan untuk menekuni jadi pekerjaan.

Tak pernah merasa malu dengan pendapatan kecil yang dihasilkan, Suparman justru senang karena bisa bekerja sesuai kehendak hati yang ia inginkan. Dengan bangga ia mengungkapkan bahwa ia tak ingin bekerja pada orang lain atau perusahaan yang terikat dengan aneka ragam perjanjian.

“Mengingat kondisi difabel paraplegi rawan dengan luka dicubitus membuat saya harus bisa membatasi dan menjaga diri. Bekerjapun saya tidak memasang target. Apalagi saya bekerja sendiri dan tidak ikut perusahaan. Bekerja dengan cara seperti ini membuat saya lebih mudah melakukan semuanya dari rumah. Sambil mengurus rumah tangga karena saya ada tanggungan anak dan orangtua  saya tetap bisa bekerja sekehendak hati saya.” Hidup dijalani Suparman dengan kebahagiaan.

Saat persediaan celengan dan puzzle yang dikemas plastik dengan pita aneka ragam sudah mencukupi perkiraan, maka ia bisa sejenak melepas penat sambil menanti pesanan.

“Bersyukur saya tak pernah mengalami kesulitan bahan. Ada teman yang menjual bahan dasar celengan dengan harga murah. Ada saran juga dari pelanggan untuk membuat celengan dari bahan bambu berhias ukiran.” Suparman mengutarakan. Sementara tehnik pemasaran, ia memilih menggunakan media sosial untuk digunakan.

Aktif dalam berbagai organisasi difabel di lingkungannya, antara lain Paguyuban Paraplegi Yogya, Forum Komunikasi Difabel Bantul, menjadi ketua di Difabel Imogiri Sehat II dan bergabung dalam Difagana tak serta merta membuat harinya bebas berkegiatan. Dalam keseharian, bersama orangtua dan dua putranya yang sudah beranjak remaja, Suparman  tinggal di Desa Tlogo Kebon Agung, Imogiri, Bantul, yang rawan dengan kondisi bencana. Keberadaan tim penanggulangan bencana desa yang mengadakan kegiatan rutin tiap bulan dengan melibatkan warga desa difabel, telah membuat Suparman tertarik aktif terlibat dalam pengurangan resiko bencana di desanya.

“Sebelum terjun dalam kebencanaan kita harus tangguh menghadapi bencana untuk menyelamatkan diri sendiri. Bekali diri dengan belajar tentang ilmu kebencanaan, sebelum bencana, saat bencana dan setelah terjadi bencana, apa yang harus kita lakukan.” Suparman memberi sedikit saran. Dengan menjadi relawan Suparman tahu bahwa berarti ia melakukan kerja tanpa keterpaksaan.

“Saya harus selalu siap. Tanpa kendala. Untuk itu kita perlu tahu prosedur sesungguhnya bagaimana menangani bencana agar tidak menjadi korban bencana dan korban yang kita tolong bisa diselamatkan.” Sudah bergabung dengan tim pengurangan bencana di desanya, jauh sebelum ia bergabung di Difagana membuat Suparman siap di segala medan dan suasana bencana.

Bersama Imogiri Sehat II yang berdiri sejak 2014, dimana Suparman menjadi ketuanya, organisasi ini mengajak anggotanya untuk selalu rutin melakukan tes kesehatan,  senam bersama dan membuka bank sampah. Masih memiliki impian yang belum bisa diwujudkan, Suparman ingin melakukan pemberdayaan anggotanya dengan memiliki sebuah usaha yang dijalankan bersama.

“Harapan saya, melalui usaha bersama teman-teman difabel bisa memiliki kesibukan dan bisa mendapat penghasilan.” Suparman menutup dengan menyampaikan sepotong harapan. (Yanti)

The subscriber's email address.