Lompat ke isi utama
Suhaedin, salah satu difabel di Malang yang aktif berorganisasi sosial sedang diwawancara mahasiswa skripsi di tempat kerjanya

Menjembatani Peluang Kerja dan Social Enterpreuner bagi Difabel

Solider.id, Malang- Belum lama, sebuah perusahaan swasta yang berupaya melakukan pemberdayaan difabel menghubungi saya, meminta merekomendasikan beberapa anggota sebagai fasilitator kegiatan. Kegiatan yang dimaksud bukan peluang kerja, melainkan kegiatan sosial yang berkaitan dengan upaya pemberdayaan difabel dan promosi perusahaan.

Tidak menunggu lama, peluang itu saya bagikan ke salah satu grup media sosial difabel. Mengingat beberapa teman nampak memerlukan pekerjaan. Karena menilik tawaran peluang berasal dari perusahaan bonafit dan telah dikenal reputasinya, meskipun bersifat kegiatan sosial namun bisa menjadi jembatan menuju peluang pekerjaan.

Mulanya dalam dua hari informasi tersebut sedikit yang merespon, bisa jadi karena judulnya kegiatan sosial dan bukan lowongan kerja. Bisa juga sebab dalam grup banyak yang merasa tidak berkemampuan sebagai fasilitator.

Kegiatan sosial adalah aktivitas yang ditujukan untuk kemanfaatan orang tanpa mengharapkan keuntungan atau timbal balik. Contohnya gotong-royong membangun rumah warga tidak mampu, mengadakan pelatihan kerja gratis bagi difabel, serta membuka rumah belajar tanpa biaya bagi anak-anak jalanan.

Bagi mereka yang bergelut di kegiatan sosial, mendedikasikan waktu dan pengetahuannya untuk kepentingan umum. Namun tak tertutup kemungkinan aktivitas ini dilakukan dengan niat yang negatif, misal mengatasnamakan sosial menggalang dana untuk orang miskin. Namun penggunaanya untuk kepentingan pribadi. Ini cukup banyak terjadi, termasuk oknum yang mengatasnamakan peduli difabel.

Kebaikan kegiatan sosial biasanya menarik perhatian banyak orang. Kalau di medsos umumnya ditandai dengan like dan share, hingga puluhan, ratusan bahkan ada pula yang ribuan. Di antara mereka yang tertarik ada juga yang menyumbang atau memberikan donasi.

Namun untuk pelaksanaan kegiatan sosial di lapangan biasanya minim orang. Berbanding terbalik dengan like, share dan komentar di media sosial. Sebagai contoh, kegiatan sosial oleh organisasi difabel dari 50 orang anggota, yang aktif dan rutin melalukan aktivitas biasanya tak lebih dari empat hingga lima orang, selebihnya tidak tentu.

Dalam pemikiran praktis penyebab minimnya orang yang mau aktif melakukan kegiatan sosial adalah tidak adanya keuntungan materi, imbal-balik ekonomi atau upah. Namun hakikat dari semua aktivitas pada dasarnya tidak ada yang tanpa timbal balik, berdasarkan hukum sebab akibat. Termasuk dalam kegiatan sosial, terkait dengan ketenagakerjaan bagi difabel setidaknya ada dua dampak positif yaitu jembatan menuju peluang kerja dan enterpreuner.

Jembatan menuju peluang kerja. Berbagi pengalaman pribadi, pada 2010 lalu ketika saya melakukan kegiatan sosial di Sumatera Selatan di sebuah Dusun pelosok yang jauh dari layanan kesehatan dan layanan pemerintah lainnya. Terdapat orang sakit tak terobati, anak gizi buruk, kusta juga difabel. Setelah assesment dan survei beberapa waktu, jalan yang dipilih adalah menulis dan mempublikasi di media.

Dampak dari kegiatan sosial ini, memberikan pengaruh secara umum bagi masyarakat dusun dan secara khusus bagi saya sendiri. Terbukanya akses dengan dunia luar dan layanan kesehatan. Dinas Kesehatan secara rutin mengadakan layanan pengobatan gratis seminggu sekali. Pelayanan lainnya dari lintas organisasi mahasiswa dan kemasyarakatan.

Secara khusus dampak bagi pribadi adalah terbukanya jaringan sosial lebih luas. Membuka kesempatan-kesempatan seperti beasiswa pendidikan dan pelatihan-pelatihan peningkatan kompetensi dalam berorganisasi. Juga secara profesi jurnalis, berlanjut kesempatan menelusuri pulau Sumatera, dari Lampung hingga Aceh untuk liputan perjalanan sebuah organisasi lingkungan hidup. Bahkan manfaat masih juga berlanjut hingga saat ini, jaringan sosial menghantar saya mengisi lowongan kontributor di Solider, media online yang fokus pada isu-isu difabel.

