Lompat ke isi utama
penerima beasisa studi singkat Australia Awards untuk DPO sedang berfoto bersama

Keramahan kota Sydney yang dirindukan; Refleksi atas Aksesibilitas Kota

Solider.id, Mamuju - Tidak terasa waktu 16 (enam belas) hari dari tangal 20 Januari sampai tanggal 4 Februari 2018 telah kami lalui di Sydney Australia. Kami  sudah kembali ke daerah masing-masing di Indonesia dengan kebanggaan sebagai alumni peserta Studi Singkat Short Term Award yang di adakan Australia Awards Indonesia (AAI) bekerja sama dengan Sydney South East Asia Centre (SSEAC) Universitas Sydney.

Kami sebanyak 19 (sembilan belas) orang dari berbagai organisasi difabel se-Indonesia, menjadi saksi bagaimana sebuah negara yang kompleksitas  budayanya  beragam dari seluruh dunia tetap mampu memberi ruang bagi siapa saja termasuk untuk untuk difabel. Hal itu terlihat dari kepedulian masyarakatnya terhadap difabel dan dari segi aksesibilitas yang  mengedepankan sarana yang sesuai dengan universal design (desain yang universal).

Menurut Surya Sahetapy salah satu peserta studi singkat dari Organisasi Gerkatin (Gerakan Kesejahteraan untuk Tunarungu Indonesia cabang DKI Jakarta mengungkapkan “Sebagai difabel Tuli, selama di kota Sydney aksesibilitas yang saya nikmati adalah bepergian naik kereta dan bus karena terdapat informasi secara visual, seperti tulisan dimana bis/kereta berhenti kemudian waktu boarding dan sebagainya, pokoknya komplit dan tidak membuat saya  nyasar dalam bepergian”.

Juga menurut aktifis difabel Tuli ini, “ Saya iri dengan teman-teman Tuli di Australia karena stasiun TV mereka menyediakan closed captioning (Semacam transkrip ucapan verbal di televisi) baik live (langsung)  maupun typing (rekaman), jadi pengetahuan serta pemerolehan informasi antara orang-orang Tuli dan orang-orang dengar setara.”

Sementara itu menurut Ajiwan Arief difabel netra (Low Vision) peserta perwakilan dari Organisasi Sigab Yogyakarta, “Kemana-mana saya sangat nyaman dan mudah dengan adanya trotoar yang akses dan ditambah dengan pemberian tongkat dari AAI yang di ujung tongkatnya ada bola-bola, itu sangat mempermudah saya untuk jalan dan mendeteksi kontur jalan yang berbeda. Saya juga merasa nyaman dan aman saat menyeberang jalan, Lampu merah juga sangat akses dengan adanya penunjuk nama jalan berhuruf braille dan huruf timbul   di tiang lampu merah”.

Ia juga menambahkan bahwa  ketika akan menyeberang,  adanya bunyi-bunyian sebagai tanda kapan aman untuk menyeberang dan kapan tidak aman untuk menyeberang. “jika tempo bunyinya lambat itu artinya kita belum diperbolehkan untuk menyebrang dan bila tempo bunyinya cepat itu artinya sudah aman untuk menyebrang".

Description: C:\Users\Asus\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\IMG-20180120-WA0015.jpg

Hal yang sama juga dirasakan Ni Made Dharmika S. peserta dari Organisasi Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sidoarjo Jawa Timur, menurutnya, “sebagai difabel saya sangat terkesan dengan aksesibilitas yang sangat terencana dan detail, setiap bangunan publik sudah memiliki ramp (bidang miring) yang aman dan nyaman, di jalan raya area trotoarnya selalu ada bagian yang landai  untuk menyebrang jalan, juga ada tombol untuk mengaktifkan tanda menyebrang. Tiap lampu merah, juga terdapat tanda visual berupa gambar orang berjalan warna hijau jika sudah diperbolehkan untuk menyebrang dan tanda suara yang berbeda saat boleh atau belum boleh untuk menyebrang”

Lebih lanjut menurut perempuan berkursi roda ini “Sarana transpotrasi umum seperti bus, taxi, kereta api dan ferry semua sudah menyediakan aksesibilitas yang aman dan nyaman, bahkan toilet umum yang tersedia di berbagai tempat, selalu ada yang aksesibel.”

 Difabel dapat menjalankan hidup secara mandiri dan bermartabat di Sydney. “Dengan kursi roda elektrik saya bisa menuju tempat kuliah sendiri, naik bus, kereta, ferry, berbelanja, ke taman dan ketempat wisata, semua kemandirian itu sebelumnya tidak pernah saya rasakan dan lakukann di Indonesia.”

Aktivis perempuan difabel ini juga menyampaikan. “Salut kepada aktivis difabel Australia yang hingga saat ini masih terus memperjuangkan hak-haknya, salut juga kepada pemerintah Australia yang sangat berkomitmen menjalankan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) untuk mewujudkan masyarakat yang inklusif, kemudian dibentuknya Panel Difabel yang menjadi mitra kerja pemerintah kota Sydney. bagi saya itu merupakan pengakuan atas kesetaraan hak manuasia.”

Nothing about us without us, implementasi terkait ke difabilitasan harus melibatkan difabel. [Shafar Malolo]

The subscriber's email address.