Lompat ke isi utama
Saat peluncuran program @aula ialf

Dare To Hope; Sebuah Usaha untuk Membangun Keterampilan Berbahasa Inggris Terapis Difabel

solider.id Denpasar - dua alumni Flinders University Agung Sudiani dan Nurul Fadjar Naisin, memiliki cara tersendiri dalam memberdayakan difabel penglihatan di wilayah Denpasar. mereka mendesain sebuah program yang bernama ‘Dare to Hope’ (tantangan menuju harapan). Program ini merupakan pelatihan bahasa Ingris yang diperuntukkan bagi 12 orang anggota pertuni Bali.

Saat menjadi peserta English Language Training assistant (ELTA) September-Desember 2017, saya banyak berdiskusi dengan kedua orang ini, utamanya mengenai cara yang tepat dalam memberdayakan difabel di sekitar mereka. Pengalaman mengajar difabel di kelas inklusif dalam program ELTA serta beberapa artikel tentang difabel yang mereka baca di blog ekspedisidifabel dan portal solider.id membuat mereka merasa menemukan hal baru yang memotivasi dan ingin berbuat lebih bagi difabel.

Lewat asesment sederhana yang mereka lakukan, mereka mengetahui jika difabel penglihatan yang sehari-hari berprofesi sebagai terapis di Denpasar, umumnya belum memiliki kemampuan bahasa inggris yang cukup memadai. Padahal, tak jarang mereka menerima klien internasional. Karena tak bisa berbahasa inggris, para terapis tersebut pun kesulitan berkomunikasi dengan turis-turis internasional yang membutuhkan jasa mereka. Hal inilah yang mendorong Agung dan Nurul kemudian membuat program tersebut.

Hingga akhirnya beberapa kontribusi menjadikan program ini dapat betul-betul terlaksana. Program ini disponsori oleh Pemerintah Australia melalui dana hibah dan dikelola oleh Australia Awards di Indonesia. Program  ini diselenggarakan di Indoneasia Australia Language foundation (IALF Bali) melalui penyediaan fasilitas dan sumber daya.

Program ini kemudian diluncurkan oleh Dr. Helena Studdert, Konsul Jenderal Australia di Bali pada tanggal 15 Februari 2018. Peluncuran ini dihadiri oleh  I Made Mertajaya (Kepala Dinas Sosial Kota Denpasar),  Denise Finney (CEO IALF),  Caroline Bentley (Manajer IALF Bali), dan  Komang Wartini (Silabus & Penasehat Materi). Dua belas peserta dipilih (6 laki-laki, 6 perempuan) dan dikelompokkan menjadi  dua kelas (Pre-Elementary dan Elementary). Mereka akan mengikuti training yang dilaksanakan kurang lebih delapan minggu, (Februari-Maret 2018).

Menurut Nurul, kegiatan ini membuatnya akan belajar banyak hal terkait kelas inklusif, serta metode yang tepat dalam mengajar siswa dengan gangguan penglihatan. Selain itu, temuan-temuannya saat mengajar akan menjadi pengalaman yang amat berharga, yang membuatnya semakin percaya diri dalam mengajar kelas inklusif. Apalagi, ia masih akan menjadi pengajar dalam program ELTA 2018 yang akan kembali melibatkan difabel.

Sementara itu Agung mengatakan bahwa program ini dapat membantu para terapis difabel dalam memperluas jaringan bisnisnya, dengan kemampuan bahasa inggris yang baik, para terapis tersebut tidak akan lagi kesulitan saat menerima pelanggan internasional. Tentunya hal tersebut berdampak juga pada penghasilan mereka.

“Kami sangat berharap pelatihan ini akan memperluas klient internasional mereka dan karena itu meningkatkan kesejahteraan mereka dengan melengkapi keterampilan dasar mereka dalam berbahasa Inggris.”

Untuk memastikan agar kegiatan belajar otonom mereka berlanjut setelah selesainya kursus, PERTUNI akan diberikan 2 laptop dengan satu set bahan akses mandiri (teks audio dan Braille). Nantinya, untuk mengakses materi-materi tersebut, para difabel netra dapat berkunjung di pertuni bali, yang beralamat di jalan Serma Mendara, no.3 Sanglah, Dauh Puri Klod, Denpasar Barat . (Ramadhan Sharro)

The subscriber's email address.