Lompat ke isi utama
Yesi Nuresti (28), difabel daksa dari Kampung Padaketi, Kab. Cianjur, berpose bersama produk jualan onlinenya (12/2)

Teknologi Hantarkan Yesi Nuresti Menjadi Wirausaha

Solider.id, Cianjur- Tak dapat dipungkiri, teknologi memiliki peranan penting dalam kehidupan masa kini. Tak hanya sebagai kebutuhan eksistensi dan gaya hidup semata. Namun juga menjadi sumber pencaharian bagi mereka yang jeli melihat peluang. Manfaat itulah yang dirasakan Yesi Nuresti (28), seorang daksa dari kampung Padaketi, Cianjur.

Berkat Teknologi, Yesi mampu menjadi wirausaha. Berawal dari kegemarannya berbelanja online, ia melihat sebuah peluang usaha untuk menjadi seorang reseller dari agen busana muslim. Kejeliannya tidak sia-sia, bisnis online-nya menghasilkan laba bersih sebesar Rp10-15 juta setiap bulannya.

Konsumennya pun tidak hanya seputar Indonesia saja, namun merambah hingga ke Malaysia dan Arab Saudi. Usaha yang digelutinya sejak 2012 tersebut menghantarkan ia bersama keluarganya umroh ke tanah suci Mekkah.

“Difabel harus melek internet. Dengan internet kita bisa punya banyak teman dan melihat banyak peluang usaha” ujar Yesi ketika ditemui Solider di kediamannya (12/2).

Lebih lanjut, Yesi memaparkan bahwa ia hanya mengenyam pendidikan hingga usia 15 tahun saja. Hal tersebut dikarenakan kedua kakinya tak dapat digerakkan setelah dirinya jatuh dari tangga. Mulanya, hari-harinya dihabiskan dengan mengurung diri di rumah dan membaca banyak buku. Tak ada lagi kepercayaan diri yang tersisa dalam dirinya.

Pasca kedua kakinya tak dapat berjalan, ia selalu merasa bahwa hanya dirinya seorang yang mengalami kemalangan sedemikian rupa. Namun, akhirnya semua itu terbantahkan setelah ia mengenal layanan internet.

Melalui aplikasi Facebook, ia bergabung dengan banyak komunitas difabel, diantaranya Yayasan Difabel Mandiri Indonesia (YDMI). Ia pun tak sungkan untuk berkenalan dan berdiskusi dengan teman-teman dunia maya. Ia pun kini aktif sebagai anggota sebuah kajian religi bernama Tahajud Call (TC) di bawah naungan Daarut Tauhid, Bandung.

Pasang surut usaha pun dialaminya, namun ia tetap bersemangat untuk menekuni usahanya tersebut. Kini, bisnis online Yesi pun kian bertambah. Berbekal keterampilan yang diajarkan sang bunda, Euis Nur Aisah, dan pembuatan desain kemasan yang diperolehnya dari internet. Yesi kini memproduksi Makanan Ringan Cianjur atau ia singkat menjadi Marici yang dipasarkan melalui toko online miliknya.

Ayeuna mah sasaha ge tiasa sukses (saat ini siapapun bisa sukses), difabel atanapi sanes, nu penting mah kedah kreatip (difabel atau bukan, yang penting harus kreatif),” pungkas perempuan yang selalu mendampingi Yesi ketika beraktivitas di luar rumah dengan logat dan bahasa Sunda.

Mengakhiri pertemuan, Yesi berpesan, difabel memiliki kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang sama dengan non-difabel. Tak boleh berputus asa, ijazah bukan segalanya.

Baginya, selama memiliki keinginan belajar, jeli melihat peluang di sekitar dan tentunya mahir memanfaatkan layanan internet dengan bijak. Maka tidak ada yang tak mungkin.

Ia berharap, apa yang dicapainya ini dapat memotivasi rekan-rekan difabel lainnya. Seperti hal nya ia yang termotivasi Dini Lestari, sebuah profil difabel yang ditemuinya di Facebook dan berhasil mengubah dunianya. [Maya Aimee]

The subscriber's email address.