Lompat ke isi utama
Laksmayshita Khanza sedang mengikuti proses belajar di kampusnya.

Laksmayshita Khanza: Tidak Mudah Mengakses Pendidikan bagi Tuli

Solider.or.id.Yogyakarta. “Sejauh ini minim visualisasi materi di kelas teori. Tidak jarang pula dosen berbicara sangat cepat, dan terkadang tidak menghadap kelas. Sehingga bagi saya-mahasiswa tuli, tidak mudah memahami materi kuliah. Namun, ada beberapa dosen yang sudah peka dengan kondisi saya yang tuli. Sehingga saya mendapatkan penjelasan di akhir kuliah, atau diberikan catatan khusus, atau soft file.”

Kepada Solider, Rabu (14/2)Laksmayshita Khanza (22) menyampaikan hal tersebut. Ia merupakan mahasiswa tuli semester VIII Prodi Seni Rupa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, menyampaikan.

Obrolan dengan Shita-sapaan akrabnya-terjadi usai mengikuti pembekalan magang kedua, yang dilaksankaan di ruang 306, kampus yang berjuluk ‘kebangsaan dan kerakyatan’ itu. Pada Rabu (14/2), ia merupakan salah satu mahasiswa yang akan praktik kuliah magang, di antara ratusan mahasiswa lainnya dari empat prodi, yakni Seni Rupa, Bahasa Inggris, Matematika dan PKK.

Juru bahasa isyarat

Agar dapat memahami seluruh isi pembekalan, Shita ditemani seorang juru bahasa isyarat atau interpreter bernama Ekasari. “Tanpa bantuan Eka, saya akan kesulitan memahami penjelasan yang disampaikan oleh rektor saat membuka pembekalan, maupun penjelasan dosen koordinator magang,” ujarnya.

Menurut Shita, meminta bantuan juru bahasa isyarat sudah dilakukannya sejak masa orientasi mahasiswa baru, pada 2014. Ia yang ingin mengikuti kegiatan orientasi, ditemani tiga orang juru bahasa isyarat yang secara bergantian mengatur waktu untuk dapat menjadi telinga bagi Shita.

“Sesungguhnya kampus mengizinkan saya untuk tidak mengikuti kegiatan orientasi, tetapi saya tidak ingin melewatkan setiap kegiatan. Bantuan juru bahasa isyarat menjadi telinga dan mulut bagi saya sangat penting. Mereka adalah kakak Intan, Okti, dan Firda. Mereka bertiga sangat membantu saya, menterjemahkan setiap materi yang kesemuanya disampaikan dalam bentuk suara menjadi bahasa isyarat,” tutur Shita.

Demikian pula saat presentasi proposal tugas akhir (TA) Sabtu (23/12), bantuan juru bahasa isyarat pada presentasi TA-nya juga ia gunakan. Ramadani, kata dia, adalah juru bahasa yang membantunya.

Pada kesempatan itu, ia juga berbagi cerita bagaimana mengikuti perkuliahan di kelas. Ia bersyukur memiliki sahabat yang mau belajar bahasa isyarat. Fasma, meski bukan teman sekelasnya, dia teman baiknya. Bahkan menurutnya, Fasma mau belajar bahasa isyarat demi bisa berkomunikasi dengannya. Selain Fasma, kata dia, ada beberapa kawan mahasiswa yang juga sudah belajar bahasa isyarat.

Empati dosen

Selain kelas dan teman, ia juga bercerita tentang beberapa dosen yang memahami kebutuhannya. Dosen yang mau menjelaskan kembali dengan tulisan secara tatap muka, setelah mahasiswa lain usai diberikan penjelasan.

Terkadang dosen juga memberikan catatan khusus, terkait beberapa tugas. Ada pula dosen yang memberikan catatan materi tersendiri dalam bentuk soft file sehingga lebih mudah dipahami.

Dalam catatannya, dosen yang memahami dan banyak membantu perkuliahannya. “Ibu Iin, ibu Dewi, pak Rusnoto, pak Dwi, dan ada satu dosen lagi, masih muda tapi saya lupa namanya,” ungkap Shita kepada Solider siang itu.

Bagi Shita, sebagai mahasiswa tuli banyak usaha yang harus dilakukan untuk dapat mengikuti perkuliahan dan kegiatan lainnya dengan baik. “Tidak mudah, tetapi pasti akan selalu ada jalan untuk dapat mengikuti setiap kegiatan di kampus. Dan yang paling menyenangkan adalah saat kelas praktek. Saat praktek banyak visualisasi jadi menyenangkan dan mudah,” ujarnya.

Bahasa isyarat

Komunikasi merupakan hak dasar semua manusia. Karena komunikasi merupakan pintu masuk pada pemenuhan hak hidup lainnya. Termasuk bahasa komunikasi bagi tuli, yakni bahasa isyarat.

Namun selama ini, sekolah maupun Perguruan Tinggi kerap mengira memberikan layanan kepada difabel tuli, termasuk menyediakan juru bahasa isyarat merupakan hal yang memberatkan biaya operasional, terlebih ketika jumlah siswa atau mahasiswa tuli sedikit. 

Terkait belum adanya penyediaan akses komunikasi bagi mahasiswa tuli di UST Yogyakarta, Kepala Progra Studi (Kaprodi) Seni Rupa UST, Rusnoto Susanto memberikan penjelasan. “Saat ini akses masuk sudah dibuka dengan baik oleh UST Yogyakarta. Sehingga dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) sudah ada dosen yang paham, bagaimana menyampaikan materi yang aksesibel bagi mahasiswa tuli,” ujarnya.

Akan tetapi, lanjut dia, aksesibilitas lain yang layak sebagaimana standar pendidikan inklusi UST belum siap secara ideal. “Tentu saja ini tidak sederhana untuk dipenuhi, terkait dengan banyak aspek. Tapi minimal UST sudah membuka akses memperoleh pendidikan bagi calon mahasiswa tuli,” tandas Rusnoto. [Harta Nining Wijaya]

The subscriber's email address.