Lompat ke isi utama
Ilustrasi foto Windi

Windi dan Tontonan Kaum Ableist!

Oleh Ishak Salim*

 

FAUZAN MUKRIM, kawan dari Makassar mengunggah kabar seorang anak perempuan asal Pekalongan. Windi, namanya. Ia lihai menarik atau menekuk garis di lembar putih membentuk beragam motif untuk desain bermacam gaun perempuan. Windi hanya punya pulpen atau pensil sehingga desainnya hanya bermotif putih dan hitam.

Banyak orang menyukai hasil torehan pena Windi. Sudah beratus lembar kertas ia menarikan pensil dengan jemari kecilnya.

Kabar yang disampaikan di akun Facebook Ochan-sapaan akrabnya-itupun viral dan dibagikan oleh puluhan ribu netizen. Windi lalu menjadi serupa objek tontonan dari jutaan pasang mata. Ia memang seperti ditakdirkan menjadi objek tontonan siapapun. Jauh sebelumnya, di sekolah ia pun tak lebih dari objek tontonan.

Hanya kini lakon dan panggungnya berbeda. Dulu, di kelas dasar—sebelum ia memutuskan keluar—ia menjadi objek tertawaan dan cibiran sebagian besar murid atau gurunya karena dicap bodoh. Kini, di panggung drama yang jauh lebih lapang ia menjadi obyek kasihan dan tangisan. Tentu saja ada rasa kagum terbersit bercampur rasa hati yang mengharu dari para penonton.

Orang-orang pun memberinya pujian dan tak lupa turut menebarkan kabar semarak ke wajah siapa saja yang bisa terjangkau. Gaung riang membahana sepanjang hari untuk Windi. Panggung tontonan bagi Windi pun meluas saat ‘kumparan’ turut menabur dan televisi menangkap sinyal drama yang bisa meraup pirsawan.

Mungkin saja Windi tidak merasakan betapa menggandanya dirinya kini. Ia bukan lagi seorang diri yang saban hari menggandakan “temannya” dalam lembaran-lembaran kertas. Kini orang-orang membiakkannya dengan cara-cara yang tak bisa ia bayangkan.

Kabarkan satu kenyataan, lalu biarkan dunia maya mengemasnya, dengan cara paling menggemaskan sekalipun. Dan itulah yang terjadi.

***

FAUZAN memulai tulisannya di berandan Facebook dengan kalimat [kutipan]:

“Lah, cah bodo kok iso gambar apik banget..."

Apakah awal kalimat itu menjadi alasan sehingga Windi menjadi bintang panggung di Februari ini? Jawabannya silakan cari sendiri.

Bukan pertanyaan seperti itu yang sebenarnya ingin saya jawab dalam tulisan ini. Tapi soal mengapa banyak kecenderungan ‘para produsen’ pengetahuan menuliskan ‘stereotip’ atau prasangka sebelum membeberkan hal lain yang tampak lebih positif tentang seseorang. Terkhusus mengenai tulisan-tulisan tentang orang-orang yang kini dalam regulasi kita dilabeli sebagai “penyandang disabilitas”. Tulisan Ochan di dinding facebooknya seperti menyingkap tabir betapa keliru atau sempitnya cara pandang banyak orang terhadap difabel.

Saya melihat ‘panggung Windi’ sebagai bentuk budaya tontonan bagi para kaum “bertubuh sempurna” dan kaum yang “berpikir bahwa kesempurnaan tubuh adalah suatu keistemawaan”. Kebanyakan dari mereka sebenarnya adalah orang-orang sedang berada di atas angin bagi orang-orang seperti Windi dan beruntung tidak menjadi seperti Windi: miskin, difabel dan tersisih. Maka untuk menunjukkan betapa beruntungnya mereka adalah dengan menunjukkan sikap iba, belas kasih, dan simpati. Nyaris seluruh komentar itu memperlihatkan nada atau nuansa ketiganya.

Baiklah, saya tidak menampik bahwa akibat ekspresi iba, belas kasih dan simpati dari para ‘the abled bodies’ alias ‘para pemilik tubuh lengkap’ ini, ada keberuntungan yang diperoleh Windi. Tetapi dibalik keberuntungan itu, dan di balik rasa iba, belas kasih, dan simpati itu ada fenomena lain yang semakin memapankan cara berpikir yang disebut ‘ableism’. Yakni cara berpikir yang berangkat dari pikiran bahwa ‘kesempurnaan tubuh, mental dan intelektual’ itu adalah yang utama. Di luar ‘abled bodies’, yakni ‘the disabled’ adalah ketidakberuntungan.