Menengok pengalaman lainnya, adalah Suhaedin difabel fisik. Polio yang ia alami sejak lahir tak membuat ia mati karir. Diawali dengan pertemanan sesama difabel, pria yang kini berprofesi menjahit ini mendapat info pelatihan kerja. Dan berangkatlah ia ke Yakkum Yogjakarta untuk belajar berbagai keterampilan.

"Banyak teman banyak rejeki, banyak membantu orang lain banyak pula kemudahan yang akan kita peroleh termasuk dalam urusan pekerjaan," tutur Suhaedin yang pada 2018 ini dipercaya sebagai Ketua Harian Lingkar Sosial Indonesia di Malang. Secara profesi ia bekerja sebagai pengawas di konveksi, juga ada bengkel sepeda motor di rumah. Secara sosial mendampingi kelompok kerja difabel Lingkar Sosial.

"Secara niat ya dibedakan, mana profesi atau bisnis dan mana sosial atau membantu yang lain," tutur Ujang. Namun dampaknya bisa sama yaitu manfaat bagi sesama bahkan rejeki bagi pribadi.

"Sebagai pengawas di konveksi jika ada lowongan pekerjaan saya utamakan pelamar dari difabel," ungkapnya. Syaratnya yang penting bisa kerja, disiplin dan beritikad terus belajar untuk meningkatkan kemampuan.

Lanjut Ujang, kalau di Lingkar Sosial merupakan kegiatan murni membantu sesama difabel. Mengadakan pelatihan kerja gratis dan mengakomodir teman-teman difabel dalam kelompok kerja. "Namun jangan salah dalam kegiatan sosial ini juga mendatangkan rejeki," kata Ujang. Hasil penjualan produk kelompok kerja yaitu tas dan dompet dari kain perca menambah pendapatan ekonomi anggota. Kegiatan bisnis berbasis kegiatan sosial selanjutnya disebut social enterpreuner.

Kembali pada peluang fasilitator kegiatan sosial di atas, bahwa sesungguhnya bisa menjadi jembatan menuju karir. Untuk diketahui tren perusahaan berbasis kemampuan, saat ini banyak merekrut karyawan melalui jalan kegiatan sosial, pelatihan kerja, seminarkepemimpinan, jambore, youth camp hingga acara santai seperti cangkrukan. Mereka yang menonjol dan dinilai berprestasi akan direkrut kemudian.

Faktor-faktor pengangguran

Riset Lingkar Sosial pada beberapa kasus pengangguran yang dialami beberapa orang non difabel dan difabel, melalui wawancara, bergabung dalam milis lowongan kerja dan pengamatan selama satu tahun dalam kelompok kerja difabel dan jaringannya, menunjukkan beberapa sebab seseorang menjadi pengangguran.

Bagi non difabel setidaknya terdapat empat faktor, yaitu pendidikan rendah, minim kompetensi, tak cukup modal uang dan jaringan. Sedangkan bagi difabel selain empat faktor di atas ditambah empat faktor lainnya yaitu minimnya aksesibilitas, stigma masyarakat, self stigma serta regulasi yang tidak memihak. Artinya hambatan difabel dua kali lebih banyak daripada non difabel atau 100 persen.

Hasil lainnya, menunjukkan baik difabel maupun non difabel yang kaya jaringan dan efektif mampu memanfaatkannya, akan lebih cepat mendapatkan peluang pekerjaan sekalipun skill terbatas. Faktor tingkat pendidikan dan modal uang bukan lagi menjadi masalah utama. Dalam kasus ini kaya jaringan dihasilkan dari pertemanan dalam lintas organisasi sosial yang efektif memanfaatkan jaringan dengan aktif dan berkelanjutan dalam kegiatan sosial.

Khususnya bagi difabel, minimnya aksesibilitas di segala bidang merupakan hambatan penting, utamanya berkaitan dengan informasi dan peluang kerja. Dalam hal ini, organisasi sosial termasuk komunitas difabel berperan sebagai penyampai informasi yang cepat, dan wadah yang tepat untuk mengembangkan kompetensi.

Namun tentu saja informasi dan peluang kerja termasuk peluang bisnis/social enterpreuner yang disampaikan melalui organisasi akan diterima pertama kalinya oleh mereka yang aktif. Harapannya rekan-rekan difabel makin giat beroganisasi sosial, bukan semata mencari peluang ekonomi namun pasti selalu manfaat pada setiap kebaikan. [Ken]

The subscriber's email address.