Lompat ke isi utama
Dus Dur dan Imlek

Imlek, Diskriminasi dan Gus Dur

Solider.id, Yogyakarta - Jumat, 16 Fabruari 2018, adalah perayaan Tahun baru Imlek bagi seluruh rakyat Tionghoa di seluruh dunia. Tahun baru Imlek ini juga dinikmati oleh seluruh masyarakat keturunan Tionghoa yang berada di Indonesia. Jumlah keturunan Tionghoa di Indonesia sendiri cukup besar jumlahnya karena faktor sejarah peradaban persebaran bangsa Tionghoa sampai ke Indonesia.

Keleluasaan perayaan Tahun baru Imlek tentu sudah melalui banyak perjuangan. Etnis Tionghoa yang ada di Indonesia sudah mengalami diskriminasi sejak dahulu. Dikutip dari Tirto.id, kebencian dan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa di Indonesia merupakan hasil dari politik pecah belah yang dilakukan oleh Soeharto. Hal ini disebutkan dalam penelitian Amy Freedman dari Franklin and Marshall College. Dalam penelitiannya, disebutkan bahwa etnis Tionghoa kala itu diminta untuk melakukan asimiliasi dan mengidentifikasi diri mereka sebagai nonpribumi. Salah satu puncak sentimen terhadap etnis Tionghoa terjadi pada era 98 ketika kerusuhan besar pecah dan menargetkan masyarakat Tionghoa sebagai sasarannya.

Wajah kelam diskriminasi dan sentimen terhadap etnis Tionghoa di Indonesia setidaknya mulai sedikit memudar ketika pada masa pemerintahan KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, ruang ekspresi kebudayaan dari etnis Tionghoa di Indonesia mulai diberi ruang. Salah satunya adalah perayaan hari raya umat Tionghoa, tahun baru Imlek. Tahun baru masyarakat Tionghoa itu diakui secara nasional dan ditetapkan sebagai hari libur. Setelahnya pada masa pemerintahan Megawati Soekarno Putri, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Gus Dur adalah orang yang sangat berani dalam mengedepankan toleransi dan multikulturalisme. Keberanian yang ia miliki tersemai semenjak ia melanglang buana mencari ilmu sampai Mesir, Irak dan bahkan negeri Belanda. Kepekaan terhadap multikulturalisme di Indonesia ini adalah pengejawantahan dari nilai-nilai dan ragam keilmuan yang ia tuntut di berbagai belahan dunia tersebut. Tapi, bisa jadi, pendekatan humanisme yang sering ditonjolkan oleh Gus Dur, utamanya ketika berani mengedepankan nilai kemanusiaan sosial dalam mengesahkan Imlek sebagai hari libur adalah perasaan senasib sepenanggungan sebagai ragam masyarakat yang pernah merasakan diskriminasi. Gus Dur terkena disriminasi? Ya. Gus Dur adalah satu-satunya difabel dalam sejarah berdirinya Negara Kesatuan Rupublik Indonesia yang menjadi presiden.

Gus Dur menempatkan kepekaan merasakan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa karena ia juga seringkali mengalami diskriminasi. Dilansir dari Gusdurian.net, perjuangan Gus Dur dimulai ketika pada tahun 1999 Gus Dur diangkat menjadi presiden ke empat Indonesia dengan kondisi kedua mata yang sudah tidak bisa melihat. Cibiran banyak datang pada saat itu. Mana mungkin orang yang punya hambatan penglihatan bisa memimpin negara. Tapi, Gus Dur bisa membuktikan pada saat itu bahwa, sesuai amanat Undang-Undang, difabel seperti ia bisa menjadi orang nomor satu di Indonesia. Meskipun pada akhirnya, Gus Gur harus menerima untuk dilengserkan pada tahun 2001 atas dugaan isu Bullogette dan Bruneigate.

Pada tahun 2004, Gus Dur kembali mendaftarkan diri sebagai calon presiden, sebagaimana ia memperjuangkan hak-hak yang dimilikinya sesuai apa yang sudah diamanatkan dalam Undang-Undang. Diskriminasi lalu menghadangnya. Langkah Gus Dur untuk ikut dalam kontestasi politik pemilu tahun itu harus terganjal karena alasan bahwa Gus Dur tidak sehat secara jasmani dan rohani. Ia pun gagal untuk kembali maju sebagai calon presiden.

Pengalaman menjadi orang yang terdiskriminasi ini bisa jadi yang menggerakkan Gus Dur untuk melihat permasalahan multikulturalisme yang ada di Indonesia dengan sudut pandang toleran, satu sudut pandang yang mungkin saja membuat Gus Dur memutuskan untuk mengakomodasi hak dari etnis Tionghoa untuk merayakan Imlek.

Sama-sama telah merasakan diskriminasi telah menempatkan Gus Dur pada sebuah sudut pandang yang melihat bahwa seluruh masyarakat Indonesia seharusnya punya hak yang sama dalam segala aspek kehidupan, dan ia memilih untuk membela kemanusiaan meski pun resiko dan cibiran senantiasa menunggu di belakangnya. Meski pun pada akhirnya diskriminasi masih terjadi baik pada etnis Tionghoa maupun pada difabel, nilai-nilai keluhuran dan kemanusiaan yang selalu Gus Dur junjung tinggi sudah seharusnya terus kita rawat bersama. (Yuhda)        

The subscriber's email address.