Windi adalah sosok yang mewakili kelompok minoritas terbesar yang tidak beruntung itu. Banyak dari kalian menyematkan beragam label dan stereotip kepada orang-orang seperti Windi sebagai cacat, penderita, cah bodoh, dan seterusnya.

Tapi, saya menyebutnya difabel yakni ‘yang memiliki perbedaan kemampuan. Istilah difabel diproduksi dan masih terus direproduksi oleh aktivis gerakan disabilitas sejak tahun 1996. Istilah ini adalah lawan tanding dari ‘penyandang cacat’ atau ‘penderita cacat’ yang dipakai dalam regulasi sejak Republik ini berdiri. Difabel—akronim dari differently abled people atau dif-able yang diindonesiakan menjadi difabel. Difabel berbeda dengan ‘disable’ yang berarti (di)tidak-mampu(kan).

Sejak lama akademisi, kaum profesional dan aparatus negara mengulik dan berupaya memaknai tubuh manusia. Mereka berlomba-lomba memenangkan ‘makna’ paling tepat dalam mengategorikan manusia. Para kaum medik boleh berbangga hati karena cara pandangnya atas tubuh menjadi primadona selama ratusan tahun.

Sejak abad ke-18 sampai 1980-an tubuh kita sudah diklasifikasi berdasarkan penyakit pada manusia. Saban sekian tahun, klasifikasi itu direvisi berdasarkan perkembangan penyakit, kemajuan metode pengobatan dan obat-obat serta ragam model rehabilitasi medik. Klasifikasi ini disebut the International Classification of Diseases atau ICD (kini sudah belasan seri revisinya).

Pengetahuan terkait manusia dan masyarakat toh berkembang. Adalah seorang Sosiolog dari Mesir pada 1960-an yang menggoyahkan betapa kelirunya klasifikasi berdasarkan penyakit itu. Profesor Saad Nagi yang mengabdikan dirinya di Ohio State University menggugat bahwa ketidakmampuan seseorang tidaklah disebabkan oleh kondisi disfungsi tubuh, mental atau intelektualnya. Kontribusi terbesar pada penidakmampuan ‘orang dengan impairment’ ini justru datang dari cara orang-orang memperlakukannya dan cara mereka mendesain lingkungannya.

Desain kebijakan maupun infrastruktur dikerjakan oleh “orang-orang normal” yang lengkap dan berfungsi anggota tubuhnya sehingga hanya cocok untuk kaumnya sendiri. Pandangan Nagi inilah yang kemudian mengilhami perlawanan difabel atas overdosisnya cara pandang medik dipakai sebagai rujukan kemampuan seseorang—baik oleh negara maupun masyarakat. Sayangnya, sampai detik ini, cara pandang atau konstruksi pengetahuan tanding (berwatak sosial) belum mampu menggeser dominasi atau bahkan hegemoni cara pandang medik ‘kenormalan’ tadi.

Lihatlah bagaimana efek penerapan sistem atau desain pendidikan berbasis “tubuh normal” di sekolah Windi yang telah secara efektif berhasil menyingkirkan Windi dari kelasnya. Lihatlah bagaimana sejumlah orang tua ‘the abled bodies’ ini berhasil menularkan virus kenormalan ke anak-anak mereka dan-tanpa sadar-menjadikan anak-anak ini menjadi agen penyingkiran difabel seperti Windi melalui ejekan serupa dengan ucapan ‘cah bodoh’ yang diadopsi dari orang tua mereka.

Jadi, jika Windi akhirnya harus berhenti bersekolah dan menemukan sendiri bentuk kecerdasannya apakah kita hanya akan melihat fenomena itu sebagai blessing in disguise ataukah itu adalah sebentuk “perlawanan sehari-hari” Windi atas tekanan atau penindasan orang-orang the abled bodies di sekitarnya?

Ya, saya memang melihat fenomena ini sebagai sebuah relasi kuasa-pengetahuan antara ‘the abled bodies’ dan difabel. Banyak dari kalian juga adalah kaum ableist atau orang-orang yang menganut ableism. Perilaku kalian menunjukkan bagaimana cara berpikir kalian soal tubuh dengan standar kenormalan yang kalian adopsi mentah-mentah dari nenek moyang yang telah tertular virus itu.

