Lompat ke isi utama
Ini gambar tadi sore, saat keluarga tersangka melakukan konfrensi pers

Takdir Bantah Pernyataan Keluarga Satpol PP Tersangka Penganiayaan

Solider.id, Makassar- Sejumlah keluarga petugas Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP) kabupaten Bone yang saat ini berstatus tersangka penganiayaan, membantah telah terjadi penganiayaan terhadap, Andi Takdir, difabel kinetik.

Andi Risnawati, salah satu saudara dari tersangka Andi Baharuddin, Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban (Kasi Trantib) mengaku tidak ada penganiyaan kepada Andi Takdir di lapangan Merdeka Watampone pada 23 Desember 2017 lalu.

Meski Risnawati mengaku tidak berada di tempat saat kejadian berlangsung dan tidak melihat peristiwa itu saat terjadi. Tapi dia yakin tidak ada penganiayan setelah mendengar kata-kata dari SatPol PP yang kini ditetapkan tersangka pengeroyokan.

Menurut Risnawati, bila memang terjadi pengeroyokan harusnya wajah Takdir sudah bonyok. "Kalau misalnya pengeroyokan, jauh dari situ ya. Karena kalau pengeroyokan artinya kan mukanya bonyok. Padahal Andi Takdirnya tidak kenapa-kenapa. Kalau itu pengeroyokan mungkin mukanya tidak kembali normal, " kata Risna saat menggelar konferensi pers di Warkop de Journals, Makassar, Minggu, 28 Januari 2018.

Dari hasil dengar-dengar dari pelaku, kata Risna, tidak ada ditendangan, tidak ada ditamparan. "Menurut orangnya (Satpol PP) memang menendang tapi kena telapak kaki. Kemudian yang di belakang sempat diginiin kepalanya aja, gitu aja (bukan piting kepala korban). Kalau ditarik saya tidak tahu jelas ya tidak atau apa. Tapi kalo misalnya ada tindakan kekerasan tidak ada, " jelasnya.

Menurut Risna, saat kejadian Takdir dalam posisi duduk karena itu ditunjuk-tunjuk oleh Satpol PP. Selain Takdir, ternyata ada korban lain yang dianiaya dan wajah korban lainnya bonyok.

"Kemudian anggapan orang, Andi Takdir itu bonyoknya? bukan yang bonyok itu (korban) yang satu, yang sudah damai tidak ada masalah. Katanya ini pengeyorokan. Maksudnya bukan pengeroyokan juga sih, yang namanya pengamanan kan, pasti tidak turun dua orang, dia (Satpol PP) turun dua pleton (sekitar 40 orang). Andaikan dia (Takdir) mau dianiaya wajah tidak (bonyok) pulang, " jelas Risna. Dia juga membantah bila Takdir dianiaya di depan anaknya.

Risna juga mengakui bila memang ada hasil visum dari medis yang diserahkan kepada Polres Bone. Namun mereka membantah hasil visum itu "tidak ada memar-memar, " ujarnya.

Takdir yang dikonfirmasi juga membantah pengakuan Risnawati. Menurutnya, ia dikeroyok dan jumlahnya memang bukan dua pleton. Sebab dengan jumlah yang disebutkan Risna maka sebanyak itu pula yang mungkin akan ditangkap polisi.

"Seandainya rekaman video itu tidak terhalang oleh banyak orang (didepan orang yang merekam video), maka ada banyak orang yang tertangkap kamera yang menendang saya. Saya punya video, kalau dikasih singgah-singgah, kelihatan ada yang menendang saya dari samping dan kelihatan juga ada yang memukul saya dari belakang. Memang harus ditonton seksama jika ingin melihat semua, " ujarnya.

Menurut Takdir, itulah mengapa hanya tiga orang yang ditangkap polisi. Sebab hanya petugas Satpol PP tersebut yang masuk dalam rekaman video yang kini jadi bukti pengeroyokan di Polres Bone. Menurutnya jika mau ditelesuri dengan seksama pasti banyak yang dijadikan tersangka. "Betul yang mereka bilang (Andi Risnawati) jika dua pleton yang mengeroyoknya pasti saya bonyok. Tapi seandainya saat itu tidak banyak orang dan tidak ada Satpol PP lain yang melerai saya, saya pasti bonyok. Karena banyak orang yang relai saya jadi tidak bonyok," ungkap Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) dan NPC Bone ini.

Takdir juga menegaskan bila dalam video dan foto, anaknya berada didekatnya saat terjadi pemukulan. "Jelas ada di dalam video bahwa ada anak saya. Saya bantah, bila saya memancing situasi. Saya bantah dikatakan saya mabuk dan saya juga tidak mengeluarkan kata-kata kotor yang memancing situasi," ujarnya dalam siaran pers.

Polres Bone menetapkan lima pelaku penganiayaan di Lapangan Merdeka. Hanya saja dua di antaranya merupakan pelaku penganiayaan yang diselesaikan secara kekeluargaan.

Tiga lainnya menjadi tersangka kasus pengeroyokan Andi Takdir, yakni Andi Baharuddin (Kasi Trantibun), Andi Saharifuddin (Kasi Pengawasan Penegakan Perda), dan Andi Ahmad Aminuddin (honorer),  Mereka diancam Pasal 170 ayat 2 KUHP tentang pengeroyokan dengan ancaman 7 tahun penjara. Kasus ini juga tengah bergulir di Kejaksaan Negeri Bone. [Nur Syarif Ramadhan]

The subscriber's email address.