Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar: difabel netra sedang bekerja dengan komputeer bicara

Merancang Karir Bagi Difabel, Tips Sebelum Masuk Dunia Kerja

Ditulis oleh: Eka Pratiwi Taufanti, Sarjana Sastra Inggris dan pernah aktif berpartisipasi sebagai volenteer di organisasi difabel

Solider.id, Bangka - Sebagai bagian dari masyarakat, para difabel tentu saja memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan masyarakat nondifabel. Hak berkarir di dunia kerja, itulah salah satu hak yang juga dimiliki oleh difabel. Namun gambaran kontradiktif justru Nampak dari fenomena minimnya jumlah difabel yang mengakses lapangan pekerjaan. Kesempatan bagi mereka seolah-olah ‘disunat’. Lantas siapakah yang bertanggungjawab atas ketimpangan ini?

Pemerintah dan pelaku bisnis merupakan fihak yang bertanggungjawab atas hal ini. Banyak fihak yang menganggap bahwa pemerintah dan swasta penyedia lapangan kerja kurang mengakomodasi difabel untuk bisa mengakses lapangan pekerjaan. Tak ada yang salah dengan anggapan tersebut karena faktanya memang masih ada praktik penolakan dari sejumlah perusahaan  terhadap para pencari kerja difabel.

Namun, upaya internal dari diri difabelpun tak kalah penting dan   patut untuk dilakukan. Hal ini karena mengakses dunia kerja bukan semata-mata hanya mengajukan lamaran pekerjaan dan menunggu jawaban ‘Anda diterima’ atau ‘Anda ditolak’.

Upaya internal yang dapat dilakukan oleh difabel untuk menembus dunia kerja dapat dimulai dari titik ‘Merencanakan karir’. Proses merencanakan karir atau Career planning ini bukanlah suatu proses selangkah yang dalam sekejap mata dilakukan, melainkan ada beberapa tahapan yang perlu dilewati.

  1. Hidup secara mandiri

Bagi difabel yang ingin memasuki dunia kerja, ada baiknya memperkuat kemandirian. Meskipun tingkat kemandirian antara satu jenis difabel dengan difabel yang lain berbeda-beda, namun tidak ada salahnya untuk mencoba mempraktikkan beberapa point sebagai berikut:

  • Mandiri dalam mengurus diri dan segala hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri
  • Mandiri dalam mengakses lingkungan
  • Mandiri dalam mengerjakan tugas yang didelegasikan

Poin-poin tersebut ada baiknya dilakukan karena setiap penyedia pekerjaan mengharapkan pekerja yang mandiri. Bagi penyedia pekerjaan tersebut, pekerja yang tidak mampu mandiri di dalam mengurus dirinya sendiri dianggap tidak mampu mengelola pekerjaan di tempat kerja. Selain itu, difabel juga diharapkan mampu berkomunikasi dengan efektif dan mampu menyuarakan pendapatnya di lingkungan pekerjaan.

  1. Membekali diri dengan pembelajaran dan pendidikan

Yang dimaksud dengan pembelajaran disini adalah proses menyerap informasi baik dari kegiatan formal maupun informal yang diikuti. Pembelajaran yang harus dimiliki dapat diperoleh dari pengalaman pribadi, pengamatan terhadap lingkungan sekitar, berkegiatan bersama orang lain dan juga meningkatkan keterampilan.

Sementara itu, yang dimaksud dengan pendidikan dalam konteks ini adalah memperoleh pendidikan secara formal baik melalui jalur institusi pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi maupun training. Di tahap inilah, mengakses dan menyelesaikan pendidikan formal benar-benar terasa manfaatnya.

  1. Membidik pekerjaan

Tahap ini dapat juga dikatakan sebagai tahap yang penuh tantangan karena tahap ‘Membidik pekerjaan’ tidak hanya sekedar browsing dan memilih-milih lapangan pekerjaan. Proses yang justru harus dijalani oleh pencari kerja difabel pada tahap ini adalah menganalisis diri sendiri – skil dan kapabilitas apa sajakah yang dapat kita berikan kepada penyedia pekerjaan. Selain itu, pencari kerja difabel juga harus mampu meyakinkan pihak penyedia lapangan pekerjaan bahwa kita mampu dan layak untuk dipekerjakan.

  1. Mempersiapkan diri memasuki lingkungan pekerjaan

Sebelum memasuki dunia kerja secara nyata, tak ada salahnya jika pencari kerja difabel memiliki pandangan dini tentang atmosfer di dalam dunia kerja. Hal ini perlu dilakukan karena di lingkungan pekerjaan kelak, difabel membutuhkan penyesuaian akomodasi seperti penyediaan screen reader (pembaca layar) di komputer kantor dan lain-lain.

Itulah empat upaya internal yang dapat dilakukan pencari kerja difabel untuk mengupgrade diri sebelum memasuki dunia kerja. Mengharapkan pihak lain agar memperlakukan difabel dengan ‘Setara’ memang penting, akan tetapi semua itu menjadi pepesan kosong jika dari diri difabelpun belum menunjukkan kesiapan yang maksimal.

Oleh karena itu, faktor eksternal dan internal harus seimbang guna terciptanya partisipasi difabel di dunia kerja.  

The subscriber's email address.