Ya, itulah mengapa saya melihat fenomena Windi sebagai fenomena tontonan kaum ableist. Fenomena ini bukan sesuatu yang baru. Praktik dominasi pengetahuan berbasis kenormalan ini sudah lama berlangsung—dengan tentu saja di balik dominasi itu tetap ada upaya-upaya untuk menentangnya.

Tulisan ini tentu saja merupakan bagian dari upaya menantang kemapanan cara berpikir tersebut agar terbangun pemaknaan baru atas kondisi-kondisi yang dihadapi Windi dan difabel pada umumnya.

Saya akan sedikit berbagi cerita tentang bagaimana ‘kondisi perbedaan tubuh biologis’ dari orang kebanyakan, seorang difabel menjadi objek yang laris di dunia tontonan sirkus di masa lalu.

Dalam selembar poster di akhir abad ke-19 tertulis:

Behold! (red: Lihatlah!)

The Heartbreaking (red: Memilukan)

Hair-Raising Tale Of Freak Show Star Julia Pastrana (red: Hikayat Pertumbuhan Bulu, Pertunjukan Aneh dengan Bintang Julia Pastrana)

The Mexico’s Monkey Woman! (red: Si Monyet Perempuan dari Meksiko!)

Julia Pastrana lahir di tahun 1830-an di Meksiko. Ia memiliki Perbedaan Tubuh yang mencolok di masa itu. Tubuh kecil dan dipenuhi bulu atau rambut. Ia kemudian menjadi sensasi dunia di sepanjang tur sirkus di mana tubuhnya dipertontonkan di sejumlah negara di Eropa maupun Amerika Utara.

Bahkan, setelah ia meninggal beberapa saat setelah melahirkan putranya-yang terlebih dulu meninggal-di tahun 1860, seorang profesor bernama Sukolov dari Universitas Moscow membalsem jasad Julia dan putranya atas persetujuan suaminya—yang selama ini menikmati pendapatan dari pertunjukan sirkus Julia.

Suaminya kemudian membawa mumi Julia dan putranya kembali dalam tur sirkus berikutnya agar tetap dapat hidup dari "tubuh istri dan anaknya".

Artikel ini menunjukkan bagaimana kondisi tubuh seseorang menjadi dasar untuk menunjukkan keanehan dan karena lemahnya kuasa Juliana atas dirinya membuatnya menjadi alat eksploitasi untung mengeruk keuntungan finansial. Dalam alam pikiran yang memandang ‘keanehan’ bentuk tubuh itu, orang-orang pun rela membayarnya guna menikmati pertunjukan era kolonial tersebut.

Jika saat itu seorang buruh yang berpendapatan 600 ribu rupiah perminggu, maka ia akan menghabiskan setengahnya hanya untuk membeli satu tiket pertunjukan sirkus di mana Julia Pastrana dieksploitasi!

Adakah kalian melihat kemiripan bagaimana Windi diperlakukan saat ini di Media Sosial? (kalian boleh menjawabnya dengan tulisan).

Sebagai penutup, saya mau sampaikan, bahwa boleh jadi kalian sukses memberikan Windi seperangkat pensil warna ‘bermotif iklan terselubung’ dan menjanjikan desainnya dijual oleh desainer kondang, dan tentu uang saku.

Tetapi, selain pemberian itu, kalian juga telah menyematkan label-label negatif yang sungguh melimpah dan akan menambah follower bersama kaum ableist berikutnya. Saya berharap, melalui tulisan ini proses demedikalisasi difabel bisa berkurang dan pemaknaan baru atas difabel bisa lebih tumbuh dan membiak guna menantang rezim pengetahuan medik yang selama ini menjadi rujukan utama banyak orang dalam memahami realitas atau hakikat manusia.

Berikut sebagian saya paparkan di sini sejumlah label dan stereotip atas Windi yang semakin memperkuat stigma difabel. Tentu saja, selain soal perlawanan atas dominasi rezim pengetahuan medik, pelaku media yang tercerahkan bisa menjadi barisan subyek baru yang memperjuangkan hak-hak difabel yang lebih substantif ketimbang mengeksploitasi difabel melalui pemberitaan-pemberitaan berwatak ableist.

Berikut daftar judul beserta link berbagai informasi dari media-media tentang Windi:

 

 

*Penulis adalah Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) Sulawesi Selatan.

The subscriber's email